LombokPost – Penerimaan Pajak Restoran di Kota Mataram menunjukkan performa baik hingga pertengahan tahun 2025.
Data terbaru dari Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram per 23 Juni 2025 mencatat, sektor kuliner ini telah berkontribusi signifikan terhadap kas daerah.
Bahkan melampaui ekspektasi di semester pertama.
Baca Juga: Pemprov NTB Segera Berikan Diskon Pajak Kendaraan Bermotor, Catat Tanggalnya
“Ya lebih dari 50 persen capaiannya,” kata Kepala Bidang Pelayanan Penagihan dan Penyuluhan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram, Achmad Amrin.
Hingga bulan Juni ini, realisasi kumulatif Pajak Restoran telah mencapai angka fantastis, yakni Rp 22.363.648.918,94.
Capaian ini merepresentasikan 55,91 persen dari target tahunan 2025 yang dipatok sebesar Rp 40.000.000.000,00.
Baca Juga: Belum Optimal, Sektor Pajak Hotel Semester Pertama, Kerja Keras!
Dengan sisa waktu enam bulan lagi di tahun berjalan, momentum positif ini membuka peluang besar bagi penerimaan dari sektor restoran untuk tidak hanya mencapai, melainkan bahkan melampaui target yang telah ditetapkan.
Khusus di bulan Juni, Pajak Restoran menyumbang tambahan Rp 3.367.158.979,52 pada total realisasi, menegaskan konsistensi pertumbuhannya.
Amrin mengatakan, tren positif ini mengindikasikan kuatnya geliat ekonomi masyarakat lokal dalam aktivitas konsumsi di luar rumah.
Di samping itu, menepis asumsi terkait efisiensi belanja pemerintah sebagai pemicu penurunan pajak lainnya.
Dirinya menyebutkan beberapa faktor yang menjadi pendorong kinerja cemerlang Pajak Restoran.
Salah satunya adalah meningkatnya kesadaran dan ketaatan wajib pajak, yang merupakan buah dari pengawasan ketat yang dilakukan oleh tim BKD.
Selain itu, animo masyarakat untuk makan di rumah makan dan restoran juga tinggi, meskipun untuk memastikan ini secara ilmiah tentu memerlukan kajian khusus.
Karena menurutnya, tren konsumsi masyarakat ini tidak ada kaitannya langsung dengan kebijakan efisiensi belanja pemerintah.
“Ini lebih ke arah minat masyarakat," ujarnya.
Ia menekankan tingginya selera warga kota untuk berbelanja atau makan di luar rumah menjadi faktor utama. Bahkan, belanja di luar ini bisa jadi bentuk efisiensi bagi masyarakat itu sendiri.
Baca Juga: Tunggakan PBB Masyarakat Lotim Capai Rp 55 Miliar, Pajak Kewajiban Masyarakat
Dengan banyaknya penawaran kuliner dan beragam pilihan, aktivitas makan di luar dapat menjadi alternatif yang lebih efisien bagi pengelolaan keuangan rumah tangga dibandingkan menyiapkan makanan di rumah. “Ya mungkin begitu daripada masak di rumah,” jelasnya.
Ditambah lagi, usaha rumah makan di Kota Mataram yang terus menjamur turut mengundang minat dan rasa penasaran masyarakat untuk mencoba tempat-tempat baru. Hal ini secara tidak langsung turut memengaruhi peningkatan pajak.
Jika dibandingkan dengan sektor perhotelan, kinerja Pajak Restoran jauh lebih unggul dalam persentase pencapaian target. Pajak Hotel, dengan target Rp 30.000.000.000,00, baru mencapai realisasi kumulatif sebesar Rp 11.816.124.923,39 atau sekitar 39,39% dari targetnya.
Meskipun secara nominal realisasi Pajak Hotel di bulan Juni Rp 1.909.587.055,39 lebih rendah dari Pajak Restoran, perbedaan persentase pencapaian target antara kedua sektor ini sangat signifikan. Ini menjadi indikator jelas bahwa sektor kuliner di Kota Mataram sedang mengalami pertumbuhan penerimaan pajak yang lebih dinamis dan pesat.
Selama ini, Pajak Restoran memang menjadi salah satu sumber pajak primadona Kota Mataram, terutama pasca-pandemi COVID-19 seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat.
Tren ini tidak hanya mencerminkan vitalitas industri kuliner lokal, tetapi juga memberikan gambaran optimis terhadap potensi penerimaan asli daerah (PAD) Kota Mataram ke depan.
Senada dengan itu, sebelumnya Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram Amiruddin mencatat pertumbuhan signifikan pada sektor usaha makanan dengan total 878 unit usaha terdaftar pada tahun 2024, berdasarkan data Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2024. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang substansial dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ya jadi yang naik itu usaha makanan ini, cafe-cafe, restoran kecil. Kelihatan kok, di selatan itu banyak,” kata Amiruddin. (chi/r9)
Editor : Jelo Sangaji