Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penuturan Abah Salim tentang Makam Bintaro, Ampenan: Datang dari Hadramaut ke Lombok

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 10 April 2025 | 18:56 WIB

SETIA MENJAGA: Abah Salim menunjukkan makam Habib Hussein di kompleks Makam Bintaro, Senin (7/4).
SETIA MENJAGA: Abah Salim menunjukkan makam Habib Hussein di kompleks Makam Bintaro, Senin (7/4).

Di antara riuh geliat Kota Tua Ampenan berjibaku dengan modernisasi, berdiri tenang sebuah kompleks makam, warisan spiritual dan sejarah masyarakat Lombok.

Makam Bintaro, adalah ruang ziarah batin, tempat ribuan manusia datang dengan membawa niat dan hajat, harapan dan rasa hormat.

 -----------------

DAN di antara batu-batu nisan yang tertata teduh, sosok Salim bin Karamah Bahweres—atau yang lebih akrab disapa Abah Salim—berkisah.

Dengan pakaian sederhana dan tutur yang bersahaja, lelaki berusia 60 tahun itu telah menjadi penjaga makam ini selama lebih dari delapan tahun.

Kiprahnya bukan sekadar soal menjaga fisik situs bersejarah. Ia sedang menjaga estafet dari darah dan takdir.

“Sudah dari zaman 1800-an, keluarga saya jadi penjaga di sini,” tutur Abah Salim.

Ia juga menekankan, penjaga makam memang dikhususkan harus dari warga kampung Arab di Ampenan.

“Tidak boleh yang lain jadi penjaga makam Bintaro ini,” tekannya.

Tugas yang diemban Abah Salim bukan tugas yang ia minta, tetapi diwariskan.

Ia menerimanya dari ayahnya, dan ayahnya dari kakek-kakeknya.

Sebuah garis keturunan yang dipercaya tak bisa diputus begitu saja, karena menyangkut kehormatan, tanggung jawab, dan ikatan spiritual dengan sosok besar yang dimakamkan di sana: Habib Hussein bin Umar Al-Mashur.

“Karena ada unsur keturunan, makanya saya jadi penjaga. Dulu ayah saya yang jaga, sekarang saya teruskan,” ujarnya.

Setiap hari, ratusan orang datang ke kompleks makam ini.

Mereka bukan sekadar peziarah, tapi para penumpang harap, membawa niat yang telah lama dirawat.

Ada yang datang dengan nazar, ada yang sebelum berangkat haji, dan banyak pula yang datang sekadar untuk menyambung doa dengan para wali.

“Kalau dihitung-hitung, sehari bisa tiga sampai empat ratus orang yang datang. Kadang lebih,” kata Abah Salim.

Lebih ramai lagi kalau sedang musim haji.

“Ziarah sebelum berangkat haji itu sudah jadi tradisi. Setahun bisa jutaan orang ke sini,” sebutnya.

Ziarah ke Makam Bintaro bukan hanya praktik spiritual, tapi juga bagian dari budaya Lombok. Masyarakat dari Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah Tengah, hingga luar daerah, bahkan luar negeri, menjadikan makam ini sebagai destinasi ziarah penting.

“Orang-orang ke sini karena sudah punya niat sejak lama. Ada yang bilang, ‘Kalau saya lulus kuliah, saya akan ziarah ke Binataro.’ Jadi bukan ziarah biasa, tapi penuh niat,” jelas Abah Salim.

Ziarah dilakukan dengan cara yang khusyuk. Tidak ada ritual berlebihan.

Mereka datang, duduk bersila, membaca doa, menyampaikan hajat, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan.

Sosok yang dimakamkan di kompleks ini adalah Habib Hussein bin Umar Al-Mashur.

Ia berasal dari Hadramaut, Yaman, dan dikenal sebagai penyebar Islam yang datang ke Lombok pada sekitar tahun 1865.

Sebelumnya, habib Hussein singgah di Malaysia, berdakwah dan membina jamaah.

Dari sana, kemudian bertolak ke Lombok, membawa serta istri dan seorang muridnya.

“Mereka dulu berdakwah dari pintu ke pintu. Belum ada pesantren, belum ada sekolah. Dakwahnya sambil berdagang, menyatu dengan masyarakat,” tuturnya.

Namun, kisah paling melegenda adalah peristiwa ketika seorang raja Bali yang menguasai Lombok kala itu, meminta pertolongan karena anak gadisnya sakit keras.

Segala upaya telah ditempuh sang raja, tapi tak satu pun berhasil.

“Habib Hussein bilang, ‘kalau saya bisa menyembuhkan, saya tidak minta dikawinkan. Cukup berikan saya tanah untuk makam saya dan keluarga’,” tutur Abah Salim.

Syarat itu disetujui. Dan benar saja, konon sang putri sembuh.

Sebagai bentuk penghormatan, sang raja menghadiahkan sebidang tanah seluas mata memandang, yang kini menjadi kompleks makam Binataro.

Makam ini tak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga simbol harmoni antarbudaya dan antaragama.

Dalam satu kawasan, dimakamkan para tokoh dari beragam latar: Habib, Habsyi, Mullah, Bages, bahkan masyarakat lokal Kampung Arab.

“Di dalam sana dimakamkan juga muridnya, istrinya, dan orang-orang sekitar. Bahkan tetangga-tetangga dan lainnya,” kata Abah Salim.

Ia juga menyebut adanya kaitan garis keluarga antara Habib Hussein dengan tokoh-tokoh modern Lombok, termasuk keluarga mantan Wali Kota Mataram, Almarhum Haji Ruslan. Salah satu anak Haji Ruslan menikah dengan keturunan Arab yang masih punya pertalian darah dengan Habib Hussein.

“Makanya, Pak Wali sekarang itu punya kedekatan juga dengan makam ini,” tambahnya.

Meski saat ini dikenal sebagai penjaga makam, Abah Salim punya riwayat kerja yang panjang.

Ia pernah bekerja di berbagai perusahaan,

Namun, garis takdir membawanya kembali ke tempat leluhur.

Kini, ia menjalani hari-harinya dengan khidmat. Mengatur peziarah, membersihkan area makam, dan memastikan makam ini tetap terawat.

“Alhamdulillah, Istri masih ada, anak tiga, semua sudah kerja,” katanya sambil tersenyum kecil.

Makam Binataro dikelola oleh Yayasan Masjid At-Taqwa di Telaga Mas, Kampung Arab, Ampenan. Dengan sistem pengelolaan berbasis komunitas dan tradisi, tempat ini tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

Apa yang dijaga oleh Abah Salim bukan sekadar fisik makam, tapi nilai: sejarah, spiritualitas, dan silaturahmi bisa menyatu dalam ruang yang dipelihara dan sederhana.

Di tengah dunia yang makin bising, kompleks makam Binataro adalah titik sunyi yang tetap nyaring bagi mereka yang paham artinya pulang kepada akar. (Bersambung)

 

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #habib #islam #Ampenan #Makam Bintaro