LombokPost – Pagi di Puskesmas Karang Pule tampak berbeda.
Ruang pemeriksaan yang biasanya diisi tenaga kesehatan umum kini diwarnai kehadiran dokter spesialis anak.
Satu per satu balita diperiksa, berat badan ditimbang, tinggi badan diukur, dan catatan pertumbuhan diisi dengan teliti.
“Program ini kita laksanakan untuk menjadi strategi penanganan stunting,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, Selasa (4/11).
Langkah ini bagian dari strategi baru Dinas Kesehatan dalam mempercepat penanganan stunting dan gizi buruk.
Langkah menurunkan dokter spesialis langsung ke puskesmas agar kasus gangguan pertumbuhan bisa ditangani sejak dini. Menurut dr. Emirald, kehadiran dokter spesialis di tingkat puskesmas bukan hanya soal memperluas layanan, tapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan milik pemerintah.
“Juga untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat pelayanan kesehatan di puskesmas tetap kita maksimalkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dokter spesialis anak memiliki peran penting mendeteksi dini gangguan tumbuh kembang, menilai kondisi gizi, serta melakukan pendampingan kepada tenaga kesehatan puskesmas. “Program pendampingan dokter spesialis anak yang membantu upaya penyembuhan balita, mengatasi gangguan pertumbuhan bayi, dan memperkuat strategi penanganan stunting,” paparnya.
Pendekatan ini, kata dia, tidak hanya bersifat kuratif tetapi juga edukatif dan preventif. Pemeriksaan balita selalu dibarengi dengan edukasi kepada para ibu mengenai pola makan, ASI eksklusif, dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Kegiatan di Puskesmas Karang Pule menjadi contoh nyata penerapan kolaborasi itu. Dokter spesialis bekerja berdampingan dengan petugas puskesmas, memberi arahan langsung dalam pemeriksaan.
“Kami tidak hanya memeriksa, tapi juga memastikan tenaga puskesmas memahami indikator pertumbuhan anak agar bisa menindaklanjuti secara berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi petugas puskesmas, kegiatan ini juga menjadi ruang peningkatan kapasitas. Mereka mencatat data, menilai tanda-tanda malnutrisi, dan gangguan perkembangan anak.
Selain dokter spesialis anak, Dinkes juga mulai menghadirkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn). Tujuannya, menekan angka kematian ibu dan bayi serta memastikan kesehatan janin sejak masa kehamilan.
“Ke depan, kami sedang menyiapkan agar lebih banyak jenis spesialis yang akan memberikan pelayanan di puskesmas, secara bergantian sesuai jadwal,” tambahnya.
Program ini, lanjut dr. Emirald, akan diperluas ke puskesmas lain. Dinkes juga tengah memetakan wilayah dengan risiko stunting tinggi untuk dijadikan fokus pendampingan berikutnya.
Bagi dr. Emirald, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi dari kepercayaan masyarakat yang kembali tumbuh terhadap layanan kesehatan dasar. “Kita ingin semua anak Mataram tumbuh sehat, cerdas, dan kuat, karena merekalah masa depan kota ini,” tegasnya. (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho