Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pembakar Sampah 10 Ton Sehari Segera Terpasang Lokasi Pemasangan di TPS Sandubaya, Dampak Emisi Akan Diuji Setiap Bulan

Lombok Post Online • Jumat, 1 Agustus 2025 | 23:01 WIB

PADAT: Seorang pemulung yang sedang memilah sampah di TPS Sandubaya beberapa waktu lalu. 
PADAT: Seorang pemulung yang sedang memilah sampah di TPS Sandubaya beberapa waktu lalu. 
LombokPost - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram akan segera memasang insenerator hibah dari Rumah Sakit Kota Mataram di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Sandubaya pekan depan.

Pemasangan insenerator ini diharapkan mempercepat penanganan tumpukan sampah yang selama ini menjadi persoalan utama.

Rencana pemasangan alat pembakar sampah ini sempat tertunda sejak akhir Juni lalu.

“Minggu depan Insya Allah kita bisa masukkan inseneratornya," kata Kepala Bidang (Kabid) Persampahan DLH Kota Mataram Vidi Partisan Yuris Gamanjaya Kamis (31/7). 

Menurutnya, saat ini tim DLH sedang sibuk membuka jalur akses menuju lokasi penempatan insenerator di tengah tumpukan sampah. Sebelumnya, tumpukan sampah di TPS Sandubaya begitu tinggi sehingga menutupi seluruh akses jalan. 

“Dulu sejak pertama penutupan TPAR itu kan jalannya tidak terlihat sama sekali, sudah bisa masuk dan lebar," jelas Vidi.

 Baca Juga: Siswa MAN 1 Mataram Membuat Smart Composting Bin, Tawarkan Solusi Sampah Mataram

Rencana pemindahan insenerator yang memiliki kapasitas 10 ton per hari ini sempat terkendala oleh adanya pembatasan pembuangan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok.

Pihak TPAR Kebon Kongok hanya memperbolehkan maksimal tiga ritase pembuangan per hari. 

“Kita sudah melobi ke pihak TPAR Kebon Kongok agar menambah waktu dan ritase, tapi belum bisa, harapannya bisa empat ritase agar dobel pembuangannya," tambahnya.

 Baca Juga: Dinas LHK NTB Siagakan Ratusan Petugas Tangani Sampah Selama Fornas VIII

Vidi menjelaskan, pembatasan jam operasional TPAR Kebon Kongok juga menjadi salah satu kendala. Kondisi ini membuat proses penanganan sampah di TPS Sandubaya menjadi tidak optimal.

“Kita pikir awalnya bisa kebuka TPA dari jam 8 pagi, tapi ternyata dari jam 12 siang," katanya. 

Meski demikian, Vidi optimistis tumpukan sampah di TPS Sandubaya sudah jauh berkurang. “Sisa sampah di TPS Sandubaya tidak banyak yang awalnya ribuan ton, tersisa hanya setengah dari itu, paling 200 ton-an lah," jelasnya.

Untuk memastikan insenerator dapat beroperasi dengan baik, DLH telah menyiapkan landasan khusus. Uji emisi juga sudah dilakukan, namun Vidi belum dapat membeberkan hasilnya. 

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

“Hasilnya saya belum tahu, pak kalab belum ngelapor. Harusnya sudah ada. Karena memang sebelum pemasangan insenerator harus ada uji lab," ucapnya. 

Rencananya, uji laboratorium emisi akan dilakukan setiap bulan setelah insenerator beroperasi.

Insenerator hibah ini akan menjadi uji coba awal bagi DLH Kota Mataram.

Rencananya, pemerintah kota juga akan membeli dua insenerator lagi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan. Dua insenerator baru ini juga akan ditempatkan di TPS Sandubaya, yang merupakan TPS terbesar di Mataram.

Program pengadaan insinerator ini juga akan berlanjut dengan rencana pembelian insenerator untuk masing-masing kecamatan di Kota Mataram. “Karena TPS yang terbesar kita pun masih di Sandubaya itu," tandasnya. 

 Baca Juga: Warga Kompak Bersih-Bersih, Hadiahnya Truk Sampah! Gagasan Cadas Rachman Bikin Heboh

Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi tengah mengkaji penerapan sistem insinerator yang sudah berhasil di beberapa daerah di Indonesia. Langkah ini diambil untuk memastikan teknologi yang akan digunakan tidak hanya tepat guna, tetapi juga sesuai dengan kemampuan fiskal daerah.

Denny mengungkapkan, pihaknya sedang mempelajari model insinerator yang sudah diterapkan di Yogyakarta, Bekasi, dan Sumatra Barat. “Ketiga daerah tersebut memiliki insinerator dengan kapasitas dan harga yang berbeda, namun menggunakan sistem pembakaran yang serupa," ucapnya. 

Menurutnya, kajian ini sangat penting dilakukan sebelum DLH mengajukan kebutuhan anggaran. Rencananya, pengajuan pembelian insinerator akan dilakukan pada APBD Perubahan 2025. 

“Kajian ini penting dilakukan agar Kota Mataram tidak hanya mengadopsi teknologi yang tepat guna, tetapi juga sesuai dengan kemampuan fiskal pemerintah daerah," tambahnya.

Pada tahap awal, DLH berencana membeli dua unit insinerator. Menariknya, salah satu unit yang akan digunakan adalah insinerator bekas milik RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Pemanfaatan insinerator bekas ini dianggap sebagai bentuk efisiensi dan optimalisasi aset daerah yang masih layak guna.  (chi/r9)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Siti Aeny Maryam
#sampah #insenerator #Mataram #Hibah #rumah sakit #kebon kongok