Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Makam Bintaro, Pusaka Spiritual di Ujung Pantai: Menapak Jejak Dakwah Habib di Ampenan

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 9 April 2025 | 12:57 WIB

  

ANTUSIAS: Sejumlah peziarah saat mengunjungi makam Habib Husein di Makam Bintaro Ampenan, Senin (7/4/2025
ANTUSIAS: Sejumlah peziarah saat mengunjungi makam Habib Husein di Makam Bintaro Ampenan, Senin (7/4/2025

Dari balik angin pesisir yang membelai lembut dedaunan, Ampenan menyimpan lebih dari sekadar nostalgia kota pelabuhan.

Di sini terdapat cerita tentang para utusan langit—orang-orang pilihan yang datang membawa cahaya, menyusuri garis pantai, dan menanam benih Islam di tanah yang masih perawan dari dakwah.

------------------

SALAH satu saksi paling sunyi sekaligus paling sakral dari cerita itu adalah Makam Bintaro.

Sebuah kompleks pemakaman di barat Kota Mataram yang memendam sejarah lebih tua dari bangunan-bangunan kolonial di sekitarnya.

Makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Habib Husen bin Umar Mashur.

Ia  dikenal luas sebagai penyebar ajaran Islam lintas wilayah—dari Singapura, Malaysia, hingga akhirnya menambatkan hidupnya di Lombok.

Terletak di Kampung Arab, Kelurahan Ampenan Tengah, makam ini berdiri tenang tak jauh dari deru ombak yang tak pernah tidur.

“Habib Husein tiba di Lombok pada tahun 1865,” tutur Camat Ampenan Muzakir Walad, pada Lombok Post.

Habib Husen dikenal sebagai ulama yang tak hanya menyebarkan ilmu, tapi juga menanam akhlak.

Ia disebut telah banyak mengalami dinamika dakwah di luar negeri, hingga akhirnya memilih Telaga Mas—nama lawas untuk wilayah ini—sebagai tempat menyambung hidup dan menyemai dakwah.

“Setiba di Lombok, misi beliau adalah untuk penyempurnaan Islam. Hingga wafat, makamnya tak pernah sepi dari peziarah,” terangnya.

Di balik pagar hijau dan atap khas bangunan religius tradisional Lombok, para peziarah datang, duduk, berdoa, bahkan sekadar menyandarkan kegelisahan batin pada makam yang diyakini menyimpan keberkahan.

“Setiap bulan Safar, peziarah dari luar daerah—bahkan luar pulau—berdatangan ke sini. Ada yang dari Sidoarjo, Banyuwangi, dan wilayah Jawa. Ini bukan sekadar ziarah, ini spiritual journey,” ungkapnya. 

Menurut Muzakir, Makam Bintaro merupakan satu dari tiga titik utama dalam rute ziarah spiritual yang dikenal masyarakat sebagai Safari Religi Lombok.

Dimulai dari Makam Loang Baloq, lalu Makam Bintaro, dan terakhir menuju Batu Layar.

Ziarah ini bukan hanya ritual, tetapi juga penelusuran jejak historis perjuangan para ulama yang menyebarkan Islam melalui jalur laut.

“Dulu belum ada jalan darat. Para habib menyusuri pesisir dengan perahu. Pantai menjadi jalan dakwah mereka,” ujarnya sambil menunjuk ke arah laut yang membentang biru keperakan di kejauhan.

Harmoni dalam Ziarah

Apa yang menarik dari Makam Bintaro bukan hanya siapa yang dimakamkan, tapi bagaimana makam ini menjelma menjadi ruang lintas sosial, spiritual, dan budaya.

Di sinilah orang-orang dari beragam bahasa, dan asal usul datang tanpa membawa prasangka.

Dari para tokoh daerah hingga masyarakat awam yang sekadar ingin menyentuh sejarah dengan hati.

“Makam ini saksi harmoni. Semua datang membawa rasa hormat, pulang membawa ketenangan,” tambahnya.

Bagi warga lokal, keberadaan makam ini adalah bagian dari jati diri. Banyak yang mengaku tumbuh besar dengan mendengar kisah Habib Husen dari orang tua mereka.

Di tengah gempuran modernisasi dan pembangunan yang kerap menggerus ruang spiritual, Makam Bintaro adalah ruang sakral yang menjadi pelindung narasi lama Ampenan.

Di saat kota modern berlomba membangun gedung tinggi dan taman lampu warna-warni, Ampenan menyimpan kekuatan dalam sunyinya.

Di bawah bayang pepohonan dan lantunan doa-doa lirih, ada jejak para pejalan cahaya yang dulu datang membawa harapan.

Dan di antara nisan-nisan tua, ada satu yang tak pernah benar-benar mati: iman.

“Beliau wafat pada tahun 1880,” ucapnya. (Lalu Mohammad Zaenudin/*)

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #Bintaro #ziarah #makam