Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TPS Sandubaya Tak Kuat Lagi Tampung Sampah, Pemkot Mataram Tunggu Izin KLH untuk Pemanfaatan Lahan Alternatif

nur cahaya • Kamis, 1 Mei 2025 | 11:17 WIB

 

GUNUNGAN SAMPAH : Sampah yang menumpuk di TPS Sandubaya yang mencapai lebih dari 1.000 ton, Selasa (29/4).
GUNUNGAN SAMPAH : Sampah yang menumpuk di TPS Sandubaya yang mencapai lebih dari 1.000 ton, Selasa (29/4).
 

LombokPost - Penumpukan sampah di Kota Mataram semakin mengkhawatirkan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi mengungkapkan, Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sandubaya diperkirakan akan penuh dalam dua hari ke depan. Pada Selasa (29/4), tumpukan sampah di lokasi tersebut sudah mencapai hampir 1.200 ton.

"Kondisinya dua hari lagi itu sudah penuh," tegas Nizar Denny Cahyadi saat ditemui di Mataram.

Menurutnya, masyarakat masih memahami situasi ini karena belum ada alternatif lokasi pembuangan sampah selain TPS Sandubaya. Ia menjelaskan, lahan di TPS Sandubaya merupakan satu-satunya aset pemerintah kota yang dapat digunakan untuk menampung sampah dari berbagai TPS di Kota Mataram.

"Ya kita titip di situ dulu, semua sampah dari TPS di kota," ujarnya.

Denny menambahkan, pihaknya telah menerima undangan untuk mengikuti rapat daring dengan Pemerintah Provinsi NTB, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Rapat tersebut akan membahas solusi terkait kondisi darurat sampah ini. Ia berharap, setelah rapat tersebut, Kota Mataram dapat segera membuang sampah di lokasi baru yang telah disiapkan. "Tunggu rapat besok (hari ini), hasil finalnya besok," jelasnya.

Photo
Photo

Dalam rapat tersebut, Pemkot Mataram mengharapkan izin dari pemerintah pusat untuk memanfaatkan lahan alternatif selain Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Lahan seluas 60 are yang terletak di Dusun Batu Mulik, Desa Gapuk, Lombok Barat, telah dipertimbangkan untuk sistem sewa.

Denny tidak menyebutkan biaya sewa secara pasti, namun menjelaskan bahwa pembayaran akan dilakukan bersama Pemprov NTB, Pemkab Lombok Barat, dan Pemkot Mataram. "Tinggal izinnya dari kementerian yang kita tunggu," katanya menekankan.

Kondisi TPS Sandubaya yang kian memprihatinkan menjadi perhatian serius Pemkot Mataram. Tumpukan sampah yang terus menggunung tidak hanya mengganggu estetika dan menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Pemkot Mataram terus berupaya mencari solusi terbaik dan mempercepat proses perizinan agar permasalahan sampah ini dapat segera teratasi. Diharapkan, hasil rapat dengan pemerintah provinsi dan kementerian terkait dapat membawa kabar baik dan solusi konkret.

“Insya Allah kalau sudah ada keputusan final, minggu ini sudah bisa buang ke sana,” ucapnya.

Ramdan, seorang pembawa alat berat di TPS Sandubaya mengungkapkan bahwa sebelumnya satu unit kendaraan pengangkut sampah dari Kota Sandubaya bisa melakukan empat kali rit pembuangan dalam sehari. Namun, kini jatahnya dikurangi menjadi hanya satu kali.

"Biasa satu kendaraan Kota Mataram, dulu empat kali buang. Sekarang dikasih satu kali. Bagaimana tidak numpuk," keluh Ramdan di TPS Sandubaya.

Pembatasan rit ini, menurut Ramdan, menjadi penyebab utama penumpukan sampah yang semakin parah di TPS Sandubaya. Ia mempertanyakan bagaimana sampah tidak menggunung jika frekuensi pembuangan dikurangi.

Sebagai petugas lapangan, Ramdan mengaku harus bekerja ekstra keras untuk merapikan tumpukan sampah yang terus bertambah. Ia bahkan harus merapikan sampah hingga dini hari agar masih ada ruang untuk sampah baru yang datang.

"Saya sampai dini hari masih rapihin sampah ini biar sampah yang datang baru masih ada tempat buangnya," tandasnya. (chi/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#darurat #sampah #Sandubaya #Pemkot Mataram #Mataram #NTB #Tempat Pembuangan Sampah