Ruang kecil ini jadi titik awal proses bayi tabung.
Sunyi, steril, dan dirancang menjaga martabat pria saat menyerahkan benih kehidupan.
TIDAK ada ruang yang lebih sunyi, lebih privat, dan lebih vital dalam keseluruhan prosedur bayi tabung selain ruangan satu ini. Pintu berwarna abu-abu bertuliskan “Sperm Collection Room” itu tak ubahnya seperti bilik biasa.
“Tapi di dalamnya, satu proses penentu sedang menanti: pengumpulan bahan dasar kehidupan dari pria,” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., menjelaskan, Senin (28/7).
Dan percayalah, tak ada ruangan lain di RS Ruslan yang menggabungkan kebutuhan biologis, psikologis, dan etika medis seperti ruangan ini. Ini terlihat ruangan sederhana tapi sangat menentukan dalam program bayi tabung ini.
Begitu pintu dibuka, pemandangan pertama yang terlihat bukan ranjang atau toilet, melainkan televisi layar datar yang disandingkan dengan pemutar video khusus.
“Bukan sekadar hiburan, perangkat ini secara medis berperan sebagai stimulan membantu pasien pria mencapai ejakulasi dalam waktu wajar,” terangnya.
Video yang diputar? Ya, ruangan ini menyediakan stimulus visual yang sesuai untuk membantu proses ejakulasi secara mandiri.
Sebuah bagian yang bisa membuat banyak orang nyengir saat dibicarakan, tapi justru menjadi penentu keberhasilan pengumpulan.
Di rak bawahnya, tertata rapi tisu, cairan antiseptik, dan penunjuk waktu digital—semuanya steril.
“Kami memahami, proses ini sensitif, bukan sesuatu yang lazim dilakukan di lingkungan rumah saki, jadi pendekatan ruangnya harus dirancang senyaman mungkin,” terangnya.
Jam digital menyala di bagian atas rak. Waktu bukan sekadar penanda durasi, melainkan parameter penting dalam menjaga kualitas sperma.
“Semakin lama ditunda setelah ejakulasi, kualitas sperma bisa menurun,” ucapnya.
Tak jauh dari ruang utama, terdapat pintu kecil bertuliskan “Toilet”. Ini bukan toilet umum biasa, melainkan toilet privat yang terkoneksi langsung dengan ruang koleksi.
Lantainya bersih mengilap, dilengkapi sanitasi tanpa sentuhan langsung.
Lampu LED putih menyala yang menghindari bayangan, sesuai standar ruangan steril.
“Area ini dirancang agar pasien bisa menjalani proses tanpa harus keluar masuk area publik,” jelasnya.
Tujuan utamanya adalah menjaga privasi dan kondisi psikologis tetap stabil.
Membuat mereka yang merindukan kehadiran buah hati, menjalani proses ini dengan nyaman dan tenang.
Di sudut ruangan berdiri ranjang pendek, minimalis, dengan dua bantal abu-abu dan seprai steril. Tidak banyak ornamen atau hiasan.
“Semua didesain netral dan fungsional,” jelas orang nomor satu di RS Ruslan ini.
Ranjang ini penting untuk pasien yang mengalami kesulitan posisi saat pengambilan.
“Atau yang membutuhkan waktu lebih panjang karena faktor psikologis,” ucapnya.
Kadang pasien tegang. Kalau terlalu banyak tekanan, bisa gagal keluar.
“Maka ranjang ini bukan tempat tidur biasa, tapi ruang relaksasi dalam sunyi,” jelasnya.
Yang paling menarik adalah sistem laci transfer baja antikarat yang menempel pada dinding.
Inilah jalur utama pengiriman sampel sperma dari pasien ke laboratorium tanpa adanya kontak langsung dengan staf medis.
“Mengapa ini penting juga, agar secara psikologi, pasien merasa nyaman, aman, dan privasinya terjaga, karena laci ini didesain dua pintu dan tak tembus pandang,” ucapnya.
Embriolog atau staf yang bekerja di seberang laci tidak akan tahu siapa di balik laci itu.
Semuanya dibuat sunyi, tertutup, dan rahasia.
“Setelah proses selesai, pasien hanya perlu menempatkan wadah steril ke dalam laci, tekan tombol, dan sistem tertutup otomatis akan menyampaikan sampel itu ke ruang laboratorium di seberang dinding,” ucapnya.
Teknologi ini disebut sebagai “pass-through window” berstandar klinis yang tidak hanya menjaga privasi tetapi juga mempertahankan suhu dan waktu sejak ejakulasi.
Sperma tak boleh terlalu lama di suhu ruang.
“Sistem ini menjaga mereka tetap hidup dan aktif saat tiba di mikroskop,” ujarnya.
Sperm Collection Room di RS Ruslan, bukan sekadar bilik kecil.
Ia adalah bagian integral dari ekosistem bayi tabung yang tak terlihat, namun tak tergantikan.
Di sinilah sel kehidupan pertama kali diambil. Dalam diam, dalam keterasingan, dalam kehormatan.
“Tak ada kamera, tak ada suster yang masuk, tak ada dokter yang mengintervensi,” tegas dr. Eka.
Hanya pria itu, pikirannya, dan kepercayaan pada proses yang sedang ia jalani.
“Demi cita-cita menjadi ayah,” terangnya.
Dan saat wadah itu berpindah ke balik laci baja, maka: satu setengah militer cairan bening di dalamnya bisa menjadi cikal bakal tangisan pertama seorang anak kelak.
Sesuatu yang dirindukan setiap pasangan suami-istri. (zad/r9)
Editor : Kimda Farida