Langit-langit ruangan itu penuh cahaya.
Ratusan titik lampu menyala di atas kepala, menyinari alat yang sedang digenggam dokter, berseragam krem.
KEDUA tangannya mantap memegang selang bening seperti tongkat sihir yang akan menyentuh sumber kehidupan.
“Inilah jarum OPU, jarum petik telur,” kata dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Selasa (15/7).
Dalam dunia reproduksi berbantu (Assisted Reproductive Technology/ART), jarum OPU adalah senjata utama untuk melakukan prosedur follicular aspiration. “Yakni mengambil oosit langsung dari ovarium pasien,” paparnya.
Beberapa fakta teknis tentang alat ini, material terbuat dari stainless steel kelas medis, tipis dan sangat presisi.
Ukuran umumnya 16–18 Gauge, dengan panjang 30–40 cm. “Struktur terdiri dari bagian utama (tubuh jarum), konektor ke tabung vakum, dan selang untuk mengalirkan cairan folikel,” paparnya.
Tipe ujung bisa single lumen (satu jalur) atau double lumen (dua jalur, untuk bilas dan hisap). Sedangkan produsen alat ini tersedia beberapa merek ternama termasuk Cook Medical, Vitrolife, Rocket Medical, dan ada juga produksi lokal.
Alat itu perlahan diangkat ke bawah cahaya surgical lamp oleh dr. Retno Rekso Wati. Lengkung lampu di atasnya membuat suasana seperti panggung teater.
Tapi ini bukan pertunjukan. Ini adalah momen sakral, tempat kehidupan dimulai, bukan dari rahim, melainkan dari tabung laboratorium.
“Sebelum hari pemetikan telur tiba, pasien perempuan menjalani rangkaian ovarian stimulation,” terang dr. Eka.
Obat-obatan disuntikkan selama beberapa hari untuk merangsang indung telur (ovarium) agar menghasilkan lebih banyak sel telur matang dalam satu siklus. Dokter memantau respons tubuh pasien melalui USG transvaginal dan tes hormon secara berkala.
Secara lebih detail maka pada hari ke-0 sampai ke-10, pasien menerima hormon stimulasi (FSH/LH) setiap hari. “Tujuannya membuat ovarium menghasilkan banyak folikel sehat,” terangnya.
Hari ke-11–12, dilakukan pemantauan lewat USG dan hormon darah. Begitu telur mencapai ukuran ideal 18-22 mm, umumnya terjadi pada hari ke-13–14 dokter akan memberikan trigger shot (suntikan pematangan akhir) seperti hCG atau agonis GnRH.
“Pada hari ke-15, prosedur OPU dilakukan, sekitar 34–36 jam setelah trigger, sebelum ovulasi terjadi,” ucapnya.
Waktu suntikan ini sangat krusial. “Sebelum telur ‘terlambat matang’ dan ovulasi terjadi secara alami,” tekannya.
Hari H tiba. Pasien datang dalam keadaan puasa, mengenakan pakaian steril, dan masuk ke ruang tindakan dengan pengawasan dokter anestesi.
Di ruang inilah semua parameter sudah dipastikan optimal: suhu ruangan, kelembapan, dan jumlah partikel di udara dijaga sesuai standar ISO 5. “Semua demi melindungi kualitas telur,” tekan dr. Eka.
Tepat di tengah ruangan, tersedia ranjang tindakan. Di sisi lain, ada mesin anestesi, bedside monitor, dan mesin USG transvaginal yang tersambung langsung ke layar besar.
“Satu layar juga menampilkan countdown waktu anestesi, suhu ruangan, bahkan kadar tekanan udara,” katanya mendetailkan.
Pasien tertidur. Proses OPU dimulai.
Dokter memasukkan probe USG transvaginal ke dalam vagina pasien. Dengan bantuan gambar USG, dokter mengarahkan jarum panjang ke masing-masing folikel di ovarium.
Jarum ini terhubung dengan sistem sedot otomatis yang mengalirkan cairan folikel ke tabung kecil. “Di dalam cairan inilah sel telur berada,” jelasnya.
Setiap folikel akan disedot satu per satu, perlahan, hati-hati, hingga semua telur terkumpul. “Telur tidak bisa diambil sembarangan,” tekannya.
Dibutuhkan kesabaran dan tingkat presisi tinggi dalam pengerjaannya. “Jika terlambat, telur bisa rusak. Jika terlalu cepat, telur belum matang. Jadi semua harus sinkron, dari waktu penyuntikan sampai tindakan,” jelas dr. Eka.
Begitu disedot, cairan folikel langsung diberikan ke tim embriologis di laboratorium sebelah—yang hanya dipisahkan oleh dinding kaca dan jalur steril. Di bawah mikroskop khusus, embriolog mencari keberadaan telur satu per satu.
“Jika ditemukan, telur akan dicuci, disortir, dan dimasukkan ke dalam medium kultur inkubator khusus,” ucapnya.
Di sinilah mereka menunggu tahap berikutnya: proses pembuahan (inseminasi atau ICSI).
Petik telur bukan sekadar teknis mengambil sel dari tubuh. Ini adalah titik temu antara tubuh manusia dan teknologi reproduksi.
Setiap detik dalam proses ini punya risiko, kalau salah langkah, seluruh siklus bisa gagal. Maka semua dilakukan dengan presisi tinggi.
Ruang tindakan di RS Ruslan sudah dilengkapi sistem kontrol yang sangat canggih—bahkan lampu dan kelembapan ruangan bisa diatur lewat layar sentuh. Sistem gas terintegrasi juga tersedia, termasuk oksigen dan tekanan vakum yang mendukung anestesi.
“Proses ini kayak mencari cahaya kehidupan dari balik gelap,” ucap dr. Eka lalu tersenyum.
Ia menunjuk ke arah lampu bulat besar yang menggantung di atas. “Bukan karena ruangannya gelap. Tapi karena kita benar-benar harus menunggu sinyal kehidupan muncul dari setetes cairan bening yang kita ambil,” ucapnya.
Dalam satu tindakan, bisa saja hanya didapatkan 2–3 telur. Tapi bisa juga lebih dari 10.
“Namun kualitas, bukan kuantitas, yang paling menentukan keberhasilan pembuahan,” ucapnya.
Laporan kali ini terasa sangat teknis. Tapi di balik seluruh perangkat, angka suhu, dan alat bedah steril, sesungguhnya ada sepasang harapan manusia yang berdoa agar satu dari telur-telur itu bisa menjadi anak mereka.
Tapi, petik telur bukan akhir. Ini baru awal dari proses panjang menuju kehamilan yang ditunggu-tunggu.
“Dan semua itu… dimulai dari satu cahaya kecil di bawah sorotan lampu besar,” ucap dr. Eka. (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho