LombokPost – Pada 5 Agustus 2025 lalu, sebuah kabar beredar cepat. Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, disebut akan meninjau hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang di bantaran Kali Ancar, Lingkungan Pamotan, Mayura.
Sejak pagi, seorang pria bersarung dan berkaus oblong sudah duduk di teras bangunan darurat yang menghadap ke jalan sempit. Namanya Amrul.
Ia sengaja menunda berangkat ke bengkel tempatnya bekerja di Cakranegara. “Saya ingin menyampaikan terima kasih langsung pada bapak kami,” ujarnya, pada koran ini, Selasa (5/8) lalu.
Koran ini, Lombok Post, kebetulan juga berada di lokasi pagi itu—ikut menunggu kedatangan wali kota. Namun hingga siang, agenda mendadak membuat kunjungan batal dilakukan.
Pertemuan itu tak terjadi, tetapi cerita Amrul tentang rasa syukurnya tetap mengalir. Baginya, banjir bandang 6 Juli lalu adalah titik terendah hidupnya.
Rumah pagar bambu miliknya dan belasan warga lain, hanyut seketika. Tak ada yang tersisa selain pakaian yang melekat di badan.
“Kulkas, televisi, semua hilang,” tuturnya.
Amrul termasuk 14 kepala keluarga yang kehilangan rumah di bantaran kali. Mereka hidup di tengah lingkungan mayoritas Hindu, tetapi menjalin hubungan rukun.
Pada saat hari terjadinya banjir, Amrul sempat bingung mencari beras. Namun pemerintah bergerak cepat. Bantuan pangan, pakaian, dan logistik datang bertubi-tubi.
Dapur umum dibuka, memastikan korban bisa makan tiga kali sehari. “Dulu mau makan saja harus mikir, setelah banjir, semua tersedia,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Mataram Bangun 20 Huntara, Tanggap Cepat Atasi Dampak Banjir
Puncak harunya adalah ketika pemerintah memutuskan membangun huntara. Tidak hanya mengganti rumah, tapi juga meninggikan fondasi tanahnya.
Truk-truk material datang bergantian, menguruk lahan selama berhari-hari. Warga dilarang membantu, diminta tetap di pengungsian sampai rumah selesai.
Kini rumah Amrul berdiri, berdinding material kokoh, beratap rapi. “Kalau dulu angin kencang saja bikin cemas, sekarang rasanya seperti masuk rumah orang kaya,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Meski status tanah masih menyisakan persoalan, Amrul memilih bersyukur. “Yang pemerintah berikan jauh melebihi ekspektasi saya, semoga segera bisa menempati, supaya kami hidup lebih tenang,” katanya.
Bagi Amrul, bantuan itu bukan sekadar bangunan. Ia menganggapnya sebagai bukti warga kecil di bantaran sungai pun tak dibiarkan sendirian ketika bencana datang.
Sementara itu, Selasa (12/8) kemarin, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana dikabarkan meninjau lokasi. Kondisi huntara sudah jauh lebih sempurna, dibanding 5 Agustus lalu.
Sebagian sisa-sisa material konstruksi sudah dipinggirkan, beberapa pekerja sibuk menuntaskan sedikit pekerjaan yang tersisa. Di antara deru mesin pemotong dan ketukan palu, Mohan Roliskana berjalan menyusuri lorong sempit antarbangunan, melihat fisik bangunan huntara.
Lombok Post melihat Amrul ada di tengah kerumunan mengenakan baju warna pink. Amrul terlihat intens mengikuti langkah sang wali kota.
Meski begitu, kabar yang dibawa Mohan kali ini bisa jadi akan membuat Amrul tersenyum lebih lebar. “Progres untuk pembangunan di sini lancar, bagus, mungkin satu pekan ke depan sudah selesai,” ujar Mohan kepada wartawan.
Dari 14 kepala keluarga yang terdampak banjir bandang di kawasan Pamotan, kata dia, semua akan segera menempati rumah baru mereka. Tak sekadar menyerahkan kunci, pemerintah juga menyiapkan penataan kawasan secara menyeluruh.
Mohan menyebut ada lahan kosong di sekitar hunian sementara yang akan dimanfaatkan untuk membangun fasilitas pendukung sesuai kebutuhan warga. “Kita siapkan tempat pertemuan, musala, dan fasilitas lain sesuai permintaan warga,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kesabaran warga selama proses rehabilitasi. “Keluarga kita di sini menunggu dengan sabar, sekarang sudah mendekati akhir rehabilitasi, dan nanti kita akan support dengan perlengkapan yang dibutuhkan,” katanya.
Beberapa di antaranya, ia sebutkan, adalah peralatan memasak dan perlengkapan rumah tangga lain. Kunjungan Mohan kali ini juga menegaskan pola penanganan banjir di beberapa titik kota.
Selain di Pamotan, pemerintah membangun hunian bagi korban banjir di Karang Jero—yang hanya terdampak tujuh kepala keluarga—dan kini sudah ditempati. Di sana, proses rehabilitasi bahkan selesai lebih cepat.
“Di sana kami juga dibantu dari REI,” terangnya.
Bagi Amrul yang pernah menceritakan, bantuan pemerintah sudah melampaui harapannya, kabar ini bisa menjadi lembaran baru. Jika sebelumnya ia sudah merasa berterima kasih karena mendapatkan rumah yang lebih layak dari sebelumnya, kini kawasan tempat tinggalnya akan memiliki musala, ruang pertemuan, dan perlengkapan rumah tangga baru.
Di penghujung kunjungan, Mohan kembali menegaskan komitmen menyelesaikan pembangunan hingga tuntas. “Masih ada proses, tapi semua kita jalankan perlahan-lahan dan pasti, saya berterima kasih karena warga sudah mau menunggu dengan sabar, akan saya cek langsung supaya yang dibutuhkan warga segera terpenuhi,” ujarnya.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram Nazaruddin Fikri, memastikan seluruh unit telah dilengkapi fasilitas dasar yang memadai, mulai dari dapur, toilet, hingga saluran air bersih. “Kita juga akan siapkan saluran PDAM,” ucapnya.
Arahan Wali Kota Mataram, kata Nazaruddin, jelas: kawasan hunian ini tidak sekadar berisi rumah, tapi juga pusat aktivitas bersama.
“Pak Wali mengarahkan supaya fleksibel, warga bisa mengatur sendiri dapur rumahnya, tapi fasilitas umum tetap kita siapkan lengkap—toilet, musala, posyandu, dan taman,” ujarnya.
Lokasi musala dan fasilitas umum lain ditempatkan di sisi lahan yang strategis. Menurut Nazaruddin, ini bertujuan mengumpulkan warga dalam satu titik interaksi.
“Musala di tengah kawasan akan jadi pusat pertemuan, sekaligus menguatkan kebersamaan,” katanya.
Proses pembangunan, sambungnya, sempat menantang karena kondisi tanah di bantaran kali yang rendah. Di samping itu akses ke lokasi harus melalui jalan yang sempit.
Seluruh fondasi hunian harus ditinggikan lebih dari satu meter. Material urukan dibawa secara manual ke lokasi karena akses kendaraan terbatas.
“Semua kita angkut manual, memang berat, tapi ini demi keamanan dan kenyamanan warga,” ujarnya.
Selain rumah, kawasan ini juga akan dilengkapi penerangan memadai. Lampu utama sudah terpasang, dan lampu tambahan di belakang akan menyusul.
Bahkan, ada lahan yang semula diminta sebagian warga untuk bangunan pribadi, namun diarahkan untuk fungsi sosial. “Pak Wali tegaskan, ini kawasan kemanusiaan, fungsi sosialnya harus lebih penting dari kepentingan pribadi,” kata Nazaruddin.
Kawasan hunian sementara Pamotan dibangun untuk 14 kepala keluarga yang rumahnya hanyut akibat banjir. Seluruhnya kini masih tinggal di pengungsian.
Jika sesuai jadwal, mereka akan mulai pindah dalam waktu dekat, bersamaan dengan selesainya penataan fasilitas umum. Dengan fasilitas yang lebih baik dari rumah lama—serta tambahan musala, posyandu, dan taman—hunian ini diharapkan menjadi awal kehidupan baru yang lebih layak bagi warga. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin