Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sehari Semalam di Pasar Seni, Keris Jadi Media Edukasi dan Ekonomi Budaya

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 23 Desember 2025 | 11:02 WIB
Para pecinta keris dari berbagai perwkailan paguyuban tengah berbincang santai di sela acara Tenten Sejelo Sekelem di Pasar Seni Sayang-sayang, Minggu (21/12).
Para pecinta keris dari berbagai perwkailan paguyuban tengah berbincang santai di sela acara Tenten Sejelo Sekelem di Pasar Seni Sayang-sayang, Minggu (21/12).

LombokPost – Paguyuban Selaparang Mandalika Keris menggelar kegiatan “Tenten Sejelo Sekelem” di Pasar Seni Sayang-Sayang, Minggu (21/12). Kegiatan ini memadukan aksi donor darah dengan aktivitas budaya perkerisan sebagai upaya menghidupkan kembali ruang seni sekaligus memperkuat jejaring komunitas budaya.

Ketua Panitia kegiatan Habibi, menjelaskan Tenten Sejelo Sekelem merupakan program jangka pendek kepengurusan baru yang dirancang tidak hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga sebagai gerakan sosial kemasyarakatan.

“Sebagai komunitas budaya, kami merasa perlu hadir langsung di tengah masyarakat. Donor darah ini adalah bagian dari kontribusi sosial kami,” ujarnya.

Aksi donor darah dilaksanakan melalui kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan telah disosialisasikan beberapa hari sebelumnya kepada jejaring komunitas serta penghubung agar partisipasi masyarakat dapat berjalan optimal.

Menurut Habibi, kegiatan sosial tersebut juga menjadi pintu masuk bagi agenda yang lebih luas ke depan, terutama penguatan peran komunitas sebagai ruang edukasi budaya.

“Ke depan kami ingin mendorong edukasi perkerisan, termasuk masuk ke sekolah-sekolah,” terangnya.

Selain donor darah, Tenten Sejelo Sekelem juga dirancang sebagai pasar singkat sehari-semalam yang melibatkan komunitas perkerisan dan batu mulia dari berbagai daerah di Pulau Lombok. Konsep ini diharapkan mampu menggerakkan UMKM berbasis budaya sekaligus memperkuat interaksi antarkomunitas.

Pemilihan Pasar Seni Sayang-Sayang sebagai lokasi kegiatan disebut sebagai bagian dari ikhtiar menghidupkan kembali ruang seni yang sempat kehilangan denyut aktivitas.

“Kami ingin pasar seni ini kembali ramai seperti dulu. Budaya harus diberi ruang, dan ruang itu perlu dihidupkan dengan kegiatan,” kata Habibi.

Kegiatan berlangsung sejak siang hingga malam hari. Konsep inilah yang melatarbelakangi penggunaan istilah tenten atau peken singkat dalam penamaan acara.

Panitia juga menampilkan pameran pusaka serta menggelar lelang keris sebagai bagian dari edukasi publik. Sejumlah keris dari berbagai kelas nilai dipamerkan untuk memperkenalkan aspek sejarah, budaya, dan ekonomi pusaka kepada masyarakat.

Habibi menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam dunia perkerisan. Menurutnya, keberlanjutan budaya hanya dapat terjaga jika anak muda diberi ruang untuk terlibat secara aktif.

“Ini bukan sekadar pameran. Keris kami tempatkan sebagai medium edukasi, sementara inti kegiatannya adalah pasar singkat, alih rawat, dan pemaharan keris yang lebih terbuka dan komunikatif,” jelasnya.

Dalam lelang keris, panitia menerapkan pendekatan edukatif dengan melibatkan juru taksir. Setiap keris yang dilelang telah melalui proses penilaian sesuai standar panitia.

“Ada klasifikasi nilai, dari middle, high, sampai super high. Dengan skema ini kami ingin membangun perangkat baru dalam ekosistem perkerisan,” tutup Habibi.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#perkerisan #Sayang-sayang #PMI #budaya #Lombok #donor darah #pasar seni