Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Rasa Penasaran Ada Risiko Relasi yang Sulit Menjaga Komitmen, Ini Loh Romansa Instan di Era Algoritma 

nur cahaya • Jumat, 30 Mei 2025 | 05:04 WIB

 

CARI JODOH : Seorang pemuda yang sedang mengunduh aplikasi kencan di ponsel miliknya.
CARI JODOH : Seorang pemuda yang sedang mengunduh aplikasi kencan di ponsel miliknya.
 

Di era teknologi, cinta tak lagi bermula dari tatap muka.

Banyak aplikasi kencan, yang dengan mudah diunduh melalui ponsel, menawarkan harapan dan pertemuan.

Namun di baliknya, juga menyimpan risiko, kebohongan, dan romantisme yang dikemas algoritma.

Baca Juga: Waspada! Aplikasi Minta KTP dan Iris Mata dengan Iming-iming Cashback, Diskominfo Kota Mataram: Ini Sangat Berbahaya!

Diki, seorang pemuda yang baru saja putus cinta, mencoba mengatasi kesepiannya dengan menjajal aplikasi kencan Tinder.

Ia tergerak setelah melihat temannya tampak menikmati pengalaman berselancar di aplikasi tersebut.

“Ya namanya juga abis putus, jadinya kesepian. Terus liat temen kok seru gitu, akhirnya diajarin lah main Tinder,” ceritanya.

Dengan semangat baru, Diki mulai menjelajahi Tinder.

Lima profil perempuan menarik perhatiannya, dan ia pun memberi “swipe kanan” sebagai tanda suka.

Dari lima itu, tiga perempuan ia temui secara langsung. Kemudian berlanjut melalui WhatsApp atau Instagram.

“Ya saya ajak ketemu di Mataram. Ngobrol, kenalan,” ucapnya.

Namun, harapan tak seindah kenyataan. Setelah pertemuan, Diki merasa ada ketidakcocokan. Beberapa profil bahkan sangat berbeda dengan aslinya.

“Jauh sekali bedanya. Mungkin kebanyakan filter foto profil yang dipake,” akunya sambil tertawa.

Pengalaman itu membuka mata Diki bahwa menemukan pasangan lewat aplikasi kencan punya tantangan tersendiri.

Profil digital tak selalu mencerminkan sosok yang sebenarnya.

“Ya setelah ketemu itu udah langsung hapus aja,” tambahnya.

Sosiolog Universitas Mataram Oryza Pneumatica Inderasari memandang, fenomena dating apps sebagai bagian dari pergeseran stock of knowledge masyarakat yang berubah seiring perkembangan teknologi.

Photo
Photo

"Masyarakat kita ini beragam, multi latar belakang. Dari ragam latar belakang itu, pendidikan, kelas sosial, gender, usia, afiliasi ideologis, agama, hingga budaya, membentuk pemahaman berbeda-beda terkait dating apps," jelas Oryza.

Menurutnya, aplikasi kencan merupakan gejala evolusi teknologi komunikasi.

Dulu, relasi sosial dijalin lewat tatap muka, kemudian berkembang menjadi surat, telepon, hingga media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Kini, dating apps hadir sebagai bentuk evolusi berikutnya, khusus untuk relasi romantis.

Lebih lanjut, Oryza menganalisis fenomena ini dengan pendekatan komodifikasi. Ia menilai, kebutuhan akan koneksi intim tetap ada, hanya medianya yang berubah. Di era digital, hubungan sosial dijadikan komoditas.

"Kapitalisme memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan dari hubungan sosial yang punya nilai jual," ungkapnya.

Algoritma menjadi kunci dalam ekosistem aplikasi ini.

Oryza menyebutnya sebagai “makelar cinta” yang mencocokkan pengguna berdasarkan preferensi.

“Makelar itu kan kalau misalnya mau jual baju, dilihat orang ini sedang pakai baju warna merah, kayaknya dia suka warna merah. Jadi dicarikan baju-baju yang warna merah,” paparnya menganalogikan cara kerja algoritma.

Oryza juga menyoroti budaya konsumtif yang tercermin dalam fitur “swipe”. “Masyarakat kita itu konsumtif, nggak berpikir dua atau tiga kali, bahkan empat kali untuk mengambil sesuatu dan menukarnya dengan uang,” kritiknya.

Fitur itu, menurutnya, membuat relasi menjadi transaksional. Semakin besar biaya yang dikeluarkan, semakin banyak fitur yang didapatkan.

“Jadi hubungan sosial itu ibaratnya layanan transaksional,” tambahnya.

Photo
Photo

Afeksi dan cinta pun berubah menjadi kapital simbolik, bukan sekadar emosi, tetapi sesuatu yang dikejar dan dikalkulasi.

Meski demikian, Oryza mengakui sisi positif aplikasi kencan, terutama bagi mereka yang kesulitan bertemu pasangan secara langsung. Aplikasi ini membuka peluang pertemuan lintas batas sosial, budaya, bahkan negara.

“Dating app ini membuka peluang untuk bertemu dengan orang-orang dari latar belakang sosial, budaya, bahkan negara,” katanya.

Namun, di balik peluang itu tersimpan risiko. Teknologi, kata Oryza, selalu menuntut kewaspadaan dan kesiapsiagaan penggunanya.

Ia mengutip teori Ulrich Beck, Sosiolog Jerman, yang menyebut bahwa setiap kemajuan juga memproduksi risiko.

“Sisi negatifnya mungkin risiko emosional dan psikososial,” ujarnya.

Relasi melalui aplikasi rentan rapuh. Komitmen mudah dibuat, namun sulit diwujudkan hingga ke jenjang pernikahan.

“Mudah untuk membuat komitmen pertemuan, tapi agak susah atau bahkan sulit untuk membuat komitmen yang serius untuk melangkah lebih jauh di jenjang pernikahan,” kritiknya.

Objektifikasi menjadi dampak lain. Penilaian didasarkan pada tampilan fisik, membuka ruang ketidakjujuran, seperti manipulasi usia atau foto.

“Jadi di sini ada kecenderungan untuk terjadinya perilaku atau perbuatan tidak jujur atau kebohongan,” pungkasnya.

Nilai kesopanan dan etika komunikasi pun ikut tergerus. Privasi dan keamanan pengguna juga menjadi persoalan serius.

Dating apps, dengan algoritmanya sebagai makelar cinta, mencerminkan kompleksitas relasi manusia di era digital. Di satu sisi menawarkan kemudahan dan harapan, namun di sisi lain menyimpan jebakan yang menuntut kebijaksanaan dalam menggunakannya. (SANCHIA VANEKA/r7)

Editor : Siti Aeny Maryam
#aplikasi #Algoritma #relasi #pasangan #kencan