Di tengah meningkatnya kebutuhan pakan dan pengelolaan limbah organik, Mataram Maggot Center (MMC) hadir sebagai solusi. Pusat produksi pakan ini terus berkembang dan kini berupaya diintegrasikan dengan TPST Modern Sandubaya.
Mataram
MAGGOT atau larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), telah menjadi alternatif pakan unggulan bagi peternak ikan dan unggas. Namun, perjalanan MMC dalam memenuhi permintaan pasar tak selalu mulus.
Mengadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca hingga ketersediaan pakan maggot membuat tempat berproduksi ini terus tumbuh berkembang. “Ya kita menghadapi fluktuasi hasil dalam beberapa bulan terlahir,” kata Direktur MCC Kota Mataram Kamarudin, kemarin (5/3).
Ia tak menampik tantangan untuk membesarkan usaha maggot muncul dalam bebrspa bulan terakhir. Namun, Kamarudin meyakinkan berbagai persoalan ini meneguhkan dan membuat tempat ini tumbuh semakin besar.
“Kalau yang akhir-akhir ini memang kita sedang drop,” ungkapnya.
Produksi maggot di Kebon Talo mencakup telur, baby maggot (larva muda), serta proses pemeliharaan maggot.
“Hasilnya didistribusikan ke berbagai sektor, termasuk petani ikan dan peternak ayam,” terangnya.
Sejak Juli 2024, produksi maggot di MMC sebenarnya menunjukkan peningkatan. “Produksi memang banyak, cuma kebanyakan telur dan baby-nya dibawa ke TPST Modern,” ujarnya.
Artinya, sebagian besar hasil produksi justru dialokasikan untuk kebutuhan lain, sehingga pasokan Kebon Talo sendiri masih kurang. Namun Kamarudin mengatakan, upaya ini bagian dari langkah pengintegrasian untuk membuat produksi maggot di Kota Mataram semakin besar.
Di awal operasionalnya, MMC mampu menghasilkan 100-150 kilogram maggot per hari. “Distribusi utama kita selama ini ke petani ikan dan petani ayam,” jelasnya.
Namun, meskipun produksi meningkat, permintaan di pasar masih jauh lebih tinggi. “Sekarang ini lebih banyak permintaan pasar. Harusnya kita bisa produksi lebih banyak,” lanjutnya.
Permintaan maggot di pasar mencapai 200 kilogram per hari, dengan pelanggan yang bervariasi. “Ada yang minta 30 kilo, ada yang 40, ada yang 50, macam-macam. Kalau di total lebih dari 150-200 kilo per hari,” katanya.
Meskipun produksi maggot memiliki potensi besar, MMC masih menghadapi tantangan utama dalam penyediaan pakan dan kondisi cuaca. “Kendala pertama itu pakan. Pakan kita yang kurang bagus dan cuaca. Akhir-akhir ini kan ekstrim, hujan, angin, terlalu dingin,” jelas Kamarudin.
Siklus hidup maggot sangat bergantung pada kondisi lingkungan. “Kalau lalatnya kurang produktif, otomatis telur dan baby akan kurang,” tambahnya.
Dalam ekosistem BSF, lalat dewasa harus bertelur secara optimal untuk menjaga ketersediaan larva. Cuaca yang dingin membuat lalat menjadi pasif, sedangkan cuaca panas meningkatkan agresivitas mereka dalam bertelur.
“Kalau panas, lalatnya agresif untuk kawin maupun bertelur. Kalau dingin, jadi mager (malas gerak, Red),” jelasnya.
Ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kestabilan produksi. “Terutama saat musim hujan atau suhu rendah melanda,” ucapnya.
Permintaan maggot di pasar juga mengalami fluktuasi tergantung pada siklus produksi peternak. “Ketika dia sudah panen, permintaannya kurang. Tapi begitu dia nebar (bibit) baru permintaan tinggi,” ungkapnya.
Dalam kondisi ini, manajerial hasil produksi sangat penting, termasuk bagaimana mengemas agar hasil pakan maggot bisa bertahan lebih lama. MMC dituntut dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mencari solusi terhadap tantangan pakan dan cuaca.
“Memang kita butuh inovasi pengaturan suhu dan kelembaban lingkungan produksi, karena kunci menjaga stabilitas siklus hidup BSF,” ucapnya. (bersambung/LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Akbar Sirinawa