Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Dua Bulan dari Balik Asap Dapur Umum Tagana Bintaro: Berkuintal Beras dan Puluhan Tray Telur Dihabiskan, Warga yang Lewat Tetap Dilayani

Lombok Post Online • Kamis, 3 Juli 2025 | 10:28 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Tak jauh dari sudut Mataram yang sempat menjadi titik rawan pasca-sengketa lahan, aroma masakan kerap tercium sejak siang hingga malam.

Bukan dari warung makan atau restoran, melainkan dari tenda sederhana yang selama dua bulan menjadi jantung ketahanan warga Pondok Prasi.

Dapur umum Tagana Dinas Sosial Kota Mataram. 

Baca Juga: Warga Mulai Bangun Harapan Baru di Ampenan, Huntara Pondok Prasi Resmi Ditempati

BERSAMA deru kompor dan panci-panci besar, cerita-cerita kecil bergulir di sela asap dapur. Cerita tentang kehilangan, ketahanan, dan solidaritas.

“Kita siapkan dapur umum. Operasi dua bulan penuh. Tiap siang dan malam, makanan selalu tersedia,” tutur Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Lalu Samsul Adnan, mengenang hari-hari itu, Rabu (2/7).

Dapur umum ini didirikan sebagai bentuk tanggap darurat pasca-penggusuran warga Pondok Prasi, yang kalah sengketa lahan. Sebanyak 18 Kepala Keluarga (KK)—sekitar 54 jiwa—mengandalkan dapur ini untuk makan sehari-hari, sebelum akhirnya dipindahkan ke hunian sementara (huntara) di Rusunawa Ampenan.

Tak ada sarapan. Bukan karena lupa, tapi karena kebutuhan disesuaikan dengan realitas.

“Karena kita bukan hotel, jadi cuma makan siang dan malam,” seloroh Samsul sambil tertawa kecil.

Kebanyakan warga adalah nelayan. Pagi-pagi mereka sudah ke laut.

Jadi dapur baru ramai menjelang siang, saat perut mulai kosong dan aroma nasi mulai menguar dari balik tenda biru.

Logistik pun disiapkan dalam skala besar: 3 kwintal beras, 20 tray telur, serta pasokan mie instan, minyak goreng, dan air mineral yang tak kalah banyaknya.

Semua habis. Bukan karena boros, tetapi karena setiap hari, Tagana memastikan: Tak satu pun perut boleh kosong.

Setiap hari, dapur umum menyajikan menu dengan gizi seimbang. Ada karbohidrat dari nasi dan mie, serta protein dari ikan laut, telur, ayam, dan daging.

NIKMAT: Tim Dapur Umum, Tagana, Dinas Sosial, Kota Mataram tengah menyiapkan makanan untuk warga, beberapa waktu lalu.
NIKMAT: Tim Dapur Umum, Tagana, Dinas Sosial, Kota Mataram tengah menyiapkan makanan untuk warga, beberapa waktu lalu.

Yang paling menyentuh? Semua masakan dibuat fresh, tanpa makanan sisa. “Teman-teman Tagana yang masak sendiri. Mereka jaga dapur, masak, dan layani langsung warga,” jelas Samsul.

Di sinilah kisah-kisah kecil tumbuh. Ada nelayan tua dari kampung sebelah yang sering lewat, hanya untuk sekadar bertanya masih ada makanan sisa.

“Tetap semua kita layani,” tekannya.

Tidak hanya itu, pelayanan Tagana pun diberikan pada warga sekitar yang ikut lapar oleh aroma masakan yang menggoda. “Ada juga warga sekitar, bukan korban, tapi datang minta makan. Kita layani juga, walaupun berulang kali,” ucapnya. 

Setelah warga Pondok Prasi resmi menghuni huntara, dapur umum resmi ditutup. Tapi bekasnya masih membekas.

Tidak hanya dalam catatan konsumsi yang mungkin tak akan masuk arsip sejarah. “Tapi intinya kita tetap saling peduli dan pemerintah tidak lepas tangan pada keadaan warga,” pungkasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r9)

Editor : Jelo Sangaji
#pondok prasi #dapur umum #Sengketa Lahan #Mataram #huntara