Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengajar tanpa Gelar Dihargai karena Karya, Animan Megalamat, Kuasai Fingerstyle Flamenco dengan Belajar Otodidak

nur cahaya • Minggu, 20 April 2025 | 22:15 WIB
Animan Megalamat
Animan Megalamat

 

Ia aktif di media sosial YouTube dan platform lain untuk memperlihatkan teknik gitar yang dikuasainya. Aksinya memperlihatkan ia bukan sekadar pemain gitar jalanan, tapi pengembara nada dari hasil petik kreasi otodidak.

------------------------------------------

Salah satu yang membuat Animan istimewa adalah kemampuannya memainkan gaya musik flamenco Spanyol. Teknik ini dikenal rumit, cepat, dan penuh nuansa.

“Insya Allah, kalau di Lombok, mungkin saya sendiri yang menekuninya sejauh ini,” katanya dengan senyum pelan.

Flamenco bukan sekadar teknik memetik senar. Di balik dentingan yang menggebu dan ritme cepat, tersembunyi kesabaran bertahun-tahun.

“Orang banyak yang nggak sanggup melewati masa belajar dasar yang menjemukan. Tapi saya rela. Saya jalani dari bawah. Setelah itu, saya merasa ada sesuatu yang lebih tinggi yang saya dapatkan,” ujarnya.

Photo
Photo

Baginya, menjadi berbeda bukan soal pilihan gaya, tapi hasil dari ketulusan dalam menjalani proses. Ia belajar musik secara otodidak, tanpa satu pun sertifikat pendidikan formal di bidang seni.

Tapi hari ini, ia kerap diminta mengajar oleh orang-orang yang justru lebih muda dan mengejar prestise. “Saya ngajar karena diminta. Tapi saya selalu bilang, belajar notasi itu butuh kesabaran, butuh otak yang agak beda,” katanya sambil terkekeh.

Meski tanpa gelar, ia tak merasa rendah diri. Justru dari ketiadaan itulah ia menemukan jati diri sebagai seniman.

Ia menguasai banyak teknik: fingerstyle, akustik klasik, instrumental, dan tentu saja flamenco. Semua dipelajari dari pengamatan, eksperimen, dan latihan mandiri.

Namun di balik semua itu, Animan adalah pria yang sederhana dan bersahaja. Ia tinggal di Rembiga, bersama istri dan dua anak laki-lakinya.

Ia tak menuntut anak-anaknya untuk mewarisi jejaknya sebagai seniman. “Mereka punya jalan sendiri. Mungkin karena saya terlalu bergelut di musik, jadi mereka gak tertarik. Tapi gak apa-apa. Yang penting mereka jadi diri sendiri,” tekannya.

Soal dukungan keluarga, Animan bersyukur istrinya selalu ada. “Saya gak punya rahasia. Istri saya tahu saya begini. Saya polos, apa pun kondisi dan keadaan saya dia tahu,” ungkapnya.

Meski dunia seni kerap diwarnai stigma, ia menjaga komitmen. “Saya gak minum, gak pakai doping. Hanya ngerokok agak berat, itu pun saya akui,” ucapnya.

Tapi Animan punya prinsip kokoh. Ia tak pernah menjadikan seni sebagai alat untuk memuaskan syahwat pasar. “Saya main musik untuk menyampaikan rasa. Bukan untuk jadi pelengkap hiburan yang enggak-enggak,” tegasnya.

Di era sekarang, di mana popularitas bisa dibeli dengan sensasi, Iman tetap berjalan pelan di jalurnya sendiri. Ia lebih suka membangun audiens perlahan, dari hati ke hati.

“Saya gak mau gengsi. Kalau harus mulai dari nol, saya mulai. Yang penting saya punya jalur sendiri. Jalur yang mungkin gak ada yang mau tempuh, tapi saya tempuh,” tekannya.

Jalur itu memang tak ramai. Tapi seperti flamenco yang tak semua orang bisa pelajari, jalan yang Animan pilih juga hanya bisa dilewati oleh mereka yang siap menghadapi kejenuhan, pengulangan, dan rasa bosan yang panjang, demi satu tujuan: menemukan suara yang benar-benar dari dalam. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#Ketulusan #gitar #Hiburan #Kejenuhan #otodidak