LombokPost — Rencana penerapan full-day school di Kota Mataram mulai mendapat dukungan dari legislatif. Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram Haris Maulana, menilai kebijakan sekolah lima hari yang saat ini tengah diuji coba oleh Dinas Pendidikan Kota Mataram layak diberi ruang dan dukungan, sepanjang masih berada dalam tahap pengkajian dan evaluasi.
Menurut Haris, konsep full-day school yang mengatur kegiatan belajar dari Senin hingga Jumat dengan penambahan jam belajar harian merupakan gagasan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan perkotaan. Dalam skema tersebut, siswa belajar sejak pagi hingga sore hari, sementara hari Sabtu diliburkan.
“Kalau masih tahap uji coba, kenapa tidak kita dukung dulu. Ini ide yang bagus dan sudah diterapkan di kota-kota besar,” kata Haris saat dimintai tanggapan, Selasa (6/1).
Ia menjelaskan, secara prinsip kebijakan ini sebagai upaya meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Dengan waktu kebersamaan yang lebih panjang antara siswa dan guru, aktivitas anak di sekolah dinilai bisa lebih terkontrol dan terarah.
Haris menyebutkan, kebijakan serupa telah diterapkan di sejumlah daerah besar seperti Jakarta dan Surabaya, di mana sistem enam hari sekolah diubah menjadi lima hari, menyerupai pola kerja aparatur sipil negara.
“Tentu jam belajar harian akan bertambah. Mungkin satu sampai dua jam. Yang biasanya pulang jam satu bisa jadi jam tiga atau yang pulang jam dua menjadi jam empat. Tapi itu masih dalam batas wajar selama dikaji dengan baik,” ujarnya.
Selain aspek akademik, Haris menilai full-day school juga berpotensi meningkatkan kualitas kehidupan keluarga. Dengan libur penuh pada Sabtu dan Minggu, anak-anak memiliki waktu lebih panjang bersama orang tua.
“Sabtu dan Minggu bisa benar-benar untuk keluarga. Ini penting untuk kualitas hubungan dalam keluarga,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan kebijakan ini tetap memerlukan pengaturan khusus, terutama pada hari Jumat. Menurutnya, kegiatan belajar pada hari tersebut tidak memungkinkan berlangsung penuh karena adanya kewajiban ibadah.
“Hari Jumat pasti tidak full day (karena siswa harus Jumatan). Harus ada pengaturan waktu agar kegiatan keagamaan tetap terakomodasi,” ujar Haris.
Ia menambahkan, pihaknya juga mencermati perlunya formula pemenuhan jam belajar mingguan agar tetap sesuai dengan ketentuan, tanpa memberatkan siswa. Termasuk di antaranya mengantisipasi benturan jadwal bagi siswa yang mengikuti kegiatan tambahan seperti les atau bimbingan belajar di luar sekolah.
“Soal formula jam belajar, itu nanti dibicarakan. Sekarang ini kan masih uji coba. Kita pantau dulu, kita beri ruang,” katanya.
Haris menyebut, pihaknya terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut dengan Dinas Pendidikan apabila hasil uji coba telah dikumpulkan. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar apakah kebijakan ini layak dilanjutkan atau perlu penyesuaian sebelum ditetapkan secara resmi.
“Kalau nanti hasilnya efektif di beberapa sekolah, baru dilaporkan ke Wali Kota untuk tindak lanjut, apakah dijadikan kebijakan tetap atau tidak,” ujarnya.
Ia juga menilai, kebijakan full-day school bisa memberi dampak ikutan positif, termasuk pengaturan arus lalu lintas saat jam pulang sekolah. Dengan jam pulang yang berbeda dari jam pulang kerja, potensi kemacetan di siang hari dinilai bisa berkurang.
“Ini juga bisa membantu persoalan kemacetan. Jam pulang anak sekolah tidak berbarengan dengan jam pulang kerja,” terang politisi muda partai Golkar ini.
Terkait adanya pro dan kontra di masyarakat, Haris menganggap hal tersebut sebagai hal wajar dalam setiap kebijakan publik. Namun ia menegaskan, selama masih tahap uji coba, pemerintah daerah seharusnya diberi ruang untuk mengkaji secara objektif.
“Pasti ada satu dua yang tidak setuju. Tapi kenapa tidak kita beri kesempatan uji coba dulu. Nanti kekurangannya apa, kita evaluasi bersama,” ujarnya.
Haris menegaskan, pada dasarnya siap mendukung kebijakan pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dan kesejahteraan anak didik, selama dilaksanakan secara terukur dan berpihak pada kepentingan siswa.
“Kuncinya evaluasi. Uji coba dulu, lalu kita nilai bersama,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin