LombokPost-Mentari pagi perlahan menyapu langit Ampenan. Di kawasan Makam Bintaro, ribuan warga mulai berdatangan membawa ketupat, aneka sajian, dan semangat silaturahmi.
Denyut budaya Lebaran Topat kembali terasa, memadukan nilai keagamaan, sejarah, dan keberagaman.
“Ini sesuai dengan semangat ‘satu sampan’ – silaturahmi masyarakat Ampenan,” kata Camat Ampenan Muzakir Walad, Senin (7/4).
Tema utama Lebaran Topat di Makam Bintaro tercermin dari kehadiran ketupat agung yang disajikan dengan latar miniatur Masjid Cheng Hoo, menampilkan nuansa khas budaya Tionghoa.
Muzakir mengatakan kawasan Makam Bintaro bukan sekadar lokasi ziarah, tetapi bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di Lombok.
Ia menyebut tiga titik spiritual: Loang Baloq, Makam Bintaro, dan Batulayar sebagai jalur dakwah para ulama masa lalu.
“Dulu itu belum ada jalan darat, jadi para tokoh agama menyebarkan Islam lewat jalur pantai. Ini seperti safari religi,” ujarnya.
Pada bulan-bulan tertentu seperti Safar, rombongan peziarah dari luar daerah seperti Sidoarjo dan Banyuwangi datang ke Lombok mengikuti napak tilas spiritual.
“Mereka menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tujuan utamanya,” terangnya.
Menurut Muzakir, tradisi ziarah dan perayaan Lebaran Topat menyatu dengan nilai kearifan lokal.
“Makna lebaran topat bukan hanya tentang makanan. Ia adalah simbol silaturrahmi, pembersihan diri, dan pertemuan antara budaya dan agama,” ungkapnya.
Yang menarik pada Lebaran Topat kali ini adalah sorotan pada miniatur Masjid Cheng Hoo yang melatari ketupat agung.
Masjid dengan arsitektur khas Tionghoa itu dibangun oleh tokoh muslim keturunan Tionghoa.
“Masjid ini menjadi tema kali ini, setelah pada Lebaran Topat yang dulu kita pakai tema Masjid Bayan, menegaskan bahwa dari dulu, Ampenan adalah wilayah yang plural, berisi beragam etnis, budaya, dan agama. Tapi tidak pernah jadi masalah, justru jadi kekuatan,” terangnya.
Ia menjelaskan tema Masjid Cheng Hoo merupakan wujud dari semangat “Satu Sampan”, jargon khas Kecamatan Ampenan.
“Satu sampan artinya, walau kita berbeda, kita berada dalam perahu yang sama. Sama-sama mendayung, sama-sama menjaga keseimbangan,” katanya.
Lebaran Topat tak hanya menyentuh sisi spiritual dan budaya. Ekonomi rakyat pun ikut bergerak. Sepanjang jalan menuju Makam Bintaro dan Pantai Ampenan dipenuhi pedagang kaki lima, penjual jajanan, dan penyewa wahana laut.
Pemkot Mataram menyiapkan skema lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Wali Kota bahkan menolak disambut di pinggir jalan demi menghindari kemacetan.
“Beliau selalu masuk ke dalam agar tidak mengganggu arus kendaraan. Ini bentuk kepekaan beliau,” ujarnya.
Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang menegaskan, Lebaran Topat adalah warisan budaya dan spiritual yang harus dijaga serta dikemas dengan baik.
Ia berharap tradisi ini semakin mengakar sebagai ikon Kota Mataram.
“Lebaran Topat ini bukan eksklusif untuk yang puasa saja. Yang puasa satu hari pun boleh ikut lebaran. Semua boleh bergembira,” ucapnya dengan semangat.
Martawang mengingatkan aparat dan masyarakat untuk menjaga keamanan, terutama di kawasan pantai yang menjadi pusat keramaian usai acara.
“Jangan ada yang ketinggalan anaknya di pantai. Dan jangan juga ada yang ketinggalan kekasihnya di perahu yang kita naiki bersama dalam satu sampan,” katanya, disambut gelak tawa hangat.
Ia menegaskan, pemkot akan terus meningkatkan kualitas perayaan agar Lebaran Topat tetap relevan sebagai agenda religius dan budaya.
“Ini bukan sekadar seremoni, ini refleksi identitas kota,” tegasnya.
Tak lengkap membahas Lebaran Topat tanpa menyentuh makna kupat.
Dalam filosofi Jawa, kupat berasal dari kata “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Nasi yang dibungkus janur melambangkan nafsu yang dikendalikan oleh hati nurani. Janur menjadi simbol kesadaran.
“Helai demi helai janur yang teranyam rapi menggambarkan silaturrahmi yang erat. Kupat itu bukan cuma makanan, tapi doa, maaf, dan ikatan batin,” ucapnya.
Lestarikan Tradisi Ziarah Makam Leluhur
Pemerintah Kota Mataram terus berupaya melestarikan tradisi ziarah makam leluhur, khususnya di dua lokasi penting, yakni Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro.
Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi rutin masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok.
Secara khusus, Pemkot Mataram ingin menjadikannya sebagai warisan budaya bagi generasi mendatang.
"Hakekatnya ini adalah tradisi rutin suku Sasak di Pulau Lombok, namun kita di Kota Mataram ingin menjadikan ini tradisi yang khusus, terutama di dua lokasi makam keramat ini," kata TGH Mujiburrahman, Senin (7/4).
Mujiburrahman menyebut, pelestarian budaya menjadi tantangan tersendiri.
Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup kerap membuat generasi muda kurang mengenal warisan budaya mereka sendiri.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat tradisi ini agar tetap lestari. Pemerintah Kota Mataram berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan-kegiatan budaya yang memperkaya khazanah kearifan lokal,” terangnya.
Loang Baloq yang rutin menjadi tempat pelaksanaan Pebaran Topat juga diharapkan dapat terus ditingkatkan kelayakan dan fasilitasnya.
Selain menjadi tempat perayaan hari besar, lokasi ini juga menjadi alternatif masyarakat untuk berkumpul dan berekreasi.
“Agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, untuk berekreasi dan kumpul bersama keluarga,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudera menekankan pentingnya mewariskan tradisi ini, agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai luhur para pendahulu.
“Kita ingin anak cucu kita tidak tergerus atau sibuk dengan kehidupan media sosial. Ketika diajak berziarah oleh orang tua untuk mengetahui sejarah makam leluhur mereka, mereka tidak menjadi lalai,” katanya.
Tradisi ziarah ini juga erat kaitannya dengan hikayat atau kisah perjalanan Waliyullah penyebar agama Islam di Pulau Lombok, khususnya di Kota Mataram.
Pemkot Mataram berencana mendokumentasikan hikayat ini dalam bentuk naskah tertulis agar dapat terus dipelajari dan diwariskan hingga ratusan tahun mendatang.
“Apa yang kita lakukan dan kita lisankan hari ini, kita tuliskan agar menjadi dokumentasi tertulis. Anak cucu kita nantinya tidak hanya mendengar dari mulut ke mulut, tetapi juga dapat membacanya dalam bentuk naskah hikayat,” jelasnya.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya dan religi, tradisi ziarah ini juga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata Kota Mataram.
Cahya mengungkapkan, jumlah pengunjung meningkat saat momentum Lebaran Topat, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
“Dari hari Sabtu, Minggu, Senin, memang pengunjung di puncak hari libur anak-anak terjadi cukup peningkatan yang ada di Kota Mataram. Ada sekitar lima ribuan pengunjung,” ungkapnya.
Tiga konsep yang ditawarkan yakni religi, budaya, dan pariwisata.
Religinya mengangkat sejarah masa lalu, budayanya menunjukkan perhatian dan pelestarian, dan pariwisatanya menjadi hiburan yang mampu menarik minat wisatawan.
“Untuk menarik destinasi wisata. Kita menyiapkan destinasi, promosi event, dan pelaku pariwisata. Ini untuk meningkatkan wisatawan,” terangnya.
Untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan para peziarah serta wisatawan, Pemkot Mataram secara rutin melaksanakan kegiatan kebersihan di kawasan makam.
Cahya menambahkan, pihaknya belum dapat memprediksi secara pasti tingkat keuntungan ekonomi yang dihasilkan.
“InsyaAllah tetap kita meriahkan dan pakemnya sudah ada,” tandasnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tertib dalam menjalankan Lebaran Topat, khususnya dalam menjaga keamanan di lokasi wisata.
“Nanti agar kita minta saat matahari terbenam, semuanya sudah balik ke rumah,” imbaunya. (zad/chi/r7)
Editor : Kimda Farida