Pasar murah di Perumahan TNI Gebang, Mataram, menjadi oase di tengah tingginya harga pangan. Ibu-ibu hingga anggota TNI berbaur, mencari selisih rupiah yang berarti menjelang hari raya.
---------------------------------
Suasana di Perumahan TNI Gebang, Mataram, pagi itu berbeda. Ramai oleh ibu-ibu, bapak-bapak, dan anggota TNI yang berbaur menjadi satu. Mereka bukan untuk latihan atau apel, melainkan berburu harga murah di Gerakan Pasar Murah (GPM).
Fitri, seorang ibu rumah tangga yang tinggal jauh dari kota, menyempatkan diri datang ke pasar murah sebelum berangkat kerja. Ia sibuk membandingkan harga tomat di tangannya dengan harga di pasar biasa.
"Katanya murah, tapi bedanya cuma dua ribu sampai lima ribu rupiah," gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Meski selisihnya tak besar, Fitri tetap semangat berbelanja. Baginya, setiap rupiah berharga, apalagi menjelang Lebaran. Ia dan ibu-ibu lain teliti memantau harga komoditas, mulai bawang merah, cabai, hingga minyak goreng.
"Bawang merah seperempat kilogram di sini enam belas ribu rupiah, lumayan lebih murah," katanya sambil memasukkan bawang ke kantong belanjaannya. "Cabai ada yang dua puluh ribu, ada yang dua puluh delapan ribu. Katanya yang mahal lebih pedas, tapi buat saya sama saja."
Minyak goreng MinyaKita menjadi primadona di GPM kali ini. Meski sempat diisukan tidak sesuai takaran dan dioplos, minyak goreng kemasan sederhana itu tetap diburu. Seorang distributor dari PT Rajawali Nusindo sibuk melayani pembeli, menjelaskan bahwa Minyakita yang mereka jual telah dicek dan sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp15.700 per liter.
"Kami langsung cek waktu barang datang, jadi aman," ujarnya sambil tersenyum kepada seorang ibu yang ragu-ragu. "Minyakita ini memang banyak dicari, apalagi harganya terjangkau."
Di tengah keramaian, ibu-ibu Persit (Persatuan Istri Tentara) juga ikut berbelanja. Mereka tampak akrab dengan ibu-ibu warga sipil, bertukar informasi tentang harga dan kualitas barang. Suasana pasar murah ini hangat dan penuh kebersamaan. Tawa dan canda sesekali terdengar, menciptakan suasana yang menyenangkan.
"Lumayan, bisa dapat harga lebih murah dari pasar. Apalagi sebentar lagi Lebaran, semua harga pasti naik," kata seorang ibu sambil menghitung uang receh untuk membayar tray telur.
Sementara itu, di Pasar Pagesangan, harga kebutuhan pokok justru merangkak naik. Siti, seorang pedagang, mengatakan harga cabai rawit naik menjadi Rp120 ribu per kilogram, cabai keriting Rp50 ribu per kilogram, dan bawang merah Rp45 ribu per kilogram.
"Harga daging sapi juga naik, sekarang seratus tiga puluh ribu rupiah per kilogram," keluhnya. "Telur ayam, daging ayam, tomat, bawang putih, gula pasir, dan minyak goreng curah juga ikut naik."
Siti memprediksi kenaikan harga akan terus berlanjut hingga Lebaran. Hal ini menjadi kekhawatiran bagi ibu-ibu seperti Fitri, yang harus cermat mengatur keuangan rumah tangga.
"Kalau harga terus naik begini, bingung juga mau masak apa," ujar Fitri sambil menghela napas. "Untung ada pasar murah, lumayan bisa menghemat sedikit."
Meski selisih harga di GPM tak terlalu signifikan, keberadaan pasar murah ini tetap membantu meringankan beban masyarakat. Bagi ibu-ibu seperti Fitri, setiap penghematan berarti, apalagi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus terjadi. GPM menjadi oase kecil di tengah lonjakan harga.
"Semoga pasar murah ini bisa terus diadakan, apalagi menjelang hari-hari besar seperti Lebaran," harap Fitri sambil tersenyum. "Setidaknya, kami bisa sedikit bernapas lega.” (SANCHIA VANEKA/r7)
Editor : Prihadi Zoldic