LombokPost – Setiap malam, Kota Mataram ditopang ribuan titik lampu jalan yang membuat ruas-ruas utama tetap terang. Dari lingkar selatan hingga kawasan wisata, lampu penerangan jalan umum (PJU) menjadi penopang rasa aman warga.
Namun, menjaga ribuan lampu itu tetap menyala tidak semudah membalik saklar. “Yang paling rawan pemicu lampu mati itu, kontaktor terbakar,” terang Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram Zulkarwin, Selasa (26/8).
Pengawasan dan penggantian kontaktor menjadi lebih menantang karena jumlah tiang PJU yang mencapai ribuan titik. Sedangkan jumlah petugas teknis masih terbatas.
“Tapi yang jelas, begitu laporan kami, tim langsung bergerak melakukan perbaikan,” imbuhnya.
Zulkarwin menekankan, di balik cahaya PJU yang teratur, ada rutinitas teknis yang nyaris tak terlihat publik: perawatan panel listrik dan penggantian kontaktor yang kerap rusak.
Perawatan PJU merupakan agenda rutin yang dikerjakan Bidang Lalu Lintas. Tim teknis ditugaskan berkeliling, mengecek panel, hingga melakukan perbaikan begitu ditemukan gangguan.
“Itu kasus klasik, kontaktor komponen vital, begitu rusak, arus listrik tidak bisa mengalir, dan satu jalur langsung gelap,” tuturnya.
Ia menjelaskan, kerusakan kontaktor bisa dipicu banyak faktor. Mulai dari beban arus tinggi, kabel longgar, panas berlebih, hingga usia perangkat yang sudah terlalu lama.
“Makanya kasus semacam ini sering kami temui,” ungkapnya.
Padamnya lampu jalan bukan sekadar perkara teknis. Bagi warga, kondisi gelap berarti ancaman keselamatan.
Pengendara motor lebih rawan kecelakaan, pejalan kaki merasa was-was, pedagang malam kehilangan rasa aman, dan kawasan wisata bisa kehilangan citra ramah. “Kami paham satu titik gelap saja bisa bikin warga resah,” ungkapnya.
Ia menekankan, target penanganan Dishub maksimal satu kali 24 jam sejak laporan masuk. “Ini soal pelayanan publik yang langsung bersentuhan dengan warga,” tegasnya.
Perawatan kontaktor sendiri bukan pekerjaan sepele. Begitu panel dibuka, teknisi harus memetakan ulang kabel-kabel merah, hitam, dan biru.
Setiap baut diperiksa, sambungan dikencangkan, kabel terbakar diganti, lalu kontaktor baru dipasang. “Kesalahan sekecil apa pun bisa fatal, karena itu teknisi dibekali pelatihan dan SOP ketat,” ujarnya.
Selain pemeriksaan rutin, Dishub juga bergantung pada laporan masyarakat. Menurut Zulkarwin, kombinasi keduanya penting agar kota tidak pernah benar-benar gelap.
“Kami punya jadwal pemeriksaan, tapi tetap saja faktor cuaca, usia perangkat, dan kondisi lapangan membuat kerusakan sulit diprediksi, di situlah laporan warga jadi krusial,” jelasnya.
Setiap pekan, tim Bidang Lalu Lintas bisa menangani berbagai macam kasus: dari lampu yang redup, kabel putus karena tikus, hingga panel terendam air saat hujan deras. Namun, kerusakan kontaktor disebut sebagai kasus yang paling sering ditemui.
“Kalau ada 10 laporan dalam seminggu, separuh lebih soal kontaktor,” ungkap Zulkarwin.
Merawat lampu jalan bukan hanya soal teknis kelistrikan, tapi menjaga citra kota. “Mataram adalah etalase NTB, jalur menuju destinasi wisata, kawasan perdagangan, hingga jalan protokol tidak boleh gelap,” paparnya. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin