Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

9.800 Transaksi QRIS! Konyu Caturwarga Jadi Jawara NTB, Pengusaha Lain Patut Belajar

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 11 Desember 2025 | 08:51 WIB

Reza Reynaldi
Reza Reynaldi

LombokPost
 — Nama Reza Renaldy mungkin belum begitu dikenal publik luas. Namun brand yang ia bangun, Konyu, justru menjadi salah satu pelaku usaha paling menonjol dalam gelombang digitalisasi pembayaran di NTB.

Dalam beberapa bulan terakhir, outlet Konyu di Jalan Caturwarga mencatat 9.800 transaksi QRIS, menjadikannya merchant dengan transaksi tertinggi yang digagas Bank NTB Syariah.

“Yang tadi itu transaksinya untuk Konyu outlet. Sekitar 9.800 transaksi dalam lima bulan,” kata Reza saat ditemui usai pemberian penghargaan, Kamis (11/12).

Konyu sendiri merupakan coffee & working space yang mengutamakan kenyamanan bagi pekerja, pelajar, hingga tim meeting kecil. “Produk kita kopi, makanan, minuman. Ada meeting room dan event kecil juga. Market kita bukan umur, tapi habit,” ujar Reza menjelaskan konsep usahanya.

Yang membuat Konyu bertahan selama empat tahun terakhir bukan sekadar efisiensi digital, melainkan kecepatan masuknya uang dari setiap transaksi.

“Bagusnya NTBS dibanding (bank) yang nasional itu real timenya. Langsung masuk setelah di-scan. Itu sangat membantu cashflow usaha,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan beberapa bank nasional yang disebutnya kerap mengalami delay. “Yang lain ada yang masuknya beberapa jam, kalau misalnya ada miss transaksi, kita bisa langsung track. Customer juga aman,” katanya.

Di Konyu, pola pembayaran pelanggan telah bergeser. Transaksi non-tunai QRIS dan debit sudah jauh lebih besar dibanding tunai. “Kita malah ada rencana pengen cashless total. Karena lebih aman, lebih cepat, dan mengurangi human error. Pengembalian uang tunai kan ribet, apalagi nominal kita variatif,” kata Reza.

Selain mengurangi risiko kesalahan kasir, QRIS juga melindungi Konyu dari peredaran uang palsu. “Sekarang uang palsu makin bagus. Tim pernah kena. Dengan QRIS, risiko itu hilang,” ucapnya.

Ketika ditanya soal potongan biaya transaksi, Reza mengaku hal itu bukan kendala besar. “Kalau NTBS kemarin tidak ada potongan. Ada 0,3 persen kalau transaksi tertentu, itu administrasi. Tapi sudah kita masukin ke biaya operasional,” katanya.

Rata-rata transaksi di Konyu berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per transaksi.

Terkait kebijakan Pemkot Mataram yang mendorong ASN membeli di pasar dan UMKM menggunakan KRIS, Reza menyebut langkah itu berefek positif meskipun beberapa orang tua masih perlu adaptasi. “Untuk orang-orang tua mungkin awalnya ribet ya. Tapi dari sisi bisnis, ini sangat membantu,” ujarnya.

Baca Juga: Mulai Desember, Bayar Layanan Puskesmas di Mataram Cukup Scan QRIS!

Langkah ini, menurutnya, sejalan dengan upaya transformasi pasar agar semakin aman, bersih, dan efisien dalam transaksi. “Pedagang terbantu, pembeli juga nyaman,” ucapnya.

Meski dikenal sebagai kedai kopi, Reza mengungkapkan bahwa Konyu kini berkembang menjadi grup yang juga bergerak di konsultan dan manajemen sistem. Namun transaksi yang berhasil mencatat 9.800 kali itu sepenuhnya berasal dari outlet utama Konyu.

“Yang dihitung itu transaksi di outlet Caturwarga,” katanya.

Dengan dukungan sistem pembayaran digital yang stabil, cepat, dan aman, Reza optimistis sektor UMKM, termasuk bisnis FnB seperti Konyu, akan semakin adaptif.

“QRIS ini udah jadi habit masyarakat. Dan untuk usaha, ini ngebantu banget,” pungkasnya.

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Konyu #UMKM digital #cashflow #NTB Syariah #QRIS