LombokPost – Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik menegaskan bahwa Hari Pahlawan tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan. Ia menilai momen 10 November harus menjadi alarm moral, terutama bagi para pemimpin daerah.
Menurut Malik, tantangan generasi hari ini tidak lagi berupa penjajahan fisik, tetapi ancaman internal seperti kemalasan, korupsi, dan ketidakpedulian. Ia menyampaikan hal itu usai menyerahkan bingkisan kepada para veteran yang hadir dalam upacara.
“Kita tidak lagi berperang dengan senjata,” ujarnya membuka pesannya kepada para peserta upacara. Ia menekankan bahwa pertempuran hari ini menuntut karakter kuat. “Tapi dengan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab,” tambahnya.
Malik mengatakan, kehadiran para veteran mengingatkan kemerdekaan tidak pernah datang secara cuma-cuma. Ia menilai peringatan Hari Pahlawan wajib ditempatkan sebagai ruang evaluasi diri, bukan rutinitas simbolik.
“Setiap pahlawan adalah kisah pengorbanan,” katanya.
Ia juga mendorong penguatan pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya menjaga nasionalisme anak muda. “Agar semangat kebangsaan tak pudar di tengah arus globalisasi,” tekannya.
Malik menyebut DPRD bersama pemerintah kota akan terus memperjuangkan program yang menyentuh kesejahteraan veteran dan keluarga pahlawan. Upaya tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa mereka.
“Veteran adalah penjaga moral bangsa,” ujarnya mengingatkan kembali arti kehadiran para pejuang.
Dalam pandangannya, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja dengan irama yang sama untuk mendorong pembangunan kota. Ia menyampaikan semangat kepahlawanan harus hadir dalam setiap keputusan dan tindakan.
“Pahlawan dulu berjuang mempertahankan negeri, kini giliran kita berjuang memperbaiki negeri,” tegasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin