LombokPost – Sorotan tajam sempat diarahkan ke tradisi Praje dalam perayaan Maulid Dasan Agung, Kota Mataram.
Arak-arakan itu dianggap bergeser dari makna religius menjadi pesta hiburan jalanan.
Kontroversi muncul usai beredar video di lini media sosial, sejumlah remaja sedang asyik berjoget.
“Ada yang keliru menafsirkan,” ujar Baihaqi, tokoh muda Dasan Agung, kemarin (5/10).
Dalam video itu, terlihat remaja, pria dan wanita, menikmati musik dengan dentuman keras.
Sebagian publik menilai prosesi itu keluar dari nilai sakral peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, bagi warga Dasan Agung, tafsir itu hanya melihat kulit luar dari tradisi yang dalam.
Baca Juga: Gas Melon Langka: Antara Kambing Hitam Maulid dan Tata Kelola Distribusi
Di kampung yang sarat sejarah ini, Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan. Momen ini, ruang tempat identitas, doa, dan warisan leluhur dipertemukan dalam satu napas.
Setiap sudut kampung berubah menjadi panggung budaya dan spiritual yang menyatukan semua generasi. Rangkaian kegiatan dimulai jauh hari sebelum puncak peringatan tiba.
Warga dari tiap RT menyiapkan musabaqah tilawatil Quran, lomba-lomba syair, dan selawat. “Ini wujud kecintaan pada baginda Nabi,” kata Baihaqi tentang semangat warga mengikuti lomba.
Kompetisi itu bukan hanya soal menang. “Tapi cara menanamkan nilai-nilai Islam pada anak-anak,” ucapnya.
Di hari berikutnya, masyarakat menggelar ngurisan bayi secara massal. Prosesi ini menjadi simbol harapan agar generasi yang baru lahir tumbuh dalam keberkahan.
“Doanya untuk keselamatan,” ujarnya.
Setiap tangisan bayi yang dipangku para sesepuh menjadi pengingat tentang kelahiran baru. “Dan tentang hadirnya generasi yang diharapkan menjadi kebanggaan kampung ini,” ucapnya.
Kemudian tibalah momen yang paling sakral: khataman Alquran.
Seluruh warga berkumpul menyelesaikan bacaan dari awal hingga akhir kitab suci. Itu bukan hanya ritual, tapi pernyataan iman kolektif masyarakat Dasan Agung.
“Ini bentuk syukur,” tuturnya.
Kegiatan itu semua berpuncak pada pembagian dulang penamat, simbol rezeki yang dibagi rata. Masyarakat saling berbagi makanan dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh makna.
“Dulang ini lambang persaudaraan,” tambahnya.
Di sini, nilai sosial dan spiritual berpadu erat menjadi identitas bersama. Dari seluruh rangkaian itu, satu prosesi memang selalu mencuri perhatian publik: Praje.
“Praje itu sejatinya, penokohan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Praje bukan sekadar pawai, melainkan simbol doa kolektif masyarakat. Anak yang baru dikhitan diarak bak raja sebagai lambang harapan masa depan.
“Harapannya anak (yang dikhitan) jadi orang besar,” imbuhnya.
Penokohan itu mengandung pesan agar anak kelak membawa manfaat bagi lingkungannya. Dalam pandangan masyarakat, ia bukan hanya simbol kemeriahan, tetapi tanggung jawab sosial.
“Joget itu, hanya sebagian kecil,” ujarnya.
Tradisi Praje telah hidup berabad-abad sebagai bagian dari perayaan Maulid. Ia selalu menjadi rangkaian penting di samping musabaqah, ngurisan, dan khataman Alquran.
Puncak kegiatan ditutup dengan Rebaq Jangkeh sebagai momen menutup kebersamaan seluruh warga. Sayangnya, derasnya modernisasi membuat makna itu sering tereduksi dalam persepsi generasi muda.
“Maknanya harus dimurnikan lagi,” ujarnya lagi.
Para tokoh kampung kini gencar menyampaikan filosofi Praje agar tak hilang ditelan zaman. Mereka meyakini, budaya hanya bertahan jika dipahami secara utuh oleh generasi penerus.
“Kalau tak bernilai, tak diwariskan,” ucapnya.
Itulah sebabnya, Praje terus dilestarikan sebagai bentuk doa dan pengharapan kolektif. Lebih dari sekadar pawai, Praje cara masyarakat berbicara dengan masa depan.
Praje, mengandung pesan menanamkan nilai kebesaran sejak dini kepada anak-anak yang menjadi pewaris tradisi. “Dan selama makna itu dijaga, Praje akan tetap hidup di jantung Dasan Agung,” tegasnya.
Baihaqi mengatakan, sebagai warga yang lahir dan besar di Dasan Agung, ia merasa terpanggil ikut memperbaiki persepsi yang keliru tentang Praje. Termasuk juga meluruskan makna yang bergeser dari keluhuran warisan tradisi yang telah mengakar lama dan kuat di Dasan Agung.
“Ya sebagai anak yang lahir dan besar di Dasan Agung, saya merasa punya kewajiban untuk menyuarakan kearifan luhur dari Praje,” ucapnya.
Komentar juga datang dari warga yang berharap, masyarakat luar tidak keliru dalam menilai budaya luhur yang telah lama tumbuh di Dasan Agung. Menilai hanya dari postingan media sosial yang parsial, condong dapat menggelincirkan ke persepsi yang keliru.
“Banyak yang tidak tahu tentang Dasan Agung, yang cuma tahu di sosmed tapi tidak pernah melihat langsung (secara utuh seperti apa cara maulid nabi),” ucap seorang warga Putra. (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho