LombokPost - Banjir besar yang menghantam Kota Mataram pada Minggu, 6 Juli kemarin, tak hanya melumpuhkan infrastruktur.
Namun juga memicu kepanikan serta meninggalkan trauma bagi warga yang terdampak.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak memandang status sosial dan kekuatan alam mampu mengikis rasa aman dalam sekejap.
SALAH satu warga yang menjadi korban keganasan air bah di Perumahan Riverside, Made Ayu menceritakan saat air mulai masuk ke dalam rumahnya secara tiba-tiba.
Dengan raut wajah masih menyimpan sisa-sisa kepanikan, Made mengungkapkan bahwa awalnya air hanya terlihat seperti genangan kecil.
Namun, dalam hitungan menit, ketinggiannya meningkat drastis dan mengalir deras ke dalam rumah, membuatnya panik tak terkira.
“Sampai di sini saya," kata Made menunjukkan batas air yang nyaris mencapai lehernya, menggambarkan betapa cepat dan tingginya genangan yang merendam rumahnya, Senin (7/7).
Sejak mulai tinggal di kawasan tersebut pada tahun 2015 silam, Made belum pernah mengalami banjir separah ini. Air mata kembali membasahi pipinya saat mengenang kejadian tersebut.
“Dari tahun 2015, baru sekarang kejadian begini," ujarnya lirih sambil terisak.
Dalam situasi yang penuh kekalutan, Made sempat mencoba mengamankan diri ketika air masih setinggi lutut. Ia bergegas keluar kamar untuk mematikan saklar listrik demi menghindari risiko tersengat arus.
"Saya kan awalnya airnya masih segini (seleher). Saya jalan keluar untuk matikan saklar listrik biar tidak kesetrum," jelasnya.
Namun, nasib berkata lain. Setelah itu, ia kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponsel, namun pintu kamar tak bisa dibuka dari dalam.
“Saya matikan dan balik ke kamar saya untuk ambil handphone, kemudian tiba-tiba tidak bisa dibuka pintunya," ungkapnya dengan nada panik yang masih terasa.
Made Ayu mengaku terjebak di dalam kamar selama kurang lebih 15 menit tanpa bisa keluar. Sebuah pengalaman yang membuatnya sangat trauma.
Tak hanya itu, sejumlah barang berharga tak sempat ia selamatkan saat banjir datang secara tiba-tiba. Salah satunya adalah dokumen penting seperti BPKB kendaraan yang tersimpan di dalam mobil.
Beruntung, kedua anaknya berhasil terselamatkan. Mobil Innova putih miliknya pun ikut terseret arus air yang sangat deras sore itu hingga "berlabuh" di Kali Ancar, yang berada di belakang perumahan elite Riverside.
Jarak mobil terseret mencapai lebih dari 50 meter dari tempat parkirnya. Hati Made semakin teriris kala teringat anjing peliharaannya.
Sebelum hujan lebat, anjingnya sempat duduk terdiam di samping mobil Innova itu. “Kasihan, saya enggak kasih dia makan. Mungkin dia mau kasih saya tanda," ungkapnya penuh penyesalan.
Kesaksian lain datang dari warga bernama Hanse Chuan. Ia menjelaskan hujan mulai mengguyur sekitar pukul 13.30 WITA.
Satu jam setelahnya, air sudah mulai meninggi secara drastis, memberikan sedikit waktu bagi warga untuk bereaksi. Hanse juga menyampaikan saran dan harapannya kepada pihak pengembang dan pemerintah terkait pembangunan kawasan perumahan.
Perencanaan kawasan harus memperhitungkan potensi luapan sungai di sekitar perumahan. Menurutnya, posisi bangunan jauh lebih rendah dari aliran sungai, sehingga sangat rawan terdampak banjir besar.
“Tanggul belakang terlalu lemah menahan arus. Saat debit sungai meningkat, air langsung menerjang tanpa penghalang," tambahnya.
Peristiwa ini menegaskan perlunya perhatian serius terhadap tata kelola drainase dan sistem pengamanan banjir. Kawasan permukiman padat seperti Mataram dan khususnya di area yang berdekatan langsung dengan aliran sungai, memerlukan sistem ini.
Keterkejutan serupa dirasakan oleh Andre, seorang pria berkacamata yang juga menjadi korban banjir. Ia mengaku sangat kaget dengan datangnya banjir yang begitu tiba-tiba. Dirinya dibangunkan oleh istrinya saat sedang tertidur lelap.
Saat berusaha menyelamatkan barang-barang dan anjing peliharaannya, air sudah meninggi dengan cepat. Ia mencoba membuka pintu, namun tekanan air yang sangat besar membuat pintu tak bisa digerakkan.
Dalam situasi darurat tersebut, Andre mencoba menyelamatkan diri ke rumah tetangga yang berada di lantai dua. “Ini airnya sampai sini," katanya, sambil menunjukkan bekas genangan air di tembok rumahnya yang jauh melebihi tinggi badan orang dewasa. (SANCHIA VANEKA, Mataram /r9)
Editor : Jelo Sangaji