Air Genangi Halaman, Empat Ruang Terdampak Api, 298 Siswa Belajar di Rumah
Belum usai genangan air kiriman yang menutupi halaman sekolah selama beberapa hari hujan
mengguyur Mataram, SDN 43 Ampenan kembali diterpa musibah pada Senin pagi. Api kecil
berkobar di bagian atap empat ruang vital sekolah, memaksa 298 murid untuk belajar dari
rumah.
SANCHIA VANEKA, Mataram
SDN 43 Ampenan, yang terletak di hilir Kota dan dekat dengan sungai, seolah tak luput dari
cobaan cuaca. Halaman sekolah sudah beberapa hari terakhir menjadi kolam dadakan akibat luapan air kiriman dari sungai di depan sekolah.
Pemandangan ini terekam jelas dalam video yang beredar, air setinggi betis orang dewasa dan separuh paha anak-anak SD menutupi seluruh halaman. Beberapa guru berpegangan tangan untuk menghindari terpeleset di air keruh.
“Kalau banjir ini memang kiriman ya, karena sungai di depan sekolah agak tinggi. Jadi airnya
ada masuk ke halaman,” jelas Kepala Sekolah SDN 43 Ampenan Sri Purmianti, kemarin (2/12).
Ia menambahkan, kondisi ini akan surut begitu air sungai turun. Namun, di tengah kondisi basah dan berair ini, musibah kedua justru datang dari atas.
Sekitar pukul 07.30 Wita, saat siswa seharusnya bersiap memulai KBM, perhatian masyarakat sekitar tersita pada satu titik di atas bangunan sekolah. Seorang warga yang baru pulang dari masjid melihat adanya nyala api kecil di atap.
“Tadi pagi ada masyarakat yang baru pulang dari masjid lalu melihat ada semacam api, ya, kecil nyala di atas atap sekolah kami,” ucapnya.
Warga lantas saling memberi informasi, hubungan masyarakat langsung terjalin untuk
melakukan pemadaman darurat. Kesigapan ini menjadi kunci penyelamat utama. Api berhasil
dijinakkan sebelum menjalar luas.
Bukan hanya satu ruangan, api ternyata merusak bagian atap atau kayu-kayu bangunan di empat area penting sekolah. Seperti di atas ruang kelas 6, di atas ruang guru, di atas ruang Kepala Sekolah, dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Jadi yang kebakar itu atas ya, atap di atas empat ruang itu,” tegasnya.
Meskipun api membakar bagian atap, Kepala Sekolah memastikan berkas-berkas penting di
bawah plafon berhasil diselamatkan. Kerusakan yang terjadi di bawah atap lebih disebabkan oleh panasnya api.
“Bagian bawah kita aman-aman juga. Ada beberapa lah barang yang kebakar. Kebakar karena panas, kursi di ruang kelas, kemudian apa ya. Kalau berkas-berkas yang penting nggak ada sih, karena api dari atas jadi panasnya ke bawah, itu yang berpengaruh terhadap kertas-kertas,”
jelasnya.
Untuk menjamin keselamatan dan memberi waktu bagi pembersihan total dan perbaikan, pihak sekolah langsung mengambil kebijakan meliburkan siswa. Total 298 siswa dari 10 rombongan belajar (rombel) di SDN 43 Ampenan diminta untuk belajar dari rumah.
“Untuk siswa hari ini kita kondisikan belajar di rumah. Semoga cepat ya, setelah ini nanti saya
berusaha rapat dengan teman-teman guru untuk bisa kita kondisikan anak-anak bagaimana
belajar di rumah,” ujarnya.
Keputusan meliburkan ratusan siswa ini menjadi krusial, mengingat agenda penting di depan mata. Ulangan tengah semester dijadwalkan akan dilaksanakan minggu depan. Kondisi ini memaksa pihak sekolah harus bekerja ekstra keras agar kegiatan belajar tidak terganggu dalam jangka waktu lama.
Sri berharap agar seluruh proses pemulihan dapat berjalan cepat.
“Harapannya sih semuanya cepat pulih lagi ya. Kita berusaha mengkondisikan, karena anak-
anak kan mau ulangan ini minggu depan. Kita kondisikan supaya anak-anak bisa sekolah lagi
dan belajar ulangan sesuai dengan harapan kita bersama,” pungkasnya.
Pihak sekolah kini tengah berupaya memaksimal pengaturan waktu dan ruang kelas yang tersisa untuk memastikan KBM tetap berjalan.
Sementara itu, bantuan dan doa dari semua pihak diharapkan agar SDN 43 Ampenan dapat segera bangkit dari musibah ganda, banjir dan api, yang menyergap mereka di awal pekan ini.
Editor : Siti Aeny Maryam