LombokPost – Pelayanan kesehatan di Kota Mataram kian lengkap. Setelah Puskesmas Tanjung Karang menjadi pelopor, kini giliran Puskesmas Cakranegara resmi membuka layanan fisioterapi sejak 27 Oktober 2025. Kehadirannya menjadikan Cakranegara sebagai puskesmas kedua di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyediakan fasilitas rehabilitasi fungsional tingkat dasar.
Kepala Puskesmas Cakranegara Zaroan Supriadi, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan animo masyarakat langsung meningkat sejak layanan dibuka. “Setiap hari rata-rata ada 7 sampai 8 pasien. Kebanyakan lansia dengan keluhan nyeri pinggang, kesulitan berjalan, atau pascastroke,” ujarnya, Jumat (7/11).
Dalam sepuluh hari pertama, tercatat 73 pasien telah menjalani terapi. Zaroan menyebut fasilitas ruang fisioterapi di puskesmas ini sudah setara dengan layanan di rumah sakit tipe dasar. “Kami punya alat inframerah, exercise, dan pens (electrotherapy) untuk membantu pemulihan pasien,” jelasnya.
Setiap pasien akan diperiksa oleh dokter sebelum diarahkan ke fisioterapis untuk menentukan tindakan yang tepat. “Kami memastikan penanganan tetap aman dan sesuai kebutuhan pasien,” tambahnya.
Pihak puskesmas juga aktif melakukan sosialisasi melalui kader kesehatan dan lurah setempat agar masyarakat tahu bahwa layanan fisioterapi di Cakranegara gratis bagi peserta BPJS yang terdaftar di fasilitas ini. “Kami sudah sampaikan lewat musyawarah kelurahan dan posyandu,” katanya.
Kehadiran layanan ini menjadi bagian dari program Dinas Kesehatan Kota Mataram dalam memperluas jangkauan rehabilitasi di tingkat dasar. Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, MARS., MH., CMC., FISQua, menyebut langkah ini memperkuat sistem layanan berjenjang. “Mulai 27 Oktober lalu, Cakranegara resmi menyusul Tanjung Karang. Ini bukti komitmen memperluas akses layanan rehabilitasi masyarakat,” ujarnya.
Emirald menambahkan, target ke depan adalah seluruh puskesmas di Kota Mataram sudah memiliki layanan fisioterapi pada tahun 2026. “Masyarakat tak perlu antre panjang di rumah sakit, cukup datang ke puskesmas terdekat untuk terapi ringan,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran layanan ini juga membantu masyarakat menghemat biaya. “Kalau di rumah sakit bisa ratusan ribu per sesi, di puskesmas gratis untuk peserta BPJS,” katanya.
Ia berharap camat, lurah, dan kader kesehatan terus menyebarluaskan informasi agar layanan ini dimanfaatkan optimal.
“Kita ingin semua warga tahu bahwa layanan ini sudah tersedia di lingkungan mereka sendiri,” tutup Emirald.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin