Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rezeki Merdeka! Pedagang Asongan Panen di Tengah Lautan Merah Putih

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 13 Agustus 2025 | 22:38 WIB

Seorang pedagang asongan menawarkan jualannya pada peserta yang hadir di teras Udayana, Rabu (13/8).
Seorang pedagang asongan menawarkan jualannya pada peserta yang hadir di teras Udayana, Rabu (13/8).

 

Sejumlah pedagang melebur dalam ribuan peserta yang membawa bendera merah putih. Ketika nasionalisme memuncak, mereka merayakan kemerdekaan dengan cara sendiri—memburu rezeki dari keramaian.

 ----

SINAR matahari yang mulai meninggi, menyapu wajah-wajah muda di Teras Udayana. Ribuan murid berseragam putih mengibarkan bendera merah putih mungil, melambai-lambai di udara.

Dentum musik pengiring lagu kebangsaan bercampur riuh teriakan semangat kemerdekaan. “Aqua, teh, jus dingin…” ujar pedagang itu terdengar menawarkan dagangan, Rabu (13/8).

Lelaki paruh baya itu, melangkah perlahan. Kaus putihnya telah menyerap peluh, tangannya menopang baki kayu berisi botol air mineral, teh kemasan, dan beberapa bungkus keripik.

Ia adalah potret puluhan, pedagang asongan yang menyebar memburu rezeki di teras Udayana. Suara para pedagang, mengapung di antara tepuk tangan anak-anak yang baru saja melambaikan bendera.

 Baca Juga: Ribuan Warga & Pejabat Kibarkan Merah Putih di Udayana, Simbol Persatuan Jelang HUT RI ke-80!

Di tempat lain, penjual es kelapa dengan ember tak kalah lincah. Ia tak peduli lagi dengan keringat yang membasahi badan. 

Neni, nama perempuan itu bergerak setengah berlari. Lambaian tangan seperti panggilan rezeki yang tak mungkin ditolak olehnya.

“Berapa bungkus pak? Cuma Rp 7 ribu,” ucapnya kemudian.

Terdengar mahal? Sedikit. Biasanya Rp 5 ribu sudah dapat segelas.

 Baca Juga: Ribuan Jamaah Ikut Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Masjid Istiqlal, Jelang Peringatan HUT RI Ke-80

Tapi semua memaklumi dan menerima harga ini di hari penuh euforia itu. Buktinya Neni sampai bolak-balik mengambil stok es kelapa yang tengah dibungkus rekannya di sudut kawasan RTH itu.

Bagi Neni dan pedagang lainnya ini seperti hari panen raya. Event sebesar itu hanya terjadi beberapa kali saja dalam setahun.

Acara pembagian bendera oleh bendera oleh Pemerintah Kota Mataram pagi itu bukan hanya panggung nasionalisme, tapi ladang rezeki. Pedagang minuman, penjual bendera, penjual es kelapa muda, hingga permen keliling larut dalam suasana.

Mereka tahu, kerumunan orang yang merayakan sesuatu sering kali haus, lapar, atau mencari pernak-pernik untuk ikut meramaikan. Itulah celah yang mereka isi.

“Pokoknya alhamdulillah, lancar,” ucap Sri pedagang cendol yang sering mangkal di Islamic Center sambil tersenyum lebar.

Baca Juga: Sambut HUT RI ke-80, Ditpolairud Polda NTB Bagikan Sembako dan Bendera ke Warga Pesisir Sumbawa Barat dan Lombok Barat 

Tapi tak semua pedagang mengulum senyum. Seorang pria tua pendorong gerobak berisi bendera plastik dan pita masih terlihat muram. 

“Katanya sudah beli di sekolah,” lirih Amin.

Lahannya menjadi sepi karena direbut pihak yang seharusnya tak berbisnis di momen ini. “Kadang sekolah juga tiba-tiba jualan bendera dan pita,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Situasi ini membuat sebagian penjual kehilangan pembeli di momen yang mestinya menjadi puncak penjualan mereka. Bagi para pedagang kecil, semangat nasionalisme bukan hanya tentang lagu kebangsaan atau bendera di tangan, tapi juga tentang kebebasan mencari nafkah.

Mereka melihat keramaian sebagai denyut ekonomi yang hidup—transaksi kecil yang menafkahi keluarga. “Apa ya? Intinya kami bebas bisa cari makan,” katanya saat ditanya makna kemerdekaan baginya.

Baca Juga: Guru PAUD Hingga Honorer Dapat Kado HUT RI Ada Bantuan Tunai Hingga Beasiswa Kuliah S-1/D-4, Penerima Bantuan Harus Terdaftar di Dapodik 

Situasi memang baginya kerap tidak adil. Saat kesempatan itu seharusnya terbuka bagi pedagang kecil sepertinya, ada sekolah yang menyerobot lahannya, padahal tugas mereka mengajari budi pekerti, ilmu, dan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan ketamakan! (*/r9)

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Udayana Mataram #HUT RI Ke 80 #Ekonomi Kerakyatan #pedagang asongan #Persaingan Usaha