Ada kesunyian yang tak biasa di dalam laboratorium IVF RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram.
Suara langkah kami, dibungkus APD steril, bergesek pelan di lantai vinyl yang mengilap, menggaung lembut di balik tembok-tembok kedap suara.
LAMPU putih menyinari setiap sudut tanpa bayangan, menciptakan kesan seperti memasuki set film fiksi ilmiah. Namun di balik keheningan itulah, sejatinya kehidupan sedang dirancang ulang: zigot demi zigot, sel demi sel, ditangani dengan presisi nyaris sempurna.
Tak ada percakapan keras. Yang berbicara di sini adalah mesin.
Dan tiga di antaranya mendominasi lanskap laboratorium—bukan hanya karena bentuknya yang futuristik, tapi juga karena perannya yang tak tergantikan. Menciptakan awal kehidupan.
“Alat ini merekam dan mengawasi seluruh proses pertumbuhan,” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., Rabu (23/7).
Alat yang dimaksud yakni sebuah inkubator yang bukan hanya menjaga suhu tubuh embrio, tetapi juga merekam seluruh proses pertumbuhannya. Detik demi detik tanpa menyentuhnya.
Itulah fungsi dari Geri® Time-Lapse Incubator buatan Vitrolife, Swedia. “Ini yang terbaik di bidangnya,” tegasnya.
Desainnya ramping dan modern. Namun di balik tampilannya tersimpan sistem observasi mikro yang bekerja tiada henti.
Alat ini memiliki kamera internal yang merekam embrio dalam format time-lapse sepanjang 24 jam nonstop. Setiap sel telur yang telah dibuahi ditempatkan dalam chamber kecil yang direkam tanpa harus dikeluarkan dari inkubator.
“Ini memungkinkan para embriolog memantau dinamika pembelahan sel dengan akurat tanpa mengganggu lingkungan internal,” terang dr. Eka.
Alat ini seperti CCTV embrio, tapi jauh lebih sensitif. Citra yang ditampilkan di monitor tidak hanya hitam-putih, melainkan berwarna—biru, hijau, merah muda—yang menunjukkan fase dan kualitas pertumbuhan masing-masing embrio.
“Dengan data time-lapse ini, dokter dapat menentukan embrio terbaik untuk dipilih dalam transfer ke rahim,” terangnya.
Suhu dijaga stabil di angka 37 derajat Celcius. Komposisi gas CO₂ dan O₂ masing-masing diatur pada kadar 6 persen dan 5 persen, kombinasi ideal bagi pertumbuhan embrio.
Panel digital di sisi alat mencatat angka-angka itu setiap detik. Geri adalah inkubator, namun sekaligus “sutradara biologis” yang mendokumentasikan babak awal dari eksistensi manusia.
Bergeser ke sisi meja analisis, perhatian terpaku pada sebuah monitor besar berlabel Neovo. Di dalamnya, tampak visual kawanan mikroorganisme yang berenang liar—kiri, kanan, zig-zag, seolah saling mendahului.
Namun ini bukan gerakan acak. Inilah medan tempur mikroskopik yang merekam kualitas sperma secara real time.
“Ini adalah sistem digital beresolusi tinggi yang digunakan untuk menilai motilitas (gerakan), morfologi (bentuk), dan konsentrasi sperma,” paparnya.
Dalam dunia IVF, data ini penting untuk menentukan apakah sperma dari pasangan pria layak digunakan dalam prosedur ICSI (Injeksi Sperma Intrasitoplasmik). “Di mana satu sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur,” terangnya.
Umumnya dilihat dari tiga aspek utama: kecepatan gerak, arah, dan bentuk kepala-ekor. Neovo menyederhanakan semua itu menjadi tampilan grafis yang bisa diinterpretasi dalam hitungan menit.
Yang menarik, layar ini tak hanya menampilkan data. Namun dapat menyaksikan langsung pertarungan mikro antara sperma sehat dan yang cacat—sebuah kompetisi biologis tanpa peluit. Pada akhirnya, pemenang yang akan diberi kesempatan menyapa kehidupan.
Berbeda dari Geri yang fokus pada observasi, MIRI lebih dikenal karena kemampuannya menjaga kestabilan lingkungan untuk pertumbuhan embrio. Perangkat ini memiliki enam chamber independen, masing-masing dapat dibuka tanpa mengganggu ruang lain.
“Ini penting, sebab dalam satu hari bisa saja terdapat beberapa pasien dengan waktu perkembangan embrio yang berbeda,” ucapnya.
Geri canggih untuk pemantauan. MIRI ini jagonya kestabilan.
Dengan suhu konstan 37 derajat Celcius, kadar CO₂ 6 persen dan O₂ 5 persen MIRI memastikan, setiap calon embrio berada dalam kondisi ideal. “Tak peduli hari atau malam,” tekannya.
Di sampingnya terdapat barcode scanner dan sistem pelacakan digital. Tiap embrio diberi kode unik dan dilacak sepanjang proses dari pembuahan hingga tahap pra-penanaman.
Keamanan identitas embrio adalah mutlak. “Kesalahan satu digit saja bisa fatal,” tegasnya.
Untuk memastikan segalanya berjalan tanpa gangguan, dipasang pula sistem monitoring gas real-time dari Okolab. Jika suhu turun atau kadar gas menyimpang, alarm otomatis berbunyi.
Alat ini memang dirancang bukan untuk tidur. Karena kehidupan yang baru sedang dititipkan dalam keheningan setiap biliknya.
Ketiga alat ini, dalam diamnya, sejatinya sedang menghidupkan harapan keluarga yang merindukan kehadiran sang buah hati. Mereka bukan sekadar instrumen rumah sakit, melainkan bukti teknologi dapat dipakai dengan kepekaan etis dan kedalaman medis.
“Pemantauan embrio bisa sampai lewat tengah malam, terutama kalau ada pembelahan sel yang cepat,” jelasnya.
Kehadiran perangkat sekelas ini adalah simbol, rumah sakit daerah mampu menjadi pusat unggulan. Bukan hanya soal alat, tapi soal niat, disiplin, dan keberanian menyentuh batas-batas medis modern. (zad/r9)
Editor : Siti Aeny Maryam