Lombok Post - Di balik pandemi covid yang mengubah banyak kehidupan, Sukatni menemukan peluang baru.
Setelah hampir satu dekade meninggalkan usaha jamu, Sukatni kembali meracik jamu tradisional yang ternyata sangat diminati masyarakat.
Dari usaha kecil-kecilan di rumah, jamu racikan tangan terampil Sukatni kini jadi pilihan sehat banyak orang, bahkan hingga merambah pasar daring.
Sukatni bercerita dengan ramah dan penuh semangat tentang perjalanan usahanya. Sejak 1994, jauh sebelum pandemi, ia sudah berjualan jamu.
Namun, kesibukan mengurus anak yang mulai bersekolah membuatnya menghentikan aktivitas tersebut pada 2005. Ia sempat berjualan bakso, sebelum akhirnya memilih untuk fokus membantu suaminya berdagang.
“Anak sudah mulai sekolah, tapi semua aktivitas terbatas. Saya bingung, apa yang bisa dilakukan?” ujar Sukatni saat ditemui di warungnya.
obatBaca Juga: Pasien Cepat Membaik, Inggris Setujui Obat Covid-19 Molnupiravir
Pandemi covid datang dengan dampak besar. Hampir seluruh aktivitas terhenti, termasuk berjualan. Sukatni merasakan kesulitan, terutama karena tidak bisa pulang kampung ke Jawa akibat pembatasan perjalanan. Di tengah kesulitan itu, ide untuk kembali meracik jamu muncul.
“Semua usaha tutup, tidak bisa berjualan. Sudah lama tidak pulang ke Jawa, akhirnya saya coba buat jamu,” kenangnya.
Keputusan itu ternyata berbuah manis. Jamu buatannya laris manis di pasaran. Sukatni menduga, tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga imun tubuh selama pandemi berperan besar.
CovidBaca Juga: Penyidik Polresta Mataram Agendakan Pemanggilan Enam Calon Tersangka Kasus Pengadaan Masker Covid-19 Pemprov NTB
“Ternyata jamu saya laris banget. Orang tahu, jamu itu bagus untuk meningkatkan imun tubuh. Kalau imun tubuh bagus, Insya Allah virus corona tidak masuk,” ungkapnya.
Berbagai jenis jamu diracik Sukatni dengan tangan terampil. Dari kunyit asam, kunyit asam sirih, hingga jamu penambah stamina yang paling diminati. Rahasia keampuhan jamu stamina terletak pada campuran sembilan jenis rempah pilihan, seperti kayu manis, kulit secang, bunga lawang, daun jeruk purut, daun pandan, jahe, dan serai. Kombinasi rempah ini dipercaya memberikan kehangatan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menjaga kebugaran.
“Yang paling laris itu jamu penambah stamina. Bahan-bahannya rempah-rempah, ada sembilan macam. Jahe dan serai, misalnya, sangat baik untuk meningkatkan imun tubuh,” jelasnya dengan antusias.
Sukatni juga bercerita tentang pengalaman seorang temannya yang terinfeksi covid. Temannya merasakan manfaat signifikan setelah rutin mengonsumsi jamu racikannya.
“Saya punya teman yang kena corona. Setiap hari minum jamu saya, badan terasa hangat. Dia pesan delapan botol, dan alhamdulillah, jamu saya jadi terkenal,” ujarnya.
Kini, jamu Sukatni tak hanya dikenal dari mulut ke mulut. Ia juga memberanikan diri memasarkan produknya melalui aplikasi daring seperti Grab. Selain jamu stamina, Sukatni menawarkan jamu daun sirih yang dipercaya dapat menstabilkan tekanan darah, mengurangi nyeri haid, mengatasi keputihan, dan menghilangkan bau badan. Ia juga berbagi tips tradisional bagi mereka yang tidak suka minum jamu.
“Jamu daun sirih bagus untuk menstabilkan tekanan darah dan mengurangi keputihan. Kalau tidak mau minum jamu, daunnya bisa digosokkan di ketiak sebelum mandi, hasilnya tetap bagus,” tuturnya.
Pengetahuannya dalam meracik jamu ia peroleh secara otodidak, salah satunya melalui buku resep Ustaz Zaidul Akbar. Sukatni memastikan resep yang digunakannya teruji dan menggunakan bahan alami yang banyak ditemukan di Lombok, sehingga kualitas dan kehalalannya terjamin.
“Saya terus belajar, membaca buku resep jamu, dan mencari informasi di internet. Bahan-bahan seperti ketimun, jeruk nipis, madu, dan daun kelor punya banyak manfaat,” jelasnya.
Sukatni juga terbuka dengan permintaan khusus dari pelanggan. Selama bahan baku tersedia, ia siap meracik jamu sesuai dengan kebutuhan mereka. Pengetahuan dan keahliannya dalam meracik jamu ia dapatkan secara otodidak melalui buku-buku resep yang ia beli.
“Ada yang request, misalnya pengin jamu daun sirih atau jamu khusus lainnya. Saya siap carikan,” ujarnya.
Wanita yang akrab disapa Mbak Katni ini mematok harga jamu per botolnya mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Ia tidak meracik banyak jamu per hari, karena tidak menggunakan pengawet untuk mempertahankan kualitasnya.
“Sehari paling 20 botol. Tidak banyak, karena saya hanya meracik sesuai permintaan,” ucapnya. (SANCHIA VANEKA/r7)
Editor : Siti Aeny Maryam