Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lebaran Topat, Makam Bintaro: Harmoni Tradisi dan Toleransi

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 7 April 2025 | 18:10 WIB
KETUPAT AGUNG: Sajian ketupat agung saat momen Lebaran Topat di Makam Bintaro, dengan tema Masjid Ceng Ho, Senin (7/4/2025)
KETUPAT AGUNG: Sajian ketupat agung saat momen Lebaran Topat di Makam Bintaro, dengan tema Masjid Ceng Ho, Senin (7/4/2025)

LombokPost--Mentari pagi perlahan menyapu langit Ampenan.

Di kawasan Makam Bintaro, ribuan masyarakat mulai berdatangan, membawa ketupat, sajian khas, dan semangat silaturrahmi.

Di sinilah denyut budaya Lebaran Topat kembali mengalir, menjadi harmoni antara keagamaan, sejarah, dan keberagaman.

“Ini sesuai dengan semangat ‘satu sampan’ – silaturahmi masyarakat Ampenan,” kata Camat Ampenan Muzakir Walad, Senin (7/4/2025). 

Wisata Religi, Warisan Sejarah

Tema besar Lebaran Ketupat di Makam Bintaro Ampenan tercermin dari ketupat agung yang disajikan.

Sebuah ketupat besar yang disajikan dengan latar miniatur Masjid Ceng Ho – khas budaya Tiongkok yang terasa.

Muzakir mengatakan, kawasan Makam Bintaro bukan sekadar lokasi ziarah, melainkan titik penting dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Lombok.

Ia menyebut tiga titik spiritual: Loang Baloq, Makam Bintaro, dan Batulayar, yang diyakini sebagai jalur dakwah para penyebar Islam tempo dulu.

“Dulu itu belum ada jalan darat, jadi para tokoh agama menyebarkan Islam lewat jalur pantai. Ini seperti safari religi,” ujarnya.

Bahkan, di bulan-bulan tertentu seperti Safar, rombongan peziarah dari luar daerah seperti Sidoarjo dan Banyuwangi datang ke Lombok mengikuti napak tilas perjalanan spiritual ini. “Mereka menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tujuan utamanya,” terangnya.

Menurut Muzakir, tradisi ziarah dan perayaan Lebaran Topat ini menyatu dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Makna lebaran topat bukan hanya tentang makanan. Ia adalah simbol silaturrahmi, pembersihan diri, dan pertemuan antara budaya dan agama,” ungkapnya.

Masjid Ceng Ho: Simbol Toleransi dari Tionghua Muslim

Yang menarik dari Lebaran Topat kali ini adalah sorotan pada miniatur Masjid Ceng Ho yang melatari topat agung.

Sebuah masjid dengan arsitektur khas Tionghoa yang dibangun tokoh muslim keturunan Tionghoa.

“Masjid ini menjadi tema kali ini, setelah pada Lebaran Topat yang dulu kita pakai tema Masjid Bayan, menegaskan bahwa dari dulu, Ampenan adalah wilayah yang plural, berisi beragam etnis, budaya, dan agama. Tapi tidak pernah jadi masalah, justru jadi kekuatan,” terangnya.

Ia menjelaskan, tema Masjid Ceng Ho ini merupakan manifestasi dari semangat “Satu Sampan”, jargon khas Kecamatan Ampenan.

“Satu Sampan artinya, walau kita berbeda, kita berada dalam perahu yang sama. Sama-sama mendayung, sama-sama menjaga keseimbangan,” katanya.

Lebaran Rakyat, Ekonomi Bergerak

Lebaran Topat tak hanya menyentuh sisi spiritual dan budaya. Di sisi lain, perputaran ekonomi kecil masyarakat tampak hidup.

Sepanjang jalur menuju Makam Bintaro dan pantai Ampenan, deretan pedagang kaki lima, penjual jajanan, hingga penyewa wahana laut meramaikan suasana.

Pemkot pun telah menyiapkan skema lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Wali Kota Mataram bahkan menolak disambut di pinggir jalan demi menghindari kemacetan.

“Beliau selalu masuk ke dalam agar tidak mengganggu arus kendaraan. Ini bentuk kepekaan beliau,” ujarnya.

Pesan untuk Menjunjung Tinggi Keberagaman

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, menekankan tradisi Lebaran Topat adalah warisan budaya dan spiritual yang harus dijaga dan dikemas dengan baik.

Ia berharap tradisi inj semakin mengakar luas, sebagai ikon Kota Mataram.

“Lebaran Topat ini bukan eksklusif untuk yang puasa saja. Yang puasa satu hari pun boleh ikut lebaran. Semua boleh bergembira,” ucapnya dengan semangat.

Martawang, menitipkan pesan kepada aparat dan masyarakat untuk tetap menjaga keamanan, terutama di kawasan pantai yang akan menjadi pusat keramaian usai acara.

“Jangan ada yang ketinggalan anaknya di pantai. Dan jangan juga ada yang ketinggalan kekasihnya di perahu yang kita naiki bersama dalam satu sampan,” katanya, disambut gelak tawa hangat.

Ia menegaskan, pemkot akan terus meningkatkan kualitas perayaan ini, agar Lebaran Topat tetap relevan sebagai agenda religius dan budaya. “Ini bukan sekadar seremoni, ini refleksi identitas kota,” tegasnya.

Filosofi Kupat: Dari Hati Nurani ke Silaturahmi 

Tak lengkap membahas Lebaran Topat tanpa mengupas makna kupat. Dalam filosofi, kupat berasal dari kata “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan.

Nasi yang dibungkus janur itu melambangkan nafsu yang dibungkus oleh hati nurani—janur sebagai simbol kesadaran.

“Helai demi helai janur yang teranyam rapi menggambarkan silaturrahmi yang erat. Kupat itu bukan cuma makanan, tapi doa, maaf, dan ikatan batin,” ucapnya. (zad)

 

 

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #Ampenan #Lebaran Topat #Makam Bintaro