Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bahaya Hoaks & Golput! Bawaslu NTB Peringatkan Generasi Z di Sekolah

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:23 WIB
Anggota Bawaslu NTB Hasan Basri bersama seorang siswa, usai upacara bendera.
Anggota Bawaslu NTB Hasan Basri bersama seorang siswa, usai upacara bendera.

 

LombokPost – Pagi di halaman SMKN 2 Mataram, Senin (25/8), berlangsung lebih khidmat dari biasanya. Ratusan siswa kelas X dan XI, bersama para guru dan tenaga kependidikan, berdiri tegak mengikuti upacara bendera.

Namun kali ini, pembina upacara bukan kepala sekolah atau guru, melainkan Hasan Basri, Anggota Bawaslu NTB. Kehadirannya dalam program Bawaslu NTB On the Move membawa pesan penting: demokrasi tidak hanya urusan bilik suara lima tahunan, tapi sebuah kesadaran yang harus dipupuk sejak dini.

Hasan lantas menyoroti tantangan generasi muda di era digital. Maraknya hoaks dan disinformasi di media sosial menjelang pemilu, bisa menjerumuskan pemilih pemula jika tak dibarengi literasi digital yang baik.

“Gunakan media sosial untuk hal-hal positif, sebarkan informasi yang benar, dan jadikan ruang digital tempat diskusi sehat, bukan penyebar kebencian,” katanya  

 Selain itu, ia mengingatkan bahaya apatisme dan golput yang kerap ditemui di kalangan muda. Ia menekankan hal itu bukan pilihan bijak.

"Ketika kita tidak memilih, artinya kita menyerahkan masa depan bangsa kepada orang lain tanpa ikut bertanggung jawab,” ujarnya.

Hasan kemudian mengingatkan, tentang peluang mereka untuk menjadi penentu nasib bangsa ke depan. "Hari ini kalian masih pelajar, sebentar lagi kalian akan menjadi pemilih," kata Hasan. 

Baca Juga: Perkuat Fungsi Pengawasan, Bawaslu NTB Rangkul OKP dan BEM

Ia menekankan, masa depan bangsa ada di tangan mereka. "Dan itu dimulai dengan memahami arti penting demokrasi,” ujar Hasan di hadapan para siswa.

Untuk mendekatkan konsep demokrasi, Hasan memberi contoh sederhana: pemilihan ketua OSIS. Menurutnya, ajang itu bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan ruang latihan berdemokrasi yang nyata.

“Ketika kalian memilih ketua OSIS, di situlah kalian sedang belajar berdemokrasi," ucapnya  

Pemilihan itu memiliki calon, visi misi, kampanye, bahkan pengawasan. "Itu miniatur pemilu,” jelasnya.

Ia menekankan, dalam skala kecil seperti OSIS, siswa harus menolak politik tidak sehat, termasuk politisasi SARA. “Bayangkan jika memilih hanya karena suku atau latar belakang keluarga, itu tidak adil, tapi pilihlah karena visi dan kemampuan memimpin,” tegasnya.

Program Bawaslu NTB On the Move digagas untuk membawa pengawas pemilu lebih dekat dengan generasi muda. Dengan masuk ke sekolah-sekolah, Bawaslu ingin menanamkan demokrasi adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar agenda elektoral lima tahunan.

Hasan menutup pesannya dengan harapan agar generasi muda NTB tumbuh sebagai pemilih cerdas dan berintegritas. “Demokrasi yang kokoh harus dijaga bersama. Dan itu dimulai dari kalian, sejak di bangku sekolah,” pungkasnya. 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Pemilih Pemula #Demokrasi di sekolah #SMKN 2 Mataram #Literasi digital pemilu #Bawaslu NTB