LombokPost-Dua pawai besar di penghujung Maret berpotensi beririsan. Malam takbiran umat Islam bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu.
Pemkot Mataram telah mengeluarkan surat edaran untuk mengatur kedua pawai agar berlangsung tertib, aman, dan harmonis. “Kebijakan ini untuk menjaga kondusivitas kota serta memperkuat toleransi antarumat beragama,” kata Kasatpol PP Kota Mataram Irwan Rahadi, Senin (3/3).
Ia menekankan pentingnya pelaksanaan pawai tanpa saling mengganggu. “Karena itu, ada beberapa aturan yang ditetapkan,” ujarnya.
Pemkot menetapkan pawai takbiran dilaksanakan di masing-masing kecamatan dengan pengawasan tim keamanan setempat.
“Waktu pelaksanaan dibatasi hingga pukul 24.00 WITA agar masyarakat dapat bersiap untuk salat Idul Fitri,” ujarnya.
Pawai juga tidak boleh melewati lingkungan yang sedang melaksanakan Nyepi. “Dilarang membunyikan petasan, mercon, atau membawa senjata tajam,” tegasnya.
Selain itu, kendaraan roda dua, tiga, dan empat dilarang digunakan untuk pawai takbiran keliling. Setiap kafilah wajib menjaga kebersihan dengan melibatkan petugas pemungut sampah.
“Salat Idul Fitri bisa dilakukan di masjid, musala, atau lapangan terbuka dengan tetap menjaga ketertiban,” tambahnya.
Pemkot mengimbau agar pawai Ogoh-Ogoh tetap berlangsung tertib dan damai. Perayaan diminta berlangsung sederhana dengan penyesuaian waktu, jumlah peserta, serta ukuran Ogoh-Ogoh.
“Peserta wajib menjaga ketertiban, tidak menggunakan pengeras suara, tidak membawa senjata tajam, minuman keras, petasan, atau benda berbahaya,” katanya.
Pawai Ogoh-Ogoh dibatasi dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA. Satuan pendidikan dilarang mengeluarkan Ogoh-Ogoh.
“Ukuran maksimal Ogoh-Ogoh ditetapkan 4 meter atau tidak melebihi ketinggian kabel listrik dan komunikasi,” jelasnya.
Peserta Ogoh-Ogoh juga harus berasal dari Kota Mataram. “Tradisi perang api diharapkan selesai sebelum pukul 17.30 WITA,” katanya.
Koordinasi dengan Aparat Keamanan
Pemkot meminta panitia takbiran maupun Ogoh-Ogoh berkoordinasi dengan aparat setempat. “Panitia harus berkoordinasi dengan RT, kepala lingkungan, lurah, camat, serta aparat kepolisian dan keamanan lainnya agar kegiatan berjalan aman dan harmonis,” tegasnya.
Sebelumnya, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang telah memimpin rapat koordinasi dengan kepolisian dan TNI untuk mengantisipasi irisan kedua pawai ini. Ia mengimbau masyarakat ikut menjaga keamanan.
“Kami juga terbuka untuk warga luar daerah yang ingin menyaksikan pawai,” ujarnya. Namun, kehadiran mereka diharapkan membawa dampak positif, baik untuk interaksi sosial maupun kepentingan usaha.
Dalam memastikan keamanan, Polresta Mataram akan memimpin koordinasi, didukung TNI dan Garnisun Mataram. Pemkot juga mengerahkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan Dinas Lingkungan Hidup.
“Posko presisi terpadu di Jalan Udayana juga diaktifkan untuk deteksi dini dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya. (zad/r7)
Editor : Pujo Nugroho