LombokPost – Pengusaha hotel di Kota Mataram tengah menghadapi masa sulit.
Rendahnya tingkat okupansi menjadi dampak dari efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah.
Selama ini, banyak hotel menggantungkan pendapatan dari kegiatan pemerintahan, terutama hotel-hotel besar dengan fasilitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) I Made Adiyasa Kurniawan mengatakan, kebijakan efisiensi oleh pemerintah sangat berdampak signifikan terhadap industri perhotelan.
Tingkat hunian hotel turun drastis hingga di bawah 40 persen.
“Sampai kapan akan begini terus. Kami benar-benar tidak sanggup,” kata Ketua AHM I Made Adiyasa Kurniawan, Selasa (3/6).
Saat ini, kata dia, hotel-hotel di Mataram praktis hanya mengandalkan tamu leisure dari kalangan wisatawan.
Mereka harus bersaing dengan hotel-hotel yang berada di kawasan destinasi wisata seperti Mandalika, Senggigi, dan tiga Gili.
“Padahal orang yang pelesir, angka menginapnya di tempat pelesir, bukan hotel di Kota Mataram,” ujar Adi, sapaan karib I Made Adiyasa Kurniawan.
Dalam kondisi yang disebutnya "babak belur" ini, banyak manajemen hotel melakukan efisiensi jumlah tenaga kerja.
Karyawan kontrak, misalnya, banyak yang tidak diperpanjang kontraknya.
Selain itu, pekerja harian yang biasa terlibat dalam kegiatan MICE juga tidak lagi dipekerjakan.
“Itu jumlah tenaga kerja di MICE cukup banyak. Kalau skala acaranya besar, bisa sampai ratusan orang. Ini tidak ada yang bekerja sekarang,” ungkap Adi.
Manajemen hotel juga terpaksa menerapkan sistem unpaid leave dan mengurangi besaran gaji pegawai.
“Kalau karyawan tidak masuk kerja karena cuti, gajinya akan dikurangi. Padahal sebelumnya, kalau cuti mereka tetap mendapat gaji penuh. Sekarang nggak lagi. Gajinya akan dikurangi supaya hotel bisa bertahan,” ungkap pemilik Nutana Hotel itu.
AHM meminta pemerintah daerah turun tangan menyelamatkan industri perhotelan di Mataram.
Salah satunya dengan memperbanyak event yang mendatangkan tamu dari luar daerah, agar mereka menginap di hotel-hotel yang ada di Kota Mataram.
AHM juga mendorong pemerintah untuk mengembangkan sport tourism, seperti lomba lari atau event sepeda.
Sport tourism dinilai potensial untuk dijual secara luas jika dikemas secara menarik oleh penyelenggara yang profesional.
“Kalau memang efisiensi dari pemerintah masih lama, kami minta pemerintah harus kreatif datangkan wisatawan dengan event,” tandas I Made Adiyasa Kurniawan. (mar/r7)
Editor : Jelo Sangaji