Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wali Kota Mataram Mohan Roliskana Ibaratkan Kota Seperti Mutiara, Kenalkan Mutiara Melalui Festival Mutiara

Lombok Post Online • Senin, 11 Agustus 2025 | 22:05 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost – Sabtu malam, 9 Agustus 2025, lantai utama Lombok Epicentrum Mall berubah menjadi panggung kemilau.

Cahaya lampu sorot memantul dari deretan perhiasan mutiara yang tersusun di meja-meja pameran.

Riuh tepuk tangan pecah ketika Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, didampingi Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Mataram sekaligus Ketua TP PKK Kinnastri Mohan Roliskana, membuka Festival Mutiara ke-5.

“Festival ini harus menjadi event tetap,” kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, saat membuka acara.

Pengunjung memadati pusat perbelanjaan modern terbesar di Mataram itu. Sebagian sengaja datang, sebagian lain terhenti langkahnya saat melewati pameran.

Festival ini menjadi agenda rutin yang kini masuk kalender perayaan Hari Jadi Kota Mataram, tahun ini bertepatan dengan peringatan ke-32. Mohan menyebut festival ke 5 ini sebagai salah satu agenda penting dalam mempromosikan sektor kriya daerah. 

“Selain mempromosikan kerajinan mutiara,” imbuhnya.

Ia mengapresiasi ide yang diinisiasi Dinas Pariwisata Kota Mataram yang menurutnya, mampu menjaga sekaligus mengangkat citra Mataram sebagai kota mutiara. “Di samping membangun kesadaran masyarakat akan nilai yang kita miliki,” ujarnya.

Mohan mengingatkan, mutiara Mataram telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal terkait, menandakan keaslian dan kualitasnya. “Ini membuat kita optimis, mutiara akan terus menjadi branding image kota, kekayaan ini bukan hanya komoditas berharga, tapi punya nilai yang tinggi,” katanya.

Ia menyebut mutiara sebagai “keajaiban yang diberikan alam” kepada Mataram. Dalam beberapa tahun terakhir, kata Mohan, para pelaku industri mutiara menunjukkan perkembangan pesat, baik dari sisi kreativitas, daya saing, maupun jaringan pasar.

“Itu terjadi karena mereka mau belajar, mau berbagi pengetahuan, baik yang memproduksi di rumah maupun yang bergerak di industri, hasilnya luar biasa,” tuturnya.

Bagi Mohan, proses terbentuknya mutiara menjadi analogi perjalanan pembangunan kota. Mutiara membutuhkan hampir tiga tahun untuk matang, tumbuh lapis demi lapis di sekitar nucleus hingga menjadi perhiasan yang indah.

“Itu seperti kebijakan pembangunan kota ini, lapisan demi lapisan yang diletakkan pemimpin sebelumnya hingga kita bisa menikmati hasilnya sekarang,” ujarnya.

Ia menekankan, branding Mataram tidak hanya identik dengan mutiara secara fisik, tetapi juga mencerminkan cara kota ini bertumbuh. “Bagaimana mutiara berkembang dengan indah, begitu pula Mataram yang dibangun dengan kesabaran dan dedikasi,” katanya.

Ia berharap, manfaat sektor kriya tidak berhenti pada pelaku usaha saja. “Harus bisa dinikmati pengunjung, menjadi kebanggaan bersama, dan memberi nilai tambah bagi semua pihak,” pungkasnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, menyebut gelaran tahun ini diikuti 32 tenant yang terdiri dari pengrajin, pedagang, dan pelaku usaha mutiara. “Festival ini yang kelima, kami gelar dua hari untuk mengangkat citra Mataram, agar semakin harum di tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Dari total peserta, 15 tenant berkolaborasi langsung dengan Dekranasda, menampilkan produk terbaik mereka. Koleksi yang dibawa menjadi bagian dari karya unggulan Kota Mataram.

Cahya menekankan, festival ini tidak sekadar jual beli, tetapi juga mengukuhkan identitas Mataram sebagai kota mutiara. “Simbol tugu kota saja menggunakan ikon mutiara, jadi ini bukan sekadar komoditas, melainkan lambang kebanggaan daerah,” katanya.

