LombokPost – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Kota Mataram tak ubahnya pesta rakyat. Ribuan warga berbaur tanpa sekat, menjadikan arena MTQ sebagai ruang pertemuan keluarga, sahabat, hingga tetangga.
“Rasanya tenang sekali dengar lantunan ayat, anak-anak juga senang karena suasananya ramai, seperti pesta rakyat,” kata Siti Aminah, warga Pagesangan, yang setiap malam datang bersama keluarganya.
Muhammad Irfan, pemuda asal Karang Pule, juga merasakan hal serupa. “Sekarang bisa langsung merasakan suasananya, banyak stan kuliner, jadi makin ramai,” ujarnya.
Lapangan utama MTQ memang tidak hanya diisi tilawah. Deretan stan UMKM, kuliner, hingga pedagang kaki lima ikut menambah semarak suasana.
Pedagang pun merasakan berkah. Lilis, penjual jagung bakar, mengaku dagangannya selalu habis. “MTQ membantu ekonomi kami,” katanya.
Menurut warga, suasana MTQ kali ini berbeda. Lebih hidup, lebih terbuka, dan lebih mengundang interaksi sosial. Semua larut dalam suasana kebersamaan.
Hasan, warga Tanjung Karang, sudah bersiap kembali. “Besok malam datang lagi,” ujarnya singkat.
Harmoni tercipta dari lantunan ayat suci yang berpadu dengan riuh kehidupanwarga. Dari anak-anak hingga orang tua, semua larut dalam suasana yang sama.
Bagi warga, MTQ adalah ruang spiritual sekaligus ruang rekreasi. Satu malam bisa jadi tempat menenangkan hati, sekaligus tempat jajan bersama keluarga.
Dengan antusiasme warga dan pedagang, MTQ tak hanya menjaga tradisi religius. Ia juga menghidupkan denyut ekonomi rakyat kecil.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin