LombokPost-Akhir Maret 2025 akan ada dua pawai besar yang berdekatan waktunya, yakni pawai ogoh-ogoh dalam rangka Hari Raya Nyepi dan pawai takbiran menyambut Idul Fitri 1446 Hijriah. Dua gawe besar ini berpotensi menimbulkan sampah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menyiapkan strategi khusus, untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah selama dua acara tersebut. Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi mengatakan, pihaknya telah mengatur pola tugas petugas kebersihan agar sampah dapat ditangani secara efisien.
“Ini tantangan cukup berat bagi teman-teman DLH, terutama karena situasi ini bertepatan dengan bulan Ramadan,” ujar Denny.
Pawai ogoh-ogoh dijadwalkan pada 28 Maret 2025, dari siang hingga sore, sementara pawai takbiran digelar malam harinya. Untuk pawai takbiran, pembersihan akan dimaksimalkan hingga pukul 03.00 Wita agar petugas kebersihan dapat merayakan Idul Fitri di pagi hari.
“Namun, kami sudah menyiapkan skema di mana petugas akan bergerak di belakang peserta pawai, langsung menyisir sampah yang jatuh,” terangnya.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, setiap pawai menghasilkan sekitar 4 ton sampah. Dengan dua pawai besar yang berlangsung berdekatan, DLH memprediksi peningkatan signifikan dalam volume sampah.
“Jika dua pawai ini berlangsung bersamaan, tentu volume sampah akan meningkat,” tambah Nizar.
Untuk mengatasi hal ini, DLH Kota Mataram mengerahkan 50 petugas kebersihan dari berbagai wilayah. Petugas akan dibagi tugas untuk mengawal pawai di enam kecamatan di Kota Mataram.
“Kami akan menempatkan petugas dari wilayah lain untuk memaksimalkan kebersihan. Petugas di daerah dengan volume sampah lebih sedikit akan dialihkan ke lokasi acara, bukan dari Cakranegara,” tambahnya.
Selain itu, DLH akan membagikan kantong kuning kepada peserta pawai guna mengurangi sampah yang tercecer. “Kantong-kantong ini akan kami bagikan, baik saat ini maupun saat pawai ogoh-ogoh,” kata Denny.
Petugas kebersihan akan mengawal pawai dari belakang, langsung memungut sampah yang tercecer. DLH memastikan kebersihan menjadi prioritas utama pasca-pawai. Penempatan petugas akan disesuaikan dengan potensi volume sampah di setiap lokasi.
“Pembagian petugas akan menjadi perhatian utama. Kami tidak akan menyamaratakan jumlah personel, tetapi menyesuaikan dengan lokasi yang berpotensi menghasilkan sampah lebih banyak,” tandasnya.
Pemkot Mataram telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 100.3.4.3/1121/SETDA/II/2025 tentang Pelaksanaan Kegiatan di Bulan Suci Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, Lebaran Ketupat Tahun 1446 H, serta Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.
Asisten I Pemkot Mataram Lalu Martawang menegaskan toleransi menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan di kota ini. “Kita sudah memiliki kesepahaman bersama. Begitu pula saat umat Hindu menjalankan Tapa Brata, maka rute dan lokasi pawai obor Idul Fitri juga akan kita sesuaikan,” ujarnya.
Beberapa penyesuaian dilakukan terkait pawai ogoh-ogoh. Waktu pawai dibatasi dari pukul 09.00 Wita hingga 16.00 Wita, sementara tinggi ogoh-ogoh maksimal 4 meter agar tidak mengganggu infrastruktur. Peserta pawai harus berasal dari wilayah administratif Kota Mataram, dan acara "Perang Api" harus selesai sebelum pukul 17.30 Wita.
Pemkot Mataram juga melarang peserta pawai membawa senjata tajam, petasan, minuman keras, dan benda berbahaya lainnya. Sekolah tidak diperbolehkan mengeluarkan ogoh-ogoh untuk pawai.
Panitia diimbau berkoordinasi dengan aparat setempat, termasuk RT, kepala lingkungan, lurah, camat, kepolisian, dan kelompok pengamanan masyarakat agar perayaan berlangsung aman dan lancar. (chi/r7)
Editor : Prihadi Zoldic