Di balik tembok Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah, Hasanudin tak sekadar mengajarkan seni hadrah. Ia menanamkan nilai-nilai kehidupan, membimbing anak-anak binaan menemukan harapan baru melalui lantunan salawat dan irama rebana. Hadrah Jadi Sarana Membentuk Akhlak.
-------------------------
Di atas panggung Ngabuburit Jeruji beberapa waktu lalu, lantunan sAalawat menggema, berpadu dengan tabuhan rebana yang syahdu. Di balik tembok Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Lombok Tengah, Hasanudin, seorang pria bersenyum teduh, dengan sabar mengajarkan seni hadrah kepada anak-anak yang tengah menjalani masa pembinaan. Lebih dari sekadar melatih teknik bermusik, ia menyelami hati mereka, menjadikan seni sebagai bagian dari upaya pembinaan.
"Yang ikut hadrah ada 10 anak, tapi yang bisa tampil di luar hanya 7. Mungkin yang 3 lainnya memiliki kasus yang lebih kompleks," tutur Hasanudin, pembina hadrah yang juga mengajar di Pondok Pesantren Al Islah, Tanak Beak, Lombok Tengah.
Selama dua bulan terakhir, Hasanudin melatih mereka untuk tampil di acara Kampung PAS, Mataram. Setiap Sabtu sore, selama satu hingga dua jam, ia membimbing mereka dengan penuh kesabaran.
"Anak-anak ini sebenarnya cepat belajar. Tapi kadang, saat sudah lancar, ada yang keluar, jadi kami harus mulai lagi dari awal," katanya.
Tantangan terbesar bukan pada teknik bermusik, melainkan karakter dan dinamika anak-anak. Dari 42 anak binaan berusia 14 hingga 18 tahun, tidak semuanya tertarik pada hadrah. Ada yang lebih memilih kegiatan lain. Ada juga yang sulit diatur, terutama mereka yang lebih besar atau yang sebelumnya sudah bebas.
"Agak susah diatur, mungkin karena faktor usia. Kalau sudah terlalu sulit, biasanya dipindahkan ke lapas dewasa," ucapnya.
Namun, di balik itu semua, Hasanudin melihat potensi besar dalam diri mereka. Ia ingin seni hadrah menjadi jalan bagi mereka untuk mengembangkan bakat, sekaligus mencegah mereka mengulangi kesalahan yang sama setelah bebas.
"Rata-rata kasus mereka adalah kasus seksual, pencurian, dan narkoba," jelasnya.
Lebih dari sekadar melatih hadrah, Hasanudin dan para pembina berupaya memberikan bekal hidup kepada anak-anak ini. Banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga broken home, kurang perhatian, atau tinggal bersama neneknya. Lingkungan pergaulan yang salah sering kali menjadi penyebab mereka tersesat.
"Kami selingi latihan dengan pemahaman bagaimana bersikap baik saat kembali ke masyarakat," tuturnya.
Bagi Hasanudin, hadrah bukan sekadar seni, melainkan juga sarana pembentukan akhlak. Ia menanamkan nilai-nilai moral melalui setiap lantunan salawat dan gerakan hadrah.
"Kami ajarkan mereka pentingnya menghormati orang lain, bersikap sopan, dan menjauhi perbuatan tercela," ucapnya.
Setiap syair salawat yang dilantunkan membawa pesan kebaikan, cinta kasih, dan keteladanan Rasulullah SAW. Melalui hadrah, anak-anak belajar mengendalikan diri, melatih kesabaran, dan memperkuat rasa kebersamaan.
"Gerakan hadrah yang kompak melatih mereka bekerja sama dan saling menghargai. Kami ingin mereka belajar bahwa kekuatan terletak pada persatuan," katanya.
Oleh karena itu, Hasanudin menekankan pentingnya memilih lingkungan dan teman yang positif. "Kami ajarkan mereka bagaimana menempatkan diri dan bergaul dengan baik," katanya.
Selain hadrah, LPKA juga menyediakan kegiatan pramuka dan belajar mengaji bagi anak-anak yang belum lancar.
Hasanudin bersyukur bisa menjadi bagian dari proses pembinaan ini. Dengan sentuhan seni hadrah dan nilai-nilai moral yang ditanamkan, ia berharap bisa memberikan warna baru dalam kehidupan anak-anak di LPKA Lombok Tengah. Ia percaya, setiap anak memiliki potensi untuk berubah dan menjadi lebih baik.
"Pembina di LPKA ini ramah. Masuk ke sini rasanya seperti masuk pesantren, bukan lapas," tandasnya. (SANCHIA VANEKA/r7)
Editor : Prihadi Zoldic