LombokPost-Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan manusia silver yang beraktivitas di sejumlah lampu merah. Meski tidak mengganggu langsung, keberadaan mereka dinilai bertentangan dengan status Mataram sebagai Kota Layak Anak (KLA), yang mengedepankan perlindungan dan kesejahteraan anak.
Anggota Satgas Dinas Sosial Kota Mataram Siti Aisyah terus memantau aktivitas manusia silver di simpang empat Dasan Cermen. “Mereka jumlahnya tiga orang,” katanya, Selasa (11/3).
Setelah ditelusuri, ketiganya diketahui bukan warga Mataram, melainkan berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Mereka mengaku memilih pekerjaan ini karena menguntungkan secara pendapatan.
“Kalau mereka memang menghadapi persoalan ekonomi, ada bagian di dinas yang membantu. Tapi ternyata mereka bukan warga Mataram,” ujarnya.
Aisyah mengungkapkan pihaknya telah berupaya menegur para remaja tersebut terkait status kota dan keselamatan mereka. Namun, mereka selalu berpindah ke lokasi lain.
“Sepertinya mereka mendapatkan pendapatan cukup besar, makanya selalu menghindar saat akan dibina,” ucapnya.
Sesuai arahan pimpinan, Aisyah menegaskan keberadaan manusia silver harus ditertibkan. Mataram memiliki aturan tegas terhadap aktivitas yang mengarah pada eksploitasi anak.
“Baik secara langsung maupun tidak langsung,” katanya saat melakukan pemantauan.
Pemkot melalui Dinsos telah melarang aktivitas yang melibatkan anak-anak dan remaja dalam pekerjaan berpotensi eksploitasi. Sebagai solusi, pemerintah menyiapkan skema bantuan sosial bagi keluarga yang benar-benar mengalami kesulitan ekonomi.
“Kami sudah menyiapkan bantuan bagi keluarga miskin. Jika mereka benar-benar dalam kondisi sulit, ada program bantuan yang bisa diakses,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Lalu Samsul Adnan.
Anak jalanan (anjal) dan gelandangan pengemis (gepeng) juga dilarang beraktivitas di jalan karena membahayakan keselamatan mereka. Pemkot telah menyiapkan program pembinaan agar mereka bisa meningkatkan ekonomi melalui pelatihan yang diberikan.
Fenomena manusia silver tidak hanya terjadi di Mataram, tetapi juga di kota-kota besar lainnya. Namun, sebagai kota yang berkomitmen terhadap perlindungan anak, Mataram berusaha mencegah anak-anak dan remaja terlibat dalam pekerjaan yang tidak layak dan berisiko.
“Kami akan terus melakukan pemantauan dan edukasi, baik kepada mereka yang terlibat maupun kepada masyarakat. Harapannya, tidak ada lagi anak-anak atau remaja yang terpaksa bekerja di jalanan karena ini berdampak buruk bagi masa depan mereka,” tegasnya.
Saat Lombok Post mencoba mewawancarai manusia silver di simpang empat Dasan Cermen, mereka langsung menghindar dan menjauh tanpa memberikan komentar. Dinas Sosial berencana berkoordinasi dengan Satpol PP dan kepolisian guna menertibkan praktik ini. Pemkot juga mengimbau masyarakat agar tidak memberikan uang kepada manusia silver di jalan, karena dapat memperpanjang keberadaan mereka dan mendorong lebih banyak anak serta remaja melakukan hal serupa. (zad/r7)
Editor : Akbar Sirinawa