LombokPost – Kreativitas tanpa batas terpancar dari ruang keterampilan di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Mataram.
Di tengah ketenangan, puluhan siswa berkebutuhan khusus sedang menciptakan karya seni yang kini mulai menembus pasar luar pulau.
Uniknya, mereka tidak menggunakan canting tradisional, melainkan sapu lidi untuk membatik.
Hasil karya seni ini dikenal sebagai Batik Sesampat, nama yang diambil dari bahasa Sasak yang berarti sapu lidi.
Teknik sederhana ini menjadi ciri khas yang membedakan produk mereka, sekaligus menorehkan kisah inspiratif tentang kemandirian dan semangat berkarya.
Di tangan siswa-siswa SLBN 1 Mataram, sapu lidi diubah menjadi alat lukis. Dengan gerakan tangan yang teliti, mereka memercikkan tinta ke permukaan kain, menghasilkan pola-pola abstrak yang artistik.
"Jadi sapu lidi itu diciprat-cipratkan seperti ini. Ini akan menjadi ciri khas," jelas Kamtono, Kepala SLBN 1 Mataram, Kamis (2/10) lalu.
Menurut Kamtono, teknik percikan menggunakan sapu lidi ini menjadi daya tarik utama, menghasilkan corak bebas yang unik dan menunjukkan spontanitas berkarya para siswa.
Program vokasi ini diberikan kepada siswa yang sudah melalui proses asesmen minat dan bakat sejak bangku SMP, memastikan pelatihan intensif sesuai potensi mereka.
Kerja keras para siswa tunarungu (mayoritas siswa di SLBN 1 Mataram) ini telah berbuah manis. Batik Sesampat tidak hanya laku di Mataram, tetapi telah berhasil menembus pasar luar pulau.
"Hasil selama ini kita sudah memasarkan bahkan sampai ke Jakarta, di Surabaya," ungkap Kamtono.
Ia menambahkan bahwa beberapa dinas di NTB juga sudah menggunakan produk buatan anak didiknya.
Meski proses pengajaran penuh tantangan karena harus menggunakan pendekatan visual dan bahasa sederhana alih-alih komunikasi verbal, Kamtono yakin potensi Batik Sesampat sangat besar, bahkan untuk menembus pasar internasional.
Lebih dari sekadar keterampilan, Batik Sesampat adalah jalan nyata menuju kemandirian ekonomi.
"Dari hasil yang kira-kira anak itu mempunyai potensi, itu yang akan dibimbing sampai tamat nanti, sampai dia mampu untuk berkarya sendiri," ucap Kamtono.
Di momen Hari Batik Nasional, Kamtono berharap Batik Sesampat dapat semakin dikenal luas. Karya ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan bersaing di pasar yang lebih besar, menjadikan Batik Sesampat sebagai simbol inspiratif kemandirian NTB. (SANCHIA VANEKA, Mataram/r9)
Editor : Pujo Nugroho