Sastri Bertahan Hidup di Balik Tumpukan Sampah TPS Sandubaya, Ambil Pekerjaan Lain sebagai Petugas Kebersihan

nur cahaya • Dipublikasikan Selasa, 29 April 2025 | 09:17 WIB

 

HIDUP SEDERHANA: Sastri duduk di depan gubuk kecil miliknya di area TPS Sandubaya, Mataram. 
HIDUP SEDERHANA: Sastri duduk di depan gubuk kecil miliknya di area TPS Sandubaya, Mataram. 
 

Gunungan sampah mengelilingi gubuk kecil itu, menebar bau menyengat yang menusuk hidung. Di tengah tumpukan limbah yang menjulang lebih tinggi dari atap rumahnya, Sastri tetap bertahan.

Sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, ia hidup di area Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sandubaya, menjadikan sampah sebagai sumber penghidupan, ruang bermain anak, sekaligus pekarangan rumah.

----------------------------------------

Di tengah gunungan sampah yang menjulang tinggi bak bukit buatan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sandubaya, berdiri sebuah gubuk sederhana.

Di situlah Sastri, seorang ibu, tinggal bersama suami dan salah satu dari tiga anaknya.

“Ya dari 2012 tinggal di sini, sudah lebih 10 tahun,” kata Sastri, duduk di depan gubuknya yang rapuh.

Gubuk kecil itu tampak ringkih di bawah bayang-bayang tumpukan sampah yang mengelilinginya.

Dindingnya terbuat dari material seadanya, dan atapnya berupa lembaran seng yang berkarat di beberapa bagian.

Seng itu menjadi pelindung dari terik matahari dan hujan, meski suara gemuruhnya kerap menambah riuh di tengah hiruk-pikuk aktivitas TPS.

Bagi sebagian besar warga Mataram, TPS Sandubaya mungkin hanya sekadar tempat transit akhir sampah rumah tangga.

Namun bagi Sastri, tempat ini adalah pekarangan, ruang bermain anak, sekaligus sumber penghidupan.

Di tengah aroma menyengat dan pemandangan limbah yang menjulang lebih tinggi dari rumahnya, Sastri menjalani hari-harinya dengan ketabahan.

Photo
Photo

"Kalau musim-musim kayak gini kan lagi banyak sampah, ya beginilah keadaannya. Tapi ya, mau bagaimana lagi," ujarnya datar.

Sastri mengakui, gunungan sampah yang mengelilingi gubuknya kerap kali mengganggu.

Saat ini, tingginya tumpukan sampah terjadi karena terbatasnya pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Lombok Barat.

"Agak ke belakang sampai sana full. Full sampahnya," tuturnya, sambil menunjuk ke arah tumpukan yang membentang.

Meski hidup begitu dekat dengan limbah, Sastri mengaku sudah terbiasa.

Setiap hari, ia tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga mencari nafkah dengan memilah rongsokan di sekitar TPS. Aktivitas ini bukan sekadar mengisi waktu, melainkan menjadi sumber utama penghidupan keluarganya.

"Tiap hari kan kita nyari juga rongsok," katanya, sembari memperlihatkan tumpukan botol plastik yang sudah dipilah. "Rongsokannya ya dari sini, kita ambil sendiri," ujarnya.

Dengan cekatan, Sastri memisahkan botol plastik bening dan berwarna, menumpuknya rapi untuk dijual kembali.

Penghasilan dari rongsokan itu membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Kalau dari pagi sampai siang, kadang dapat satu karung. Kalau sampai sore, bisa dua sampai tiga karung," ungkapnya.

Tentang penghasilan, Sastri menjelaskan, "Kalau sekarang, satu kilo botolnya sekitar seribu lima ratus rupiah."

Satu karung penuh botol plastik kira-kira berbobot dua puluh dua kilogram. Jika dikalikan dengan harga per kilogram, hasilnya memang tak besar. Namun bagi Sastri, setiap rupiah sangat berarti.

"Lumayan, ya buat nambah kebutuhan," imbuhnya.

Di balik kesehariannya yang keras, Sastri tetap menjalani rutinitas layaknya ibu rumah tangga lainnya. Setiap pagi, ia bekerja sebagai petugas kebersihan jalan di Kecamatan Sandubaya. Sekitar pukul enam pagi, ia sudah bersiap membersihkan area jalan depan Gedung Olahraga (GOR) Turida. Usai bertugas, barulah ia kembali mencari rongsokan di TPS.

"Buat nyapu-nyapu di dalam. Jam enam pagi. Sampai jam sembilan. Terus setelah itu baru ngiler sampah ada," jelasnya tentang kegiatannya.

Dari tiga anaknya, hanya satu yang tinggal bersamanya di gubuk dekat TPS. Dua anak lainnya tinggal bersama nenek mereka di Lombok Barat.

Suasana TPS Sandubaya tak pernah sepi. Gemuruh truk dan deru motor roda tiga silih berganti mengantarkan karung-karung sampah dari seluruh penjuru kota.

Para petugas kebersihan dengan cekatan menurunkan tumpukan demi tumpukan, membuat gunungan sampah kian menggunung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, langkah para pemulung mantap menyusuri tumpukan plastik, sisa makanan, dan aneka limbah lainnya.

Dengan karung di tangan, ia mencari barang-barang rongsokan yang masih memiliki nilai jual.

Setiap sudut gunungan disisir. Botol plastik bekas, kardus, besi tua—semua dipilah dengan teliti. Bagi pemulung seperti Sastri, gunungan sampah ini bukan hanya limbah, melainkan sumber rezeki yang menopang hidup keluarganya.

Di balik bau menyengat dan pemandangan yang mungkin membuat sebagian orang menutup hidung, ada kisah tentang perjuangan hidup.

Tentang mereka yang tetap tegar, mencari harapan di tengah tumpukan sampah. (Sanchia Vaneka/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
limbah rutinitas sampah Kebersihan perjuangan rongsokan tps