Di sebuah pagi yang teduh di kawasan Bintaro, Ampenan, tiga perempuan bersimpuh di depan pusara yang diselimuti tirai putih. Sunyi terasa menyelimuti pekarangan makam tua yang dipenuhi batu-batu nisan beraksara Arab-Melayu.
-----------------------------------
Mereka khusyuk dalam doa. Sementara sinar matahari menyusup dari celah pepohonan, menciptakan bias cahaya di atas batu nisan tinggi yang tampak lebih terawat.
Inilah makam Saleh Sungkar—seorang tokoh perlawanan dari Lombok yang namanya kini abadi sebagai nama jalan di Ampenan, Kota Mataram.
“Peziarah selalu ramai datang mengunjungi setiap pekan,” tutur Abah Salim, penjaga Makam Bintaro, Ampenan, Kamis (1/5).
Abah Salim meyakinkan jasad di balik makam bertirai putih itu adalah pemilik nama yang menjadi ruas jalan di Ampenan: Jalan Saleh Sungkar.
Tidak hanya dari masyarakat umum, peziarahnya datang dari berbagai kalangan.
Beberapa di antaranya disebutkan sebagai tokoh-tokoh daerah hingga warga Arab keturunan.
“Semua kalangan datang ke sini,” terangnya.
Ia menekankan sangat penting bagi siapa saja untuk datang menziarahi makam sosok yang pernah berjasa di era kemerdekaan.
“Supaya anak muda sekarang tahu tokoh lokalnya, tokoh-tokoh yang memperjuangkan tanah ini. Bukan cuma nasional,” ucapnya.
Di balik harumnya nama Saleh Sungkar, kisah hidup dan kematiannya menyimpan jejak penuh luka, perjuangan, dan ironi yang nyaris terlupakan. Dari sejumlah catatan, ia lahir tahun 1920 dari pasangan Syeikh Ahmad bin Abdullah Sungkar dan Salmah binti Syeikh Abdurrahman Bafaqih.
Saleh Sungkar tumbuh dalam keluarga Kapiten Arab, posisi kehormatan yang diberikan pemerintah Hindia Belanda kepada pemimpin komunitas keturunan Arab. Namun tak seperti banyak pemuda keturunan ningrat yang larut dalam status quo kolonial, Saleh memilih jalan yang berbeda—jalan melawan.
Jejak pendidikannya tercatat pernah menempuh pendidikan di Solo dan Yogyakarta, menyerap semangat nasionalisme dan keislaman yang saat itu membara di Tanah Jawa. Sekembalinya ke Lombok, ia langsung terlibat dalam gerakan kemerdekaan, menjadi motor penggerak Persatuan Arab Indonesia (PAI) cabang Lombok dan aktif dalam Partai Masyumi.
Ia pun dipercaya memimpin DPRD Lombok pada masa Negara Indonesia Timur (NIT), sebuah struktur sementara yang dibentuk Belanda pascaproklamasi kemerdekaan. Namun status politiknya tidak membuatnya berjarak dari rakyat.
Dalam masa paceklik pascaperang, Saleh dengan tegas melarang ekspor hasil bumi, terutama padi, ke luar pulau. Kebijakan ini membuatnya dicintai petani, namun dibenci pedagang besar dan elite kolonial.
“Ia juga mendesak agar tanah eks-feodal dikelola secara adil untuk rakyat miskin, menentang segala bentuk feodalisme lokal,” seperti dikutip dari tulisan Dr H Anwar Sungkar dalam tulisan berjudul Saleh Sungkar: Pejuang dan Martir yang Terlupakan dari Lombok (2015).
Tragedi terjadi pada 11 Maret 1952. Dalam suasana politik yang panas dan penuh intrik pascakemerdekaan, Saleh diculik oleh sekelompok orang bersenjata. Beberapa hari kemudian, jasadnya ditemukan dalam kondisi tak utuh—terpotong dan tersebar di beberapa lokasi: sebagian di Jelojok, Lombok Tengah; sebagian lain di Labuan Haji, Lombok Timur.
Namun dari serpihan kematian itu, warisan hidupnya tetap tumbuh. Di Labuan Haji, berdiri sebuah dusun bernama Dusun Saleh Sungkar, tempat sebagian jasadnya ditemukan. Sedangkan tempat dimakamkannya secara resmi—menurut tradisi keluarga dan masyarakat—adalah di kompleks Makam Bintaro, Ampenan.
Batu nisannya mencolok, dibalut kelambu putih dan dinaungi atap seng. Di dalamnya, bunga tabur segar menemani ketenangan abadi sang tokoh.
Ziarah datang silih berganti. Tak hanya kerabat atau keturunan, tapi juga warga, peziarah sejarah, dan generasi muda.
Sebagai bentuk penghormatan, Pemerintah Kota Mataram menetapkan nama Saleh Sungkar sebagai nama salah satu ruas jalan penting di kawasan Ampenan, yang terhubung langsung ke jantung kota. Jalan ini kini menjadi arteri lalu lintas, dipenuhi toko, bank, warung makan, dan rumah warga.
Setiap harinya ribuan orang melewati jalan ini, meski hanya sedikit yang tahu kisah di balik nama itu. Namun bagi sebagian kecil yang tahu, jalan itu menjadi pengingat abadi.
Bahwa di balik tiap nama, ada sejarah. Dan di balik sejarah, ada keberanian dan pengorbanan.
Makam mungkin diam, tapi ia menyimpan gema sejarah. Ziarah yang dilakukan hari itu bukan semata ritual, melainkan bentuk pemulihan memori.
Di tengah masyarakat yang mudah melupakan pahlawan lokal, tindakan kecil seperti menabur bunga atau membaca doa menjadi bentuk perlawanan terhadap lupa. Dan mungkin, selama masih ada yang datang bersimpuh seperti ketiga perempuan itu, nama Saleh Sungkar tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan Lombok.
“Ya dalam waktu-waktu tertentu, kami berziarah ke sini,” tutur seorang peziarah, Siyfa.
Sebagai informasi, kompleks pemakaman Bintaro bukanlah tempat biasa. Ia adalah salah satu situs sejarah paling tua di Ampenan, yang menjadi rumah terakhir bagi para ulama, habib, dan bangsawan Arab yang membangun peradaban di pesisir barat Pulau Lombok sejak abad ke-18.
Di sinilah komunitas Arab Hadhrami—yang datang dari Yaman melalui jaringan niaga Samudra Hindia—berbaur dengan penduduk lokal, membawa Islam, bahasa, dan juga struktur sosial yang khas.
“Jadi selain yang bukan keturunan Arab tidak diperkenankan dimakamkan di sini,” timpal Abah Salim. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post