LombokPost - Warga Kota Mataram semakin resah dengan bau menyengat dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sandubaya.
Kondisi ini diperparah pembatasan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok yang sudah berlangsung lebih dari tiga pekan.
Tumpukan sampah yang menggunung di TPS Sandubaya, yang berlokasi dekat pertokoan dan jalan raya, menjadi sumber utama keluhan.
Seorang warga bernama Dina mengaku aktivitasnya terganggu akibat bau busuk tersebut.
“Kemarin malam Minggu saya salat Magrib di masjid yang di Sweta, bau sampahnya sampai sana. Lama baru hilang,” ujarnya kepada Lombok Post, Selasa (13/5).
Dina yang datang dari arah Narmada menuju Mataram bahkan mencium bau tidak sedap itu hingga depan Transmart Mataram.
“Baunya benar-benar menyebar,” imbuhnya.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Vidi Partisan Yuris Gamanjaya mengakui adanya masalah tersebut.
Ia mengatakan, TPS Sandubaya saat ini menjadi penampungan sementara terbesar di Kota Mataram.
“Kita tidak menutup mata ya akan hal itu. Ketimbang kita taruh di pinggir jalan berserakan di mana-mana. Yang jelas kita tetap berupaya untuk mengatasi ini,” jelas Vidi.
Ia menambahkan, keluhan bau bukan satu-satunya yang diterima pihaknya.
“Ya wajar warga mengeluh, kita rasa sih wajar. Tapi ini bukan kesalahan dari pemerintah maupun pemerintah Lobar ataupun provinsi ya. Namanya sampah ini terus bertambah dari tahun ke tahun,” tuturnya.
Vidi menegaskan, kondisi saat ini sudah darurat. Bahkan, Wali Kota Mataram telah mengeluarkan surat keputusan kedaruratan terkait persoalan sampah.
Diperkirakan, tumpukan sampah di TPS Sandubaya telah mencapai lebih dari 2.000 ton.
“Ada dua ribu ton,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hari ini akan ada pertemuan dengan Inspektorat NTB, menyusul hasil pembicaraan sebelumnya bersama Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Barat.
Pertemuan tersebut membahas rencana penggunaan lahan warga di wilayah Kebon Ayu, Lombok Barat, yang akan disewa sebagai tempat pembuangan sementara sambil menunggu pembukaan lahan landfill di TPAR Kebon Kongok.
“Kita bahas dulu dengan inspektorat mengenai pembayaran dengan pemilik lahan. Kalau itu sudah klir, baru kita bisa buang ke sana,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Vidi juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Menurutnya, jika sampah sudah dipilah, proses pengolahan di TPS akan lebih efektif.
“Tapi saat ini, kondisi sampah yang masuk ke TPS masih bercampur tanpa dipilah. Sehingga membutuhkan waktu dan daya serap yang sedikit,” pungkasnya.
Upaya penanganan krisis sampah di Mataram terus dilakukan. Namun, keluhan warga terkait bau menyengat dari TPS Sandubaya menjadi perhatian utama.
“Ya kalau peredam juga tidak bisa. Untuk meredam ya satu-satunya juga dengan mengangkut sampah itu. Kita bersihkan,” tandasnya. (chi/r7)
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Lombok Post