LombokPost - Kepala Pasar Kebon Roek Malwi mengungkapkan kekesalannya terhadap praktik juru parkir (jukir) di pasar yang ia pimpin.
Ia menyoroti tindakan jukir yang tidak hanya menarik biaya parkir, tetapi juga membiarkan pedagang berjualan di area parkir serta menarik setoran dari mereka.
Malwi meminta Dinas Perhubungan Kota Mataram agar menindak tegas jukir yang melanggar aturan tersebut.
Ia mencontohkan kondisi di sisi timur pasar, di mana tidak terlihat sepeda motor yang parkir. Namun, setoran parkir tetap disetorkan jukir di area tersebut.
“Coba lihat di sebelah timur, ada tidak sepeda motor yang parkir? Tidak ada. Tapi kok setoran masuk, dari mana dapat uang. Saat ditegur dijawab, ini kan lahan parkir," ujarnya, geram.
Menurut Malwi, banyak pedagang menggelar dagangan di lahan parkir, dan ironisnya, jukir juga menarik setoran dari aktivitas berjualan tersebut.
Ia berharap para jukir dapat lebih tegas dalam menertibkan pedagang yang berjualan di area parkir.
“Kenapa taruh pedagang di lahan parkir? Mereka menjawab karena juga butuh setoran," jelasnya.
Malwi menegaskan, sesuai peraturan yang berlaku, jukir seharusnya hanya menerima setoran dari aktivitas parkir.
Sementara itu, pihak pasar hanya menarik retribusi dari pedagang, dan tidak memiliki kewenangan menarik retribusi parkir.
“Kalau target turun kan kami ditegur," keluhnya.
Ia meminta para jukir lebih jeli dalam menjalankan tugas. Praktik menarik setoran dari pedagang di area parkir, menurutnya, tidak memberikan keuntungan apa pun bagi pihak pasar.
Sebaliknya, hal itu menyebabkan kondisi pasar menjadi kotor, semrawut, dan memicu kemacetan lalu lintas di sekitar area pasar.
"Makanya saya minta ke Pak Kadis Perhubungan untuk mengumpulkan jukir yang ada di Kebon Roek, dan berikan catatan parkir," imbuhnya.
Menurutnya, Dishub Kota Mataram kemungkinan dapat memberikan sanksi atau pembinaan agar praktik tersebut tidak terulang.
Ia menyebutkan, terdapat sekitar 150 pedagang yang berjualan di area parkir. Jumlah ini cukup signifikan dibandingkan total pedagang tetap Pasar Kebon Roek yang mencapai 920 orang.
Malwi mengakui, salah satu penyebab pedagang memilih berjualan di luar los pasar, termasuk di lahan parkir, adalah kondisi bangunan lantai dua pasar yang dinilai tidak representatif.
Banyak pedagang enggan berjualan di lantai atas karena minimnya fasilitas dan sepinya pengunjung.
Menurutnya, lokasi di dalam los pasar seharusnya tidak menjadi penghalang untuk mendapatkan pembeli.
Ia menduga, pedagang memilih berjualan di luar agar lebih cepat menarik perhatian pengunjung.
Akibat kondisi bangunan lantai dua yang kurang menarik, banyak los di dalam pasar yang ditinggalkan pedagang dan memilih berjualan di luar.
Dari total luas los pasar yang mencapai 3.500 meter persegi, hanya sekitar 70 persen yang saat ini digunakan.
Kondisi ini memperparah kesemrawutan di luar pasar, termasuk di lahan parkir yang seharusnya steril dari aktivitas berjualan.
“Ya kalau kita tegur juga susah,” tandasnya. (chi/r7)
Editor : Rury Anjas Andita