LombokPost – Malam itu, lapangan utama Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Kota Mataram menjelma lautan manusia. Ribuan warga duduk bersila di atas rumput hijau, beralaskan tikar seadanya atau langsung bersentuhan dengan tanah.
“Dari anak kecil hingga lansia, semua larut dalam suasana yang hangat, membaur tanpa sekat,” tutur Plt Camat Sekarbela Cahya Samudra, Rabu (24/9).
Wajah-wajah antusias terlihat dari kerumunan. Seorang ibu memangku balitanya sambil menenangkan agar tak rewel.
Di sisi lain, remaja tetap bertahan meski waktu beranjak larut. Para bapak bersandar sambil bercengkerama ringan. MTQ pun menjadi ruang silaturahmi lintas generasi.
“Alhamdulillah semua berbahagia,” ucap Cahya dengan senyum.
Lampu sorot memantulkan cahaya ke panggung utama. Lantunan ayat suci menggema melalui pengeras suara, menghadirkan suasana religius yang meresap hingga ke lapangan.
Pejabat daerah pun kerap terlihat melebur ke tengah warga. Mereka duduk di tikar sederhana, mendengar tilawah tanpa jarak dan tanpa barikade.
“Duduk bersimpuh sama warga, enjoy the sound of harmony Alquran,” ujar Cahya.
Baginya, harmoni itu lahir dari kesederhanaan. MTQ bukan sekadar lomba, tetapi ruang egaliter di mana semua orang merasa bagian dari pesta keagamaan sekaligus kebudayaan.
Baca Juga: MTQ XXXI Karang Pule Disambut Meriah, Tujuh Lokasi Jadi Arena Lomba
Dengan atmosfer kebersamaan itu, MTQ kian menguatkan identitas Mataram sebagai kota religius sekaligus ruang perjumpaan warga.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin