LombokPost – Fenomena gaya hidup konsumtif demi mengejar gengsi kini kian mengkhawatirkan masyarakat luas. Keinginan kuat untuk memiliki barang mewah atau mengikuti tren viral sering kali berakar dari upaya seseorang dalam mencari harga diri dan pengakuan status sosial.
Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) wilayah NTB, Nalurita Palupi, mengungkapkan bahwa secara psikologis, gengsi berkaitan erat dengan bagaimana seseorang ingin dinilai oleh lingkungannya.
"Gengsi itu berhubungan dengan tampilan yang utuh untuk diapresiasi oleh lingkungan. Terkadang kita merasa harga diri kita baik jika ekspektasi sosial bisa kita penuhi," jelas Nalurita.
Nalurita menyoroti pergeseran fungsi benda, seperti ponsel merek tertentu, yang kini berubah dari alat komunikasi menjadi simbol kelas sosial. Hal ini diperparah dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal tren.
Kondisi ini memicu tekanan untuk "naik kelas" secara instan. Sebagian orang bahkan rela berutang atau mencicil barang di luar kemampuan finansialnya hanya agar tidak dianggap rendah atau "cupu" oleh lingkungannya.
Perilaku memamerkan gaya hidup ideal hasil utang ini disebutnya sebagai sebuah prestasi palsu.
Mengejar standar gaya hidup yang tidak ada habisnya dapat memicu dampak negatif bagi kesehatan mental:
* Kecemasan Berlebih: Muncul rasa cemas terus-menerus jika tidak bisa mengunggah konten mewah atau barang baru di media sosial.
* Krisis Kepercayaan Diri: Ketakutan akan dinilai gagal atau tidak sesuai standar lingkungan memicu rasa tidak percaya diri.
* Validasi Semu: Dorongan mencari validasi luar muncul karena seseorang tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari keluarga atau lingkungan terdekat.
Fenomena ini ternyata tidak hanya menyerang Gen Z, tetapi juga generasi milenial, meskipun objek gengsinya berbeda, seperti rumah atau mobil.
Agar tidak terjebak dalam budaya gengsi yang merusak, Ketua Himpsi NTB membagikan empat langkah antisipasi:
* Fokus pada Substansi dan Fungsi: Sebelum membeli, tanyakan manfaat barang tersebut dan dampak negatif jika tidak membelinya.
* Jangan Memaksakan Cicilan: Hindari mencicil barang jika hal tersebut mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok.
* Filter Konten Media Sosial: Lewati (skip) konten yang memamerkan kemewahan jika merasa belum mampu membendung rasa iri atau keinginan impulsif.
* Bangun Personal Branding yang Kuat: Fokus pada prestasi dan karakter diri. Jika harga diri sudah kuat, orang lain akan menghargai tanpa perlu memakai barang mahal.
"Kita tidak perlu ikut-ikutan viral. Jika kita bisa membangun harga diri dari prestasi, kita tidak lagi butuh pengakuan semu dari orang lain," pungkas Nalurita.