Dari UKM Kampus ke Gerakan Ekonomi Kreatif
Berawal dari sekumpulan mahasiswa IT yang haus akan sinema di kampus Mataram, Yayasan Lombok Inspira kini bertransformasi menjadi motor penggerak industri film lokal, sukses membawa Festival Film Samgkareang sebagai panggung apresiasi sekaligus ajang pengembangan kualitas sineas NTB. Dengan fokus pada edukasi dan eksibisi, Lombok Inspira optimis menjadikan film sebagai salah satu sektor unggulan penguatan ekonomi kreatif di Kota Mataram, menyeimbangkan antara produksi dan apresiasi karya di tengah meningkatnya submission film lokal.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Ketika sektor kuliner, kriya, dan fashion menjadi tulang punggung utama ekonomi kreatif Kota Mataram, Yayasan Lombok Inspira muncul dengan ambisi yang berbeda, menjadikan film sebagai leading sektor baru.
Didirikan oleh sekelompok mahasiswa yang memiliki kecintaan mendalam pada sinema, yayasan ini kini menjadi harapan bagi para pembuat film lokal untuk mendapatkan panggung dan apresiasi yang layak.
Lombok Inspira, saat ini menaungi hajatan akbar Festival Film Sangkareang bermula dari sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
”Kami dulu bermula dari sekumpulan mahasiswa di salah satu kampus swasta di Mataram, punya UKM namanya Multimedia Art Community,” kata Budi Triono, Ketua Yayasan Lombok Inspira, saat ditemui, Jumat (12/12).
Baca Juga: Wali Kota: Teknologi Demokratisasi Film! Anak NTB Kini Bisa Bikin Karya Besar dari Hal Kecil
Meskipun berlatar belakang jurusan IT, khususnya multimedia, Budi dan rekan-rekannya konsisten menggarap isu perfilman. Sejak tahun 2010, mereka sudah menginisiasi kegiatan perfilman, termasuk menggelar workshop dan kompetisi film se-NTB.
”Kami keliling dari Bima, Dompu, Sumbawa untuk mengadakan workshop film sekaligus kompetisi film tingkat pelajar,” kenangnya.
Namun, seperti organisasi mahasiswa pada umumnya, rotasi kepengurusan sempat membuat kegiatan ini vakum. Barulah tahun ini, semangat itu dihidupkan kembali dengan bertransformasinya komunitas tersebut menjadi sebuah yayasan resmi, Lombok Inspira.
Lombok Inspira mengambil posisi unik dalam ekosistem film lokal. Sebagai yayasan, mereka memilih untuk tidak menjadi production house (PH) yang memproduksi film. Sebaliknya, mereka fokus pada empat pilar utama: apresiasi, workshop, edukasi, dan eksibisi.
”Kami tidak memproduksi film secara yayasan. Kami punya brand tersendiri untuk memproduksi, tapi kalau di yayasan sendiri kami tidak memproduksi film,” jelasnya.
Fokus ini lahir dari kesadaran apresiasi seringkali menjadi mata rantai yang hilang dalam pergerakan film.
“Orang pada bikin film. Siapa yang mau mengapresiasi? Siapa yang bisa membawa film-film ini bertemu dengan lebih banyak penonton?"
Baca Juga: 2 Hari Nonton Gratis Plus Malam Anugerah Megah: Festival Film Sangkareang 2025 Datang dan Ramaikan!
Sejak 2010, melalui berbagai brand festival yang mereka kelola mulai dari Lombok Indie Film Festival 2010-2013 hingga yang terbaru Festival Film Samgkareang sejak 2014 kini memasuki tahun kedua, mereka secara konsisten memberikan panggung.
Kini, gerakan mereka menyasar visi yang lebih besar, menjadikan film sebagai salah satu dari 17 subsektor Industri Kreatif yang harus dikembangkan di daerah
Dalam dua tahun terakhir, optimisme Budi bukan tanpa dasar. Ia melihat adanya peningkatan signifikan dalam partisipasi sineas lokal.
”Kalau berbicara potensi, tentu masih terlalu prematur, melihat industri ini masih baru akan berkembang. Tapi kami cukup optimis dengan melihat submission kita di dua tahun terakhir itu meningkat hampir 100 persen,” tegasnya.
Pada tahun 2024, Festival Film Sangkareang hanya mengumpulkan sekitar 15 film kompetisi. Namun, di tahun 2025, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 50 film.
”Artinya pertumbuhan filmnya jauh meningkat. Berbicara soal kualitas, baik itu estetika dan teknik, tentu itu hal lain. Itulah sebabnya kenapa kami mendorong pergerakan bersama-sama Pentahelix untuk menaikkan kualitasnya sekarang,” katanya.
Peningkatan ini menandakan adanya bibit-bibit potensi yang perlu dipupuk, terutama mengingat banyak film lokal NTB yang sudah wara-wiri di festival-festival luar negeri seperti di Belanda dan Jepang, namun sayangnya, tidak banyak diketahui oleh masyarakat Lombok sendiri.
”Itu sebabnya kami di Lombok Inspira berinisiatif, bagaimana film-film itu lebih dikenal oleh paling tidak kita tuan rumah di rumah sendiri,” ucapnya.
Berkat konsistensi ini, Festival Film Sang Karyang kini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Kota Mataram. Lebih menariknya lagi, latar belakang IT Budi dan kawan-kawan di Universitas Bumi Gora Mataram kini turut membuka jalan.
”Sekarang Bumi Gora akhirnya membuka jurusan DKV untuk pertama kalinya. Jadi sekarang sudah ada universitas di Pulau Lombok yang membuka jurusan DKV satu-satunya di Bumi Gora,” terangnya.
Editor : Siti Aeny Maryam