Selain mobil bertenaga gas elpiji, satu lagi inovasi Wayan yang sayang dilewatkan. Sebuah pendingin mayat dengan manfaat besar bagi umat Hindu di Kota Mataram.
----
DI ANTARA tumpukan kulkas rusak, pipa-pipa logam, dan mesin AC bekas, suara kompresor menderu dari sudut bengkel, seperti napas kehidupan dari mesin-mesin tua yang coba dihidupkan kembali.
Wayan Kembali menceritakan satu inovasi sederhana yang pernah dibuatnya, meski sederhana namun sangat bermanfaat khususnya bagi umat Hindu di Kota Mataram.
“Freezer mayat,” katanya, sambil tersenyum.
Alat itu lahir dari empati, bukan teori. Ia ciptakan dari kulkas-kulkas bekas.
Dan itu semua dimulai dari kematian ibunya. Saat itu Wayan dihadapkan pada situasi yang tak mudah.
Dalam tradisi umat Hindu, jenazah tidak langsung dikuburkan, tapi disemayamkan hingga hari pengabenan. Namun, tanpa fasilitas pendingin yang memadai, tubuh orang tercinta bisa membusuk, mengeluarkan bau tak sedap, bahkan sebelum upacara dimulai.
“Waktu itu saya pakai formalin, tahan dua hari,” kenangnya.
Setelah itu, ia harus memikirkan cara lagi, agar mayat sang ibu bertahan hingga waktu ritual tiba. “Lalu saya coba pakai dry ice, tahan sepuluh hari. Tapi tetap ada bau. Dari situ saya mulai berpikir—kalau tongkol tuna bisa beku, manusia juga pasti bisa,” ucapnya.
Logikanya sederhana, tapi langkahnya tidak main-main. Ia bongkar kulkas bekas. Ia sambungkan kompresor.
“Saya cek suhu dan kelembapan yang dihasilkan,” tuturnya.
Tak ada skema rumit atau blueprint buatan pabrik. Hanya naluri, pengalaman, dan niat membuat yang terbaik dari yang ia punya.
Freezer mayat buatannya akhirnya jadi. Satu peti logam sederhana, dirakit dari bahan rumah tangga, tapi mampu menjaga tubuh manusia tetap utuh dan bebas bau hingga dua belas hari.
Lebih tahan lama dari formalin, lebih efektif dari dry ice, dan—yang paling penting—bisa diakses siapa saja.
“Saya buat dari kulkas biasa. Cuma saya modifikasi, saya sambung supaya muat satu tubuh. Ternyata bisa,” ujarnya.
Tak lama setelah alat itu selesai, suatu pagi sekitar pukul enam, pintu rumahnya diketuk keras-keras. Seorang warga datang, tergesa-gesa, ingin meminjam freezer mayat itu untuk keluarganya yang meninggal dunia.
Sejak saat itu, alat tersebut berpindah dari satu rumah duka ke rumah lain. Dari warga biasa, hingga tokoh masyarakat, bahkan anggota DPRD.
Pernah juga dipinjam rumah sakit provinsi. Lalu pindah ke tempat lain lagi, tapi Wayan tak mempermasalahkan.
“Enggak apa-apa yang penting bermanfaat,” katanya ringan.
Kalau disewakan, freezer seperti itu bisa dihargai Rp200 ribu per hari. Tapi Wayan tak pernah menarik bayaran. Ia tahu, duka tidak untuk dijual. Apalagi duka orang lain.
“Orang mati itu harus diperlakukan dengan hormat,” ucapnya pelan.
Kalimat itu keluar bukan dari seorang pengusaha, melainkan dari seorang anak yang tak ingin ibunya pergi dengan cara yang tidak layak. “Terakhir infonya ada di rumah sakit kota, jadi kalau ada warga yang datang mau pinjam saya arahkan mencari ke sana,” ucapnya.
Kisah Wayan tak berhenti di freezer mayat. Ia terus berinovasi dari kebutuhan yang ia lihat langsung di sekelilingnya.
Ia pernah diminta membuat mesin mengolah jahe dalam jumlah besar, dan berhasil. Begitu pula pernah membuat mesin pencetak es krim dengan kapasitas 3.000 batang—dua kali lipat dari mesin biasa. Ketika tahu betapa melelahkannya menggoreng kedelai untuk tempe, ia membuat mesin penggoreng otomatis.
“Saya coba dulu bagaimana susahnya, baru saya buatkan alatnya,” terangnya.
Tidak ada gelar insinyur di belakang namanya. Tapi di balik bengkelnya, ada prinsip-prinsip teknik yang lahir dari pengalaman dan kepekaan.
Setiap kabel ia sambung dengan hati, setiap mesin ia bangun dengan rasa. Dan di usia kepala enam , Wayan masih terus membuat alat-alat yang bermanfaat bagi masyarakat. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam