LombokPost-Harga cabai lokal tengah melonjak. Per kilogram dihargai Rp 210.000. Kenaikan harga ini disebabkan berbagai faktor, termasuk stok yang menipis akibat gagal panen serta meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadan. Di samping itu, ada pengaruh inflasi dan alur pasokan di pasar.
“Cabai lokal lebih mahal, mencapai Rp 210.000 per kilogram, sementara cabai dari Jawa atau cabai impor masih berada di kisaran Rp 160.000 per kilogram,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Uun Pujianto, kemarin (3/3).
Ia tak menampik, inflasi menjadi penyebab harga cabai naik. Harga yang tinggi ini juga telah mempengaruhi respons pedagang terhadap penyiapan stok.
“Pedagang pun enggan menyimpan stok dalam jumlah besar karena harga yang terus naik,” terangnya.
Upaya Pemerintah Stabilkan Harga
Namun, Uun menegaskan pihaknya tak berpangku tangan. Dinas Perdagangan Kota Mataram tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan pusat, menstabilkan harga cabai agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menggelar pasar murah atau bazar. “Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengadakan pasar murah mulai hari ini hingga 26 Maret 2025,” ucapnya.
Uun mengatakan, dengan adanya pasar ini, masyarakat bisa mendapatkan cabai dengan harga yang lebih wajar. “Sudah mulai berlangsung per hari ini (kemarin, Red),” terangnya.
Pasar murah ini berlangsung hampir satu bulan lamanya. Lokasi yang pertama kali digelar yakni halaman kantor Lurah Taman Sari, Ampenan pada Senin, 3 Maret 2025 kemarin. Kemudian hari ini di lapangan Kelurahan Banjar, Ampenan.
Selain itu, pihaknya juga terus berupaya memantau distribusi cabai, terutama dari daerah penghasil utama seperti Lombok Timur dan Lombok Tengah. “Wilayah-wilayah ini merupakan pemasok terbesar cabai ke Kota Mataram,” ucapnya.
Hanya saja, kenaikan harga cabai juga disebabkan aksi para pengepul yang lebih memilih menjual ke luar daerah dengan harga lebih tinggi, “Sehingga stok untuk pasar lokal berkurang,” ungkapnya.
Dinas Perdagangan, mendorong masyarakat mulai menanam cabai di pekarangan rumah sebagai solusi jangka panjang. “Kami telah mengkampanyekan program penanaman cabai di rumah-rumah warga bersama PKK dan berbagai organisasi. Ini bisa menjadi solusi agar kita tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar,” katanya.
Kenaikan harga cabai yang signifikan ini berdampak besar pada masyarakat, terutama pedagang kecil dan rumah tangga yang mengandalkan cabai sebagai bahan pokok. Banyak pedagang di pasar yang hanya berani menyimpan stok dalam jumlah kecil, sekitar 4 kilogram per hari untuk menghindari risiko kerugian akibat harga yang terus berubah.
Dinas Perdagangan memastikan, akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik. “Kami berharap harga cabai bisa segera stabil, stok tetap terjaga, dan daya beli masyarakat tidak terganggu, terutama menjelang bulan Ramadan,” tutup Uun Pujianto.
Uun menekankan yang terpenting saat stok tetap ada. Adapun kenaikan harga yang terjadi ditekankan sebagai respons sesaat atas permintaan yang meningkat.
“Biasanya nanti akan perlahan melandai, saat musim panen cabai tiba,” ucapnya.
Kepala Pasar Nilai Kenaikan Wajar
Sementara itu, harga cabai di Pasar Dasan Agung, Kota Mataram, juga terpantau naik. Untuk cabai impor di harga Rp 160 ribu/kg.
Kepala Pasar Dasan Agung Ahmad Amin menyatakan, kenaikan ini merupakan fenomena yang biasa terjadi menjelang bulan Ramadan. “Ya, ini biasa terjadi. Setiap bulan puasa, harga kebutuhan pokok, termasuk cabai, pasti naik,” ujar Ahmad Amin saat dikonfirmasi.
Ahmad Amin menyebutkan, harga cabai sangat fluktuatif di pasaran dan bisa berubah setiap saat. Sementara untuk komoditi lain, relatif stabil.
Ahmad Amin menyebutkan, harga daging masih berada di kisaran Rp 120.000 hingga Rp 130.000/kg. “Untuk daging, harganya masih stabil, tidak ada lonjakan signifikan,” jelasnya.
Sementara itu, harga tomat mengalami kenaikan, meskipun tidak sebesar cabai. “Tomat juga ada kenaikan harga, tapi tidak setinggi cabai,” tambahnya. (zad/r7)
Editor : Rury Anjas Andita