Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lahan Kosong Kian Langka Terdata 74 Persen Tanah Ibu Kota Sudah Berdiri Bangunan, Kota Mataram Butuh Solusi Seimbang Kebutuhan Pangan dan Hunian

Lombok Post Online • Jumat, 13 Juni 2025 | 09:06 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost – Kota Mataram menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan lahan yang semakin terbatas dan mengalami penyusutan. Berdasarkan pembaruan peta terbaru, luas wilayah Kota Mataram berkurang dari 6.310 hektare menjadi 6.020 hektare.

Dari jumlah tersebut, 74,10 persen atau sekitar 4.460 hektare telah menjadi lahan terbangun, menyisakan 1.559 hektare atau 25,90 persen yang belum terbangun.

“Itupun sebagian besar telah dikunci dengan berstatus Lahan Sawah yang Dilindungi, Ruang Terbuka Hijau,” kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana.

Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kota Mataram tengah menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seiring dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Dokumen RTRW ini krusial untuk merencanakan kembali struktur dan pola pemanfaatan ruang kota agar selaras dengan program-program yang termuat dalam RPJMD lima tahunan dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dua puluh tahunan.

Penyusunan rencana kota dengan pendekatan spasial dan nonspasial secara bersamaan ini dinilai sebagai momentum yang penting dan monumental.

“Ibarat di persimpangan jalan dengan banyak pilihan arah. Salah melangkah, maka akan berakibat disorientasi dan fatal,” ucapnya.

Mohan juga menyoroti dinamika masyarakat kota yang terus berkembang. Setiap pergerakan penduduk, karena motif sosial maupun ekonomi, membutuhkan prasarana dan sarana yang memadai. Karena itu, konsistensi dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan.

“Pentingnya menyatukan dua arus harapan, antara pemerintah dan warga, bukan mempertentangkannya,” jelasnya.

Ia mencontohkan beberapa persoalan mendesak yang harus segera diatasi, seperti penyediaan lahan pemakaman, ruang terbuka hijau (RTH), dan tempat pengelolaan sampah sementara (TPS). Termasuk pula persoalan transportasi publik yang menjadi isu penting untuk mengantisipasi kemacetan yang mulai terasa di Kota Mataram.

“Semua isu ini membutuhkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan, yang dapat terakomodasi dalam RTRW yang baru,” tambahnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Irwan Harimansyah turut menyoroti persoalan ketersediaan lahan, khususnya luas baku sawah.

Setelah dilakukan identifikasi bersama tim konsultan dan penyuluh, ditemukan bahwa luas baku sawah di Kota Mataram mencapai 1.170 hektare. Angka ini telah disepakati di tingkat kelurahan dan kecamatan sebagai data riil di lapangan.

KIAN BERKURANG: Lahan persawahan di Kota Mataram terus menyusut seiring dengan pesatnya pembangunan hunian di ibu kota.
KIAN BERKURANG: Lahan persawahan di Kota Mataram terus menyusut seiring dengan pesatnya pembangunan hunian di ibu kota.

“Harus kita turun langsung ke lapangan mengidentifikasi dan verifikasi,” terang Irwan.

Terkait Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B), Irwan menyebutkan bahwa luasannya masih dalam estimasi sekitar 338 hektare. Menurutnya, mempertahankan luas baku sawah di tengah pesatnya pembangunan hunian menuntut adanya solusi yang seimbang.

“Hunian tidak lagi secara horizontal, tetapi secara vertikal untuk mempertahankan luas baku sawah,” tegasnya.

Langkah ini dinilai sebagai kunci untuk menjaga ketahanan pangan lokal sekaligus memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat yang terus bertambah. (chi/r7)

Editor : Siti Aeny Maryam
#Kota Mataram #pembaruan #rth #tps #lahan kosong