Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Warga Pondok Prasi Ucapkan Terima Kasih pak Wali, Huntara Bukan Rumah Sempurna tapi Awal yang Baru

Lombok Post Online • Kamis, 3 Juli 2025 | 11:05 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Langit pagi di kawasan utara Rusunawa Bintaro, Ampenan belum benar-benar terik.

Tapi panas hati warga Pondok Prasi yang selama ini mengendap di dada, perlahan mendingin.

Dari Tenda ke Huntara, hingga Tangis Haru Warga.

Baca Juga: Warga Mulai Bangun Harapan Baru di Ampenan, Huntara Pondok Prasi Resmi Ditempati

BUKAN karena waktu, melainkan karena seseorang datang—bukan sekadar datang, tapi menghampiri dan menatap mata mereka satu per satu. Dialah, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana.

Mohan datang bersama Kapolres Mataram AKBP Hendro Purwoko, Camat Ampenan Muzakkir Walad, dan beberapa pejabat lainnya.

Tujuannya, mengecek langsung 20 unit hunian sementara (huntara) yang dibangun bagi warga Pondok Prasi yang beberapa bulan terakhir hidup dalam guncangan: digusur, kehilangan tempat tinggal, dan nyaris kehilangan harapan.

Pagi itu, sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan berdinding tripleks sedang tumbuh. Di sana harapan mulai punya pondasi.

Tak ada pengeras suara. Tak ada barikade aparat. Yang terdengar hanya gumaman warga di sisi utara area huntara.

Ibu-ibu dan bapak-bapak terdampak penggusuran berdiri berkerumun, mengamati pejabat yang tengah bercakap serius di depan tenda darurat. “Itu pak wali kota ya?” tanya seorang Ibu, dalam bahasa Sasak.

“Yang mana?” sahut yang lain.

“Itu yang pakai kaca mata,” jawab yang lain lagi.

Mereka saling bertanya. Ada keinginan mendekat, tapi rasa segan menahan langkah.

Mungkin karena trauma pada kekuasaan. Mungkin karena merasa terlalu kecil untuk sekadar menyapa.

Tapi kejutan datang bukan dari mereka. Justru Mohan yang melangkah menghampiri mereka,  mengulurkan tangan mengajak warga berjabat tangan. 

Nyaris tidak ada obrolan di detik-detik awal. Yang ada hanya jabat tangan tulus, sapaan hangat, dan mata-mata yang mulai berkaca-kaca.

Satu per satu warga disapa. Tangan digenggam. Punggung disentuh.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Bahkan kepala seorang balita yang tengah digendong ibunya, dielus lembut oleh Mohan. Tak sedikit ibu-ibu menyeka air mata.

Seorang pria bertubuh besar mendekat, lalu menunduk. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

Hanya matanya yang mulai memerah menahan linangan air mata. “Jangan hanya menunduk, nanti sakit leher,” kata Mohan, memecah keheningan.

Tawa pun pecah. Pria itu akhirnya mendongak malu. Tersipu.

“Terima kasih, Pak Wali,” lirih pria itu, pelan. Hampir tak terdengar.

Mohan tersenyum. Menepuk-nepuk pundak pria berdiri kikuk itu.

Bukan karena huntara pertemuan wali kota dan warga menjadi mewah. Bukan karena tiba-tiba hidup mereka berubah.

Tapi karena mereka sadar: mereka tidak dilupakan.

Warga mengungkapkan selama ini hidup mereka dihantam ketidakpastian.  Bertahun-tahun tak tahu tinggal di mana.

“Sekarang dibangunkan huntara, diberi sembako, Terus didatangi juga sama wali kota,” ujar Sarifudin, Ketua RT warga terdampak, dengan suara tercekat.

Ia menegaskan, sebagian besar warga yang hadir pagi itu tidak terlibat dalam hiruk-pikuk demo di kantor wali kota tempo hari. “Kami bukan yang ikut demo. Tapi kami tidak enak hati karena (yang demo) membawa nama Pondok Prasi. Sekarang, ternyata pemerintah tidak tinggal diam,” ungkap Syarif, pria nyentrik dengan rambut pirang di bagian tengah kepalanya.

Warga menurutnya, sebenarnya paham betul, sengketa tanah yang mereka alami bukan antara mereka dengan pemkot. Tapi antara mereka dan Ratna Sari Dewi—pemilik lahan sah berdasarkan putusan Mahkamah Agung.

RENCANA PENATAAN: Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat berbincang dengan warga, disaksikan Kapolresta Mataram AKBP Hendro Purwoko, Rabu (2/7).
RENCANA PENATAAN: Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat berbincang dengan warga, disaksikan Kapolresta Mataram AKBP Hendro Purwoko, Rabu (2/7).

Tapi luka sosial kadang buta arah. Ada amarah yang tak tahu harus dilempar ke mana.

Itulah yang menyulut ketegangan beberapa waktu lalu. Aksi protes pecah. Pemkot sempat dituding tak peduli.

Namun pagi itu, semua menjadi terang. Tak ada kata marah dari wali kota.

Tak ada ingatan akan demonstrasi. Yang ada justru pesan: tentang bersyukur, tentang kebersamaan, tentang masa depan yang masih bisa dirajut.

“Dulu kami tinggal di Pondok Prasi. Sekarang kami jadi warga Bintaro Jaya,” terangnya.

Sarifudin tahu betul, warganya sempat dibelah antara rasa kecewa dan marah. Sebagian terseret dalam pusaran demonstrasi, sebagian lainnya memilih diam.

Sementara itu, di antara kerumunan warga, Mohan tampak menarik nafas pelan sebelum memulai bicara. Sampai kemudian nadanya yang pelan, membuat suasana hening seketika.

Dalam dialognya dengan warga, Mohan tak hanya menyapa tapi juga menyampaikan janji. Ia tahu, huntara ini bukan solusi akhir.

Tapi Mohan ingin warga percaya masa depan mereka sedang dirancang. “Memang sebelumnya tidak ada kepastian tempat tinggal. Tapi mungkin kejadian kemarin itu adalah cara Allah membuka hati kita semua. Kita ambil hikmah dari itu,” ujarnya.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki keadaan dan perekonomian warga korban penggusuran Pondok Prasi. “Kami akan berusaha agar bapak ibu nantinya bisa menempati lokasi  yang lebih permanen. Tapi untuk saat ini, mohon dijaga kebersamaan dan rasa tanggung jawab atas fasilitas yang sudah ada,” pesannya.

Ia menegaskan, hak-hak warga akan tetap diperjuangkan. Mereka tetap warga Kota Mataram yang harus dilindungi, dibimbing, dan diberi perhatian, sama seperti warga yang lain.

“Saya juga, tidak bisa berinteraksi langsung dengan bapak-ibu semua selama peristiwa kemarin. Tapi sesungguhnya saya memperhatikan,” ujarnya saat berdialog.

Permintaan tambahan seperti dapur (pawon), berugaq, juga ditanggapi langsung. “Tadi ada harapan untuk penambahan dapur, berugaq sekenem (tiang enam, Red) untuk tempat ngaji anak-anak akan kita upayakan, tapi mohon pelan-pelan nggih,” ucapnya.

Camat Ampenan Muzakkir Walad yang turut hadir memastikan semua arahan itu akan ditindaklanjuti secara cepat dan terstruktur. “Siap pak wali,” jawabnya di antara kerumunan warga. (zad/r9)

Editor : Siti Aeny Maryam
#pondok prasi #wali kota #Mataram #huntara #kapolres