Nilai mutiara Lombok, sambung Cahya, tak hanya diukur dari rupiah. Desain yang unik, kualitas yang terjaga, dan cerita di balik proses pembuatannya membuat mutiara Lombok diminati hingga ke pasar dunia.

Bros dan kalung mutiara dari Lombok kerap menghiasi pemberitaan media dan koleksi wisatawan mancanegara. "Salah satunya bros karya ibu ketua Dekranasda Kota Mataram," ucapnya.

Di sela pameran, panggung utama menampilkan fashion show anak-anak dengan busana berhias aksesoris mutiara. Suasana menjadi cair, penonton mengabadikan momen dengan kamera ponsel.

Menurut Cahya, kegiatan ini mampu memicu minat pasar sekaligus memperkenalkan filosofi mutiara pada generasi muda. “Fashion show ini menjadi pemantik sekaligus edukasi," ujarnya.

Festival tahun ini juga menandai pencanangan “Nucleus Mutiara”, program yang dirancang untuk menjadikan mutiara sebagai penggerak utama ekonomi kreatif dan pariwisata Kota Mataram. “Kami ingin masyarakat tidak hanya memahami nilai ekonominya, tetapi juga bangga terhadap simbol kota ini, harapannya kebanggaan itu semakin kuat,” kata Cahya.

Apresiasi dari Pedagang Mutiara

Bagi Muharar, pedagang mutiara sekaligus pemilik gerai Ragenda Mop, Festival Mutiara 2025 bukan hanya ajang pamer pesona perhiasan laut. Ia melihat gelaran yang digelar Dinas Pariwisata itu memiliki nilai tambah yang jarang ditemukan pada event serupa: edukasi yang mengalir dari hulu ke hilir.

“Lebih menarik, sekarang edukasinya diutamakan, bukan sekadar marketing,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Edukasi yang dimaksud bukan hanya mengenalkan mutiara sebagai produk jadi, tetapi juga memberi pemahaman kepada masyarakat tentang proses panjang di baliknya. Muharar menyebut, banyak pengunjung bahkan sebagian pedagang yang tidak mengetahui betapa rumitnya proses budidaya mutiara.

ANTUSIAS: Wali Kota Mataram Mohan Roliskana didampingi Ketua Dekranasda Kinnastri Mohan Roliskana melakukan prosesi penyuntikan nukleus kerang, Sabtu malam (9/8).
ANTUSIAS: Wali Kota Mataram Mohan Roliskana didampingi Ketua Dekranasda Kinnastri Mohan Roliskana melakukan prosesi penyuntikan nukleus kerang, Sabtu malam (9/8).

Dari penanaman inti ke dalam kerang, perawatan intensif di laut, hingga panen yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun. “Dengan adanya event 2025 ini, proses itu bisa dikenalkan, ada nilai jual tambahan yang muncul karena orang paham asal-usul dan kualitasnya,” kata dia.

Bagi pengrajin, kata Muharar, pemahaman ini penting karena membuat pembeli lebih menghargai karya mereka. Baginya, kualitas mutiara bukan hanya diukur dari kilau permukaannya, melainkan juga cerita di baliknya, cerita yang selama ini jarang tersampaikan.

Dari sisi penjualan, Muharar tak menampik ada peningkatan. Gerainya, Ragenda Mop, mencatat tren positif selama festival berlangsung.

Namun, ia menilai keuntungan materi bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan acara. “Alhamdulillah, penjualan ada, tapi yang lebih penting, masyarakat jadi tahu mutiara ini lahir dari proses panjang, bukan barang instan,” ujarnya.

Ia berharap ke depan, Festival Mutiara tetap mempertahankan unsur edukasi dan memberi ruang lebih besar bagi pelaku lokal untuk tampil. “Kalau edukasi dan kualitas dijaga, pasarnya akan bertahan, bahkan berkembang,” kata Muharar. (zad/r9)

Editor : Pujo Nugroho
#wali kota #Mataram #FESTIVAL #mutiara #mohan #Pariwisata