LombokPost - Agam Rinjani membagikan pengalaman hidupnya sebelum akhirnya berada di Lombok.
Rupanya Agam Rinjani bukanlah warga asli Lombok melainkan warga Makassar.
Agam Rinjani tak pernah terpikir untuk menetap di Lombok tepatnya di kaki Gunung Rinjani.
Baca Juga: Minim Pendaftar, SDN 36 Ampenan di Mataram Baru Terima Dua Siswa Baru
Dirinya hanya senang menghabiskan waktu di alam terutama di gunung.
Masuk dalam himpunan mahasiswa pecinta alam, Agam Rinjani pertama kali ke Lombok pada saat dirinya masih menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin Makassar.
Setelah lulus kuliah, Agam Rinjani diminta juniornya di kampus untuk menemani mendaki Gunung Rinjani.
Tak disangka, saat pendakian keduanya, Agam Rinjani mendapatkan pengalaman untuk mengevakuasi pendaki yang tenggelam di danau air panas.
Setelah pendakian tersebut, Agam Rinjani tak lantas pulang ke Makassar.
Dirinya malah menyobek tiket pesawat dan menetap di Bali untuk sementara waktu.
Saat di Bali, uang yang dimiliki Agam Rinjani hanya tersisa Rp10.000 saja.
Dirinya akhirnya memutuskan untuk membantu warung lalapan yang ada di Bali untuk mendapatkan makan.
Tak hanya mendapatkan makan, Agam Rinjani juga diberikan tempat beristirahat.
Setelah beberapa hari membatu mencuci piring, Agam Rinjani akhirnya memutuskan untuk datang ke Universitas Udaya.
Disana, dirinya mencari kenalan untuk menumpang istirahat.
Tak disangka, teman satu himpunan yang sempat bertemu di Makassar memberikan Agam tumpangan.
Tak lama, Agam Rinjani diminta untuk menjadi pemandu seorang mahasiswa dari Jakarta untuk naik Gunung Agung.
Usai menjadi pemandu di Gunung Agung, Bali, Agam Rinjani memutuskan untuk pergi ke Lombok.
Berbekal uang yang diterima saat menjadi pemandu, Agam membeli peralatan hingga stok makanan untuk dibawa ke Lombok.
Lantaran uang yang tersisa hanya Rp20.000, Agam memutuskan untuk menumpang truk yang akan berangkat ke NTB.
Beruntungnya ada sebuah truk yang akan berangkat ke NTB dan melewati Lombok.
Namun tak sesuai harapan, truk yang ditumpanginya berjalan lambat lantaran sang supir mengantuk.
Alhasil Agam yang sejak SD sudah mahir menyetir truk berinisiatif menggantikan sang supir membawa truk ke Lombok.
Sang supir yang berterima kasih memberikan Agam makan, hingga uang saku bahkan sempat menawari pekerjaan untuk mengemudi truk hingga Bima.
Agam yang tadinya mencari kampus untuk beristirahat akhirnya memutuskan untuk pergi ke Senggigi, Lombok.
Disana Agam tinggal di pinggir pantai dengan mendirikan tenda dan memancing untuk makan sehari-hari.
Tak hanya tinggal di pinggir pantai, Agam pun sempat berkontribusi untuk membantu menjaga kebersihan pantai dengan memungut sampah yang ada di laut.
Bahkan Agam sempat menghubungi kenalannya untuk membantu nelayan agar mendapatkan bantuan seperti kapal dan jaring.
Setelah berpetualang di Senggigi, akhirnya Agam kembali ke Gunung Rinjani.
Agam Rinjani memulai karirnya di Gunung Rinjani sebagai porter selama 4 tahun yang sesekali diisi dengan menjadi pemandu para pendaki.
Uang yang didapat menjadi porter tersebut dikumpulkan Agam Rinjani hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membuka usaha eskrim di Gili Trawangan.
Usaha eskrim tersebut ternyata berjalan lancar dimana Agam hanya menerima beberapa persen dari usaha tersebut lantaran usahanya dikelolo bersama oleh teman-temannya.
Dari usaha tersebut, Agam mendapatkan tambahan uang selain menjadi pemandu di Gunung Rinjani.
Sayang usaha eskrimnya harus tutup lantaran pandemi Covid 19 yang saat itu juga melanda NTB.
Setelah usahanya tutup, Agam hanya berfokus menjadi pemandu bagi para turis yang datang ke Gunung Rinjani.
Sempat berpindah-pindah tempat, akhirnya Agam Rinjani dipercaya oleh temannya untuk mengurus dan mengelola tanah miliknya di Sembalun.
Disana, dirinya mendirikan rumah berukuran 4x3 meter yang dibuatnya sendiri dari kayu-kayu yang ada di Gunung Rinjani.
Atas kecintaannya terhadap Rinjani dan rasa kemanusiaannya, Agam Rinjani memutuskan untuk menjadi tim relawan untuk memberikan bantuan kepada para pendaki di Gunung Rinjani.
Bahkan saat ini Agam Rinjani memiliki program untuk melatih para porter hingga pemandu agar lebih profesional dan dapat memastikan pendaki selalu aman.
Tak hanya memberikan edukasi bagi pemandu dan porter, Agam Rinjani juga merangkul masyarakat Lombok khususnya yang berada di sekitar Gunung Rinjani untuk menjaga dan merawat Gunung Rinjani dari sampah.
Editor : Siti Aeny Maryam