Suara Eric Mbozo tak hanya menggema di lapangan bola yang berdebu, tapi juga menembus pelaminan hingga panggung seminar. Suaranya yang khas, membuat suasana acara mengalir penuh kehangatan.
Di antara sorak sorai suporter dan decak kagum penonton, selalu ada suara yang membungkus emosi pertandingan dalam untaian kata-kata tajam, lucu, dan membakar semangat. Suara itu datang dari balik mikrofon seorang pria yang bagi banyak penggemar sepak bola lokal di NTB—terutama Lombok—bukan sekadar komentator, tapi legenda hidup: Damhuri, lebih dikenal dengan nama siaran, Eric Mbozo.
----------------------------------------------------
DI PANGGUNG olahraga lokal, Eric bukanlah wajah asing. Pria bertubuh sedang ini dikenal luas sebagai salah satu sportcaster atau komentator olahraga yang lama berkecimpung di dunia siaran lokal.
“Sudah sejak masih muda saya menyukai ini (menjadi komentator bola),” ujarnya, Rabu (23/4).
Ia menyiratkan kariernya sebagai komentator sudah melintasi lebih dari satu dekade. “Istilahnya, kita sesepuh,” tambahnya sambil tertawa.
Mantan wartawan Suara Nusa —kini Lombok Post —itu berasal dari Bima. Sebelum akhirnya kini menjadi warga Ibu Kota Mataram.
Eric tidak pernah membayangkan suaranya akan menjadi bagian dari sejarah banyak olah raga tarkam hingga profesional di daerah. “Saya ini nggak pernah belajar apa-apa. Termasuk belajar jadi MC atau komentator,” katanya.
Bagi Eric, semua ini adalah bakat alami. Tak ada sekolah formal, tak ada pelatihan intensif.
Hanya keberanian untuk bicara, spontanitas. “Dan cinta yang besar terhadap dunia olah raga,” ucap pria penggemar olah raga bulu tangkis ini.
Eric pertama kali dikenal publik lewat berbagai pertandingan bola antar kampung (tarkam). Dari lapangan-lapangan sederhana sampai panggung megah GOR.
Suara khasnya menggema, menghidupkan suasana, bahkan seringkali menjadi pusat perhatian lebih dari pertandingan itu sendiri. “Saya pernah tampil di Lombok TV, termasuk ngisi di GOR Turide. Juga pernah komentari pertandingan di piala yang diadakan oleh kepolisian, dan beberapa acara besar lainnya,” kenangnya.
Di setiap momen itu, Eric tak hanya hadir sebagai pengisi suara, tapi sebagai ikon—seorang MC bola yang punya warna tersendiri.
Eric bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi di lapangan. Ia menceritakan, mempersonalisasi, dan menghidupkan pertandingan lewat gaya bicaranya yang spontan, jenaka, kadang nyeleneh, namun selalu menghibur.
“Kalau jadi komentator bola, pasti ada aja. Di mana ada bola, di situ biasanya ada saya,” katanya bangga.
Ia mengakui, selama ini dirinya tidak terikat pada satu institusi atau perusahaan media. “Saya ini tidak bekerja di mana-mana secara resmi,” katanya.
Tapi justru di situlah letak kebebasannya. Eric bisa hadir di berbagai acara—dari turnamen antardusun sampai event olah raga kota.
Di panggung mana pun, ia tetap Eric Mbozo, dengan gaya khasnya yang tanpa sensor namun penuh karisma. “Tidak hanya bola, badminton, bahkan renang, hingga tarik tambang juga saya komentatori,” celetuknya.
Bakat Eric tidak hanya berhenti pada komentator olahraga. Ia juga sering dipercaya menjadi MC di berbagai kegiatan hiburan dan budaya.
Dari pentas tari tradisional hingga acara resmi pemerintah daerah, nama Eric kerap muncul sebagai pengatur suasana.
Ia menyebut dirinya bukan tipe orang yang diam di balik layar. Ketika suasana butuh kehangatan, ia hadir.
Ketika acara perlu tawa, ia tampil. “Kadang kayak familian, kayak jadi bagian dari semua orang di sana,” katanya.
Itulah mengapa, di banyak panggung, ia bukan sekadar pengisi acara—ia adalah bagian dari energi utama.
Kini, ketika banyak komentator baru mulai bermunculan dengan gaya yang lebih formal dan terlatih secara akademik, Eric Mbozo tetap berdiri tegak dengan gayanya sendiri. Ia tahu bahwa zaman berubah, media berkembang, dan ekspektasi penonton bergeser.
Tapi bagi Eric, satu hal tetap sama: olahraga butuh suara yang hidup. Dan hidup itu, katanya, tidak bisa dipelajari di bangku kuliah.
“Insya Allah, saya tetap jadi komentator bola profesional. Walau bukan dari jalur resmi, saya tetap jaga kualitas. Yang penting bisa bikin orang senang,” tuturnya dengan mata berbinar.
Eric Mbozo adalah maestro sportcaster. Ia adalah simbol semangat olahraga akar rumput.
Di tengah keterbatasan sarana dan sorotan media nasional yang minim, suara Eric adalah pengingat ada gairah, ada energi, dan ada cinta besar terhadap olahraga di daerah ini.
Ketika pertandingan dimulai dan mikrofon kembali menyala, satu kalimat pembuka selalu menggema:
“Baik, sekarang penonton kembali lagi bertemu… bersama saya, Eric Mbozo,” ucapnya sembari tersenyum lebar.
NAMA Eric Mbozo memang tak secara spesial terpajang di spanduk turnamen atau di grafis siaran televisi, tapi suaranya telah menjadi bagian dari banyak kenangan warga di pinggiran Mataram dan banyak tempat lainnya. Eric adalah komentator serba bisa, pemandu sorak sekaligus penjaga emosi di lapangan yang kadang lebih liar dari stadion profesional.
“Saya ini komentator bola, MC, kadang juga pemandu acara adat. Bahkan pernah main sinetron. Tapi saya lebih suka bilang begini: saya orang yang nggak bisa diam,” katanya sambil tertawa kecil, khas, menghangatkan suasana wawancara seperti ia menghangatkan suasana lapangan.
Wawancara dimulai dengan adegan kecil yang hampir luput dicatat jurnalis mana pun. Seorang pemuda menunjuk ke belakang, menyuruh Eric membetulkan kain yang terselip.
“Aman, om. Aman. Sudah. Jempol, jempol om, agak tinggi om jempolnya,” kata si pemuda.
Eric tertawa, membetulkan lipatan kainnya. “Ok. Siap. Eric Mbozo, ya,” ujarnya, bangga menyebut namanya.
Sikap ramah dan spontan seperti itu jadi karakter kuat Eric. Ia bukan hanya narator pertandingan, tapi juga bagian dari cerita rakyat yang dituturkan lewat olahraga dan acara kampung.
“Saya dulu pernah main sinetron juga. Di TVRI, jadi Raja Bima,” katanya.
Ia mengingat jelas setiap detail adegannya. “Ada adegan pakai kostum. Depan kamera. Asli itu,” imbuhnya.
Rupanya, kemampuan tampil bukan datang begitu saja. Eric mengaku punya modal utama yang sulit dilatih tapi penting: kepekaan.
“Saya ini nggak sempurna, tapi saya bisa kerjakan banyak hal. Mau jadi komentator, bisa. Mau jadi MC, bisa. Bahkan kalau disuruh betulin pipa bocor, bisa juga,” katanya sambil tersenyum.
Ia bercerita bahwa baru saja pulang dari rumah bibinya, membantu memperbaiki saluran air yang rusak. “Insting itu jalan. Logika juga. Jadi kalau ada apa-apa, saya nggak panik. Main aja,” tambahnya